Konten dari Pengguna

Curug Cibeureum: Caraku Berdamai dengan Riuh di Kepala

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riska Malasari Siregar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Curug Cibeureum bukan sekadar wisata alam yang menawarkan pemandangan air terjun dan hijaunya pepohonan. Buatku, tempat yang berada di kawasan Cibodas, Cianjur, ini justru menjadi bagian dari sebuah perjalanan untuk mencari sedikit ketenangan di tengah kepala yang sedang ramai.

Ada kalanya aku merasa terlalu banyak hal yang memenuhi pikiran. Daripada terus memikirkannya, aku memilih pergi. Bukan untuk melarikan diri dari masalah, tetapi untuk memberi diri sendiri kesempatan berhenti sebentar. Karena terkadang, kepala yang terlalu penuh tidak selalu membutuhkan jawaban. Ia hanya butuh ruang.

Perjalanan menuju tempat ini bukan perjalanan yang bisa dibilang mudah. Ada langkah yang cukup panjang, jalan yang melelahkan, dan beberapa kali keinginan untuk berhenti. Namun, semakin jauh berjalan, suara air mulai terdengar dari kejauhan. Samar-samar, lalu semakin jelas.

Saat itulah rasa lelah seperti punya alasan untuk ditahan.

Sumber: Dokumentasi Pribadi, Area Cibodas, 17 Agustus 2026

Sampai akhirnya, aku melihat air terjun di depan mata. Air jatuh deras dari tebing yang dikelilingi pepohonan hijau. Percikannya terbawa angin dan sesekali membentuk pelangi kecil di antara aliran air.

Aku berdiri cukup lama di sana. Rasanya sayang kalau pemandangan seperti itu hanya dilewati begitu saja.

Aku pun mengambil foto. Bukan sekadar untuk menunjukkan bahwa aku pernah sampai di sana, tetapi karena aku ingin menyimpan suasananya. Ada hal-hal yang mungkin tidak bisa kita bawa pulang secara utuh, tetapi setidaknya bisa kita simpan dalam sebuah gambar dan ingatan.

Dan ternyata, perjalanan itu tidak hanya membawaku pada satu air terjun.

Ada tiga curug yang menjadi bagian dari perjalanan ini, yaitu Curug Cibeureum, Curug Cidendeng, dan Curug Cikundul.

Masing-masing punya suasananya sendiri.

Sumber: Dokumentasi Pribadi, Area Cibodas, 17 Agustus 2026

Curug Cibeureum menjadi salah satu pemandangan yang paling membekas bagiku. Airnya jatuh dari tebing yang tinggi, sementara pepohonan tumbuh rimbun di sekitarnya. Suara air yang deras berpadu dengan suasana alam yang masih begitu hijau.

Di tempat seperti ini, aku merasa dunia berjalan sedikit lebih pelan.

Tidak ada suara kendaraan yang memenuhi kepala. Tidak ada notifikasi yang harus segera dibalas. Yang terdengar hanya air, angin, dan langkah orang-orang yang datang untuk menikmati tempat yang sama.

Kemudian ada Curug Cidendeng.

Suasananya masih dikelilingi pepohonan dan aliran air yang membuat perjalanan terasa semakin dekat dengan alam. Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan, melihat air yang jatuh di antara hijaunya pepohonan seperti mendapatkan jeda kecil yang menyenangkan.

Sumber: Dokumteasi Pribadi, Area Cibodas, 17 Agustus 2026

Lalu ada Curug Cikundul, yang terasa lebih tersembunyi di antara rimbunnya alam. Justru karena tidak langsung terlihat, perjalanan menuju tempat itu terasa seperti menemukan sesuatu yang memang harus dicari.

Dan menurutku, di situlah menariknya perjalanan.

Tidak semua hal indah langsung terlihat di depan mata. Ada yang mengharuskan kita berjalan lebih jauh, melewati rasa lelah, lalu menemukan sesuatu yang membuat perjalanan tadi terasa sepadan.

Mungkin hidup juga tidak jauh berbeda.

Ada masa ketika aku terlalu sibuk memikirkan banyak hal. Tentang sesuatu yang sudah terjadi, tentang hal-hal yang tidak sesuai harapan, bahkan tentang seseorang yang sebenarnya tidak perlu lagi terlalu lama tinggal di kepala.

Aku pernah berpikir bahwa semua itu harus segera mendapatkan jawaban.

Kenapa begini?

Kenapa begitu?

Kenapa seseorang bisa berubah?

Namun, semakin lama aku memikirkannya, semakin penuh juga kepala ini. Sampai akhirnya aku sadar, tidak semua pertanyaan harus dijawab.

Tidak semua cerita harus dipaksakan untuk memiliki akhir yang kita inginkan. Dan tidak semua orang yang pernah hadir harus terus kita bawa dalam perjalanan berikutnya.

Sumber: Dokumentasi Pribadi, Area Cibodas, 17 Agustus 2026

Sejak saat itu, aku mulai belajar untuk tidak menjadikan percintaan sebagai pusat dari segala hal. Kalau sedang kecewa atau banyak pikiran, aku lebih suka mencari tahu tempat mana yang belum pernah aku datangi.

Daripada bertanya, “Dia sedang apa, ya?”

Aku lebih suka bertanya, “Setelah ini, aku mau pergi ke mana lagi?”

Sederhana memang.

Tapi buatku, itu salah satu cara untuk kembali melihat bahwa hidup ternyata jauh lebih luas daripada satu masalah yang sedang memenuhi pikiran.

Aku masih bisa berjalan.

Masih bisa tertawa.

Masih bisa mengambil foto.

Masih bisa menemukan tempat baru.

Dan masih punya banyak cerita yang belum selesai.

Karena itu, menurutku healing tidak selalu harus tentang melupakan seseorang. Kadang, healing justru tentang kembali menemukan diri sendiri setelah terlalu lama sibuk memikirkan hal-hal di luar diri kita.

Curug Cibeureum memberiku kesempatan untuk melakukan itu.

Di sana aku tidak menemukan jawaban untuk semua masalah. Aku juga tidak tiba-tiba menjadi orang yang tidak pernah galau. Tetapi setidaknya, aku belajar bahwa ada cara lain untuk menghadapi riuh di kepala.

Pergi.

Berjalan.

Melihat alam.

Menikmati perjalanan.

Lalu membiarkan pikiran beristirahat sebentar.

Di depan air terjun, aku melihat air yang terus mengalir tanpa berhenti. Ia tidak sibuk memikirkan batu yang ada di depannya. Ia hanya mencari jalan dan terus bergerak.

Mungkin kita juga begitu.

Ada hal yang harus dilewati.

Ada kenangan yang cukup disimpan.

Ada seseorang yang cukup pernah menjadi bagian dari cerita.

Dan ada diri sendiri yang harus kembali kita temukan.

Hari itu aku pulang dengan kaki yang lelah, beberapa foto di galeri, dan kepala yang terasa lebih ringan.

Masalahku memang tidak tiba-tiba selesai. Tetapi aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih sederhana: ruang untuk bernapas dan kesempatan untuk menikmati hidup tanpa terus memikirkan apa yang sudah berlalu.

Jadi, kalau suatu hari kamu sedang merasa terlalu ramai dengan isi kepala sendiri, mungkin kamu tidak selalu membutuhkan jawaban.

Mungkin kamu hanya perlu pergi sedikit lebih jauh.

Mencari tempat baru.

Menikmati perjalanan.

Dan membiarkan alam mengingatkanmu bahwa dunia masih jauh lebih luas daripada satu cerita yang belum selesai.

Bagiku, Curug Cibeureum bukan hanya tentang air yang jatuh dari ketinggian. Ia menjadi bagian dari perjalanan ketika aku belajar bahwa berdamai dengan diri sendiri tidak selalu berarti melupakan masa lalu.

Kadang, berdamai berarti memilih untuk tetap berjalan meskipun masa lalu masih sesekali menoleh.

Dan setelah perjalanan itu, aku tahu satu hal:

Masih banyak tempat yang ingin aku datangi.

Masih banyak pemandangan yang ingin aku lihat.

Masih banyak cerita yang ingin aku tulis.

Jadi, daripada terus-terusan galau, lebih baik aku bertanya:

“Setelah ini, kita mau ke mana lagi?”