Belajar dari "Kiamat Kecil" di Bandung

Indonesian Language and Literature Education Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Riska Malasari Siregar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jangan ngeluh macet kalau masih ogah naik angkutan mmum.
Ketika kamu terbangun di pagi hari, melihat cuaca agak mendung, lalu membatin, "Hari ini bawa mobil saja, mumpung ingin santai dan tidak mau kehujanan." Pikiran seperti itu tentu sangat manusiawi.
Namun, pernahkah kamu membayangkan apa yang akan terjadi jika pikiran tersebut muncul di kepala seluruh warga kota pada hari dan jam yang sama?
Skenario yang terdengar konyol sekaligus mengerikan itu diangkat Djoko Subinarto dalam cerpen digitalnya, Bandung Apokaliptik. Cerita ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga menyampaikan kritik sosial yang dikemas melalui humor dan satire. Di balik cerpen ini, pembaca diajak melihat bagaimana kebiasaan sehari-hari dapat berubah menjadi persoalan bersama ketika dilakukan tanpa memikirkan kepentingan orang lain.
Cerita berlatar di Kota Bandung pada suatu pagi yang tampak biasa. Tanpa komando ataupun kesepakatan, garasi garasi rumah dari Dago, Cicadas, hingga Ciumbuleuit terbuka hampir bersamaan. Alasan setiap orang pun terdengar masuk akal, ingin lebih nyaman, "Sebuah keinginan kecil yang terasa lumrah. Namun, bila dilakukan serempak, bakal berubah menjadi petaka." menghindari hujan, merasa berangkat lebih pagi akan terbebas dari macet, atau sekadar ingin menggunakan kendaraan pribadinya.
Seorang ibu memilih membawa mobil agar keluarganya lebih nyaman. Seorang manajer dengan mobil mewahnya yakin dapat menghindari kemacetan karena berangkat sejak pagi. Bahkan, seorang tukang bubur ikut membawa mobil bak miliknya karena ingin merasakan pengalaman berbeda saat berjualan. Pilihan yang tampak sederhana itu akhirnya bertemu pada waktu yang sama dan menghasilkan satu akibat Bandung lumpuh total.
Jalan jalan utama berubah menjadi lautan kendaraan yang tidak bisa bergerak. Kota seolah berhenti bernafas dan menjelma menjadi parkiran raksasa.
Di tengah kemacetan ekstrem tersebut, berbagai peristiwa absurd bermunculan. Seorang mahasiswa kedokteran yang panik karena ujian praktik akhirnya meninggalkan mobilnya di tengah jalan dan berlari menuju kampus. Di kawasan Diponegoro, seorang ibu muda harus menghadapi proses persalinan di dalam mobil karena ambulans tidak mampu menembus kemacetan. Para pengemudi ojek daring dan sopir taksi pun berinisiatif membantu dengan memanfaatkan panduan dari internet.
Suara sirene hanya menjadi penanda keputusasaan. Tak ada yang bisa menepi, semua terjepit.
Di sisi lain, seorang anak kecil justru menikmati situasi itu. Ia turun dari mobil dan bermain sepeda roda tiga di sela-sela kendaraan yang berhenti. Bagi orang dewasa, kemacetan adalah bencana. Namun, bagi anak tersebut, jalan raya berubah menjadi taman bermain yang luas.
Keabsurdan cerita mencapai puncaknya ketika muncul kabar bahwa Bandung sedang dijadikan lokasi syuting film bertema apokaliptik. Rumor itu semakin dipercaya ketika sebuah helikopter menurunkan nasi bungkus kepada para pengendara yang terjebak berjam-jam di jalan. Satire ini terasa menohok karena menggambarkan kecenderungan masyarakat yang sering kali memilih menertawakan persoalan yang sebenarnya mereka ciptakan sendiri.
Melalui rangkaian peristiwa tersebut, Djoko Subinarto menunjukkan bahwa kemacetan bukan semata-mata persoalan infrastruktur atau kebijakan pemerintah. Hal tersebut diperkuat melalui kalimat penutup cerpen, "Warga pun akhirnya menyadari bahwa ini bukan syuting flim apokaliptik, melainkan mereka sendirilah yang tanpa sadar merancang drama paling konyol"
Persoalan itu juga lahir dari keputusan keputusan kecil yang diambil setiap individu. Ketika semua orang mengutamakan kenyamanan pribadi secara bersamaan, ruang publik menjadi korban.
Membaca Bandung Apokaliptik terasa seperti bercermin pada kehidupan masyarakat perkotaan saat ini. Kita sering mengeluhkan kemacetan, polusi, dan buruknya tata lalu lintas. Akan tetapi, pada saat yang sama, kita masih enggan menggunakan transportasi umum dan tetap memilih kendaraan pribadi sebagai solusi paling nyaman.
Melalui gaya bahasa yang ringan dan penuh humor, penulis berhasil menyampaikan kritik sosial tanpa menggurui. Pembaca diajak menyadari bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi juga dari pilihan pilihan sederhana yang dilakukan setiap hari.
Jika dikaji menggunakan Teori pengkajian fiksi Burhan Nurgiyantoro, cerpen ini memiliki unsur intrinsik yang saling mendukung. Tokoh tokohnya berasal dari berbagai latar belakang sosial sehingga merepresentasikan kehidupan masyarakat. Kehadiran seorang ibu rumah tangga, manajer, tukang bubur, mahasiswa, hingga pengemudi ojek memperlihatkan bahwa persoalan kemacetan menyentuh semua lapisan masyarakat.
Alur cerita bergerak maju dengan konflik yang terus meningkat. Cerita diawali dari keputusan sederhana warga untuk menggunakan kendaraan pribadi, kemudian berkembang menjadi kemacetan total yang melumpuhkan seluruh aktivitas kota. Klimaks terjadi ketika Bandung benar-benar berhenti bergerak dan berbagai situasi darurat tidak dapat ditangani sebagaimana mestinya. Penyebaran rumor tentang syuting film kiamat menjadi penutup yang ironis sekaligus memperkuat nuansa satir dalam cerita.
Latar Kota Bandung tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlangsungnya peristiwa, tetapi juga menjadi simbol kehidupan perkotaan yang rentan terhadap ledakan jumlah kendaraan pribadi. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi aktivitas berubah menjadi ruang yang memperlihatkan dampak dari egoisme kolektif masyarakat.
Tema utama cerpen ini adalah kritik sosial terhadap kebiasaan menggunakan kendaraan pribadi secara berlebihan. Amanat yang disampaikan pun relevan dengan kondisi perkotaan saat ini mengurangi kemacetan tidak cukup hanya dengan mengeluh atau menunggu kebijakan pemerintah. Kesadaran setiap individu untuk menggunakan transportasi umum ketika memungkinkan juga menjadi bagian dari solusi.
Pada akhirnya, Bandung Apokaliptik mengingatkan bahwa persoalan kota tidak selalu lahir dari keputusan besar, melainkan dari pilihan pilihan kecil yang dilakukan banyak orang secara bersamaan. Cerpen ini berhasil mengemas kritik sosial dalam cerita yang menghibur, sehingga pembaca tidak hanya menikmati alurnya, tetapi juga diajak merefleksikan kebiasaan mereka sendiri. Mungkin sebelum kembali mengeluhkan macet esok pagi, kita perlu bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah menjadi bagian dari solusi, atau justru masih ikut menambah persoalan?
Daftar Pustaka
Nurgiyantoro, Burhan. (2018). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Subinarto, Djoko. (2026). Bandung Apokaliptik. Jakarta: Kompas Digital.
