Konten dari Pengguna

Novel Epos Mahabharata, Drupada yang Sombong dan Ingkar Janji

Riska Nashirotul Aliyah

Riska Nashirotul Aliyah

Nama saya Riska, saat ini saya sedang menempuh pendidikan S1 Sastra Indonesia Universitas Pamulang dan beprofesi sebagai staff administrasi dan keuangan salah satu perusahaan di Tangerang.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riska Nashirotul Aliyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Novel Epos Mahabharata karya Nyoman S. Pendit Bab 13

https://unsplash.com/s/photos/wayang
zoom-in-whitePerbesar
https://unsplash.com/s/photos/wayang

Sikap sombong yang sering kita jumpai adalah ketika seseorang merasa lebih unggul dari orang lain, lebih kaya dari orang lain, lebih pintar dari orang lain atau memiliki kelebihan lainnya maka sifat sombong itu akan muncul entah disadari atau tidak, karena pada dasarnya hakikat manusia ialah selalu memiliki rasa melebihi dari orang lain.

Seperti pada novel Epos Mahabharata karya Nyoman S. Pendit bab 13 menceritakan bahwa Drona adalah putra seorang brahmana bernama Bharadwaja. Setelah selesai mempelajari berbagai kitab Weda dan Wedangga, Drona memusatkan hati dan piki rannya untuk mempelajari seni dan keahlian memperguna kan senjata dan peralatan perang. Karena bakat dan ketekunannya, ia menjadi mahir dalam olah senjata dan menguasai ilmu perang.

Brahmana Bharadwaja berkawan dengan Raja Panchala yang mempunyai putra bernama Drupada. Pangeran ini adalah kawan Drona dalam belajar olah senjata dan ilmu perang. Di antara mereka tumbuh rasa persahabatan yang erat dan mereka saling mengasihi. Semasa masih sama-sama belajar itu, Drupada sering berkata kepada Drona, kelak jika ia naik takhta menjadi raja, setengah kerajaannya akan diberikannya kepada Drona.

Pada saat Raja Panchala wafat dan Drupada dinobatkan sebagai raja menggantikan ayahnya. Ingat akan persahabatannya dan janji Drupada untuk memberinya setengah dari kerajaannya setelah ia naik takhta, pergilah Drona menemui sahabatnya itu. Ia yakin, Drupada pasti akan menyambutnya dengan gembira dan memenuhi janjinya.

Tetapi, sampai di istana Panchala, Drona kecewa karena sambutan Drupada sangat dingin. Raja baru itu tidak peduli padanya dan tampak tidak senang melihatnya. Drupada bahkan berpura-pura tidak kenal, meskipun Drona sudah memperkenalkan diri dan mengingatkannya akan persahabatan mereka. Drupada yang haus kekayaan dan kekuasaan berkata, “Hai brahmana, betapa lancangnya engkau, mengatakan aku ini temanmu. Persahabatan seperti apakah yang ada antara seorang raja dan seorang pengemis pengembara? Kau pasti gila, mengatakan ada persahabatan di masa lalu antara aku, raja kerajaan ini, dengan kau, pengemis miskin. Tak mungkin aku yang kaya raya dan terpelajar bersahabat dengan pengemis miskin yang tak jelas asal usulnya. Persahabatan hanya bisa terjalin di antara mereka yang sederajat.” Setelah berkata demikian, Drupada menyuruh hulubalangnya mengusir Drona.

Dengan perasaan malu dan amarah yang terpendam, Drona meninggalkan istana sahabatnya. Hatinya panas oleh kebencian dan dendam yang membara. Ia bersumpah akan membalas dendam dan menghukum Drupada yang angkuh dengan penghinaan seperti yang telah diterimanya.

Dari cerita di atas dapat kita simpulkan bahwa ketika seseorang haus akan kekayaan dan kekuasaan, maka ia akan lupa dan ingkar kepada janjinya. Relate dengan kehidupan kita sekarang bahwa banyak dari kita ketika sudah memiliki kekayaan dan kekuasaan ia akan berlaku sombong dan lupa dengan ucapan yang ia janjikan.