Konten dari Pengguna

Wanita dari Tulang Rusuk Menjadi Tulang Punggung

Riska Nashirotul Aliyah

Riska Nashirotul Aliyah

Nama saya Riska, saat ini saya sedang menempuh pendidikan S1 Sastra Indonesia Universitas Pamulang dan beprofesi sebagai staff administrasi dan keuangan salah satu perusahaan di Tangerang.

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riska Nashirotul Aliyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://unsplash.com/s/photos/indonesian-woman
zoom-in-whitePerbesar
https://unsplash.com/s/photos/indonesian-woman

Secara anatomi, tulang rusuk merupakan sebuah tulang dengan ukuran yang cukup panjang dan bentuknya melengkung serta membentuk sebuah rongga rusuk yang berfungsi untuk melindungi paru-paru, jantung, hati, dan organ dalam lainnya di rongga dada. Tentu saja kita tidak berbicara mengenai tulang rusuk secara anatomi melainkan berbicara secara perumpamaan, tulang rusuk yang kita bahas adalah seorang wanita atau istri.

Maksud dari tulang punggung sendiri yaitu seseorang yang berusaha untuk dapat menopang ekonomi keluarga dan membiayai seluruh kebutuhan keluarganya. Seharusnya tulang punggung sebuah keluarga adalah seorang laki-laki.

Tulang rusuk menjadi tulang punggung seperti ini sudah sering kita jumpai di zaman sekarang. Di mana banyak wanita bekerja karena tuntutan karier, sebagian karena hobi, dan sebagiannya lagi bekerja karena dipaksa mengambil alih posisi menjadi tulang punggung keluarga.

Hal semacam ini bisa saja menjadi faktor konflik di dalam keluarga, terlebih lagi jika laki-laki yang seharusnya menjadi tulang punggung dan menopang ekonomi menggunakan uangnya semata untuk kesenangan sendiri tanpa memikirkan keluarga, tetapi hal itu tergantung bagaimana mereka menyikapinya. Sebab banyak juga suami yang tetap berusaha bertanggung jawab meski istri adalah tulang punggung keluarga. Di sisi lain, banyak juga wanita yang tetap biasa saja dan tidak menganggap bahwa menjadi tulang punggung adalah suatu beban.

Ketika menjadi seorang wanita dan diberi pilihan tersebut, yang paling bijaksana memang tetap mengutamakan pekerjaan sebagai ibu dan mengesampingkan pekerjaan di luar itu. Untuk wanita yang memilih tetap berkarier dibanding menjadi ibu setiap waktu, pilihan Anda juga tidak salah, menjadi ibu yang bekerja juga menyenangkan dan penuh tantangan!

Keduanya memang memiliki konsekuensinya masing-masing. Yang terpenting kita sebagai wanita bisa memilih dengan bijak dan menjalaninya dengan semangat.