Pintar Saja Tidak Cukup, Anak Muda Harus Tahu Batas

Mhasiswa Unika Santo Thomas
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Riska Trisusi Simamora tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat ini, kita hidup dalam era yang sangat cepat berubah. Generasi muda bergerak dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya — baik dalam bidang teknologi, bisnis, bahkan dalam gerakan sosial. Di usia muda, sudah terdapat individu yang mampu menciptakan aplikasinya sendiri, mendirikan usaha online, bahkan mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi dibandingkan karyawan kantoran. Fenomena ini jelas layak untuk dihargai. Namun, di balik pujian terhadap kepintaran dan kreativitas anak muda, terdapat satu hal yang mulai nampak aneh: ketidakpedulian terhadap etika dan batasan.
Kita sering kali membahas anak muda sebagai aset bagi bangsa, penggerak perubahan, dan harapan masa depan. Namun, jarang ada yang ingin membicarakan sisi lainnya: bagaimana beberapa dari mereka berkembang menjadi individu yang cerdas namun kurang berperilaku baik.
Ini bukanlah tuduhan kepada semua anak muda. Tapi mari kita berterus terang. Kita semua pasti pernah melihat anak muda yang terlalu bebas di media sosial: menyerang orang dengan kata-kata kasar demi 'kejujuran', menciptakan konten prank yang tidak etis demi 'hiburan', atau membagikan privasi orang lain demi 'engagement'. Semua seakan dibenarkan, selama hal itu viral dan banyak orang melihatnya.
Sayangnya, sebagian dari kita juga membiarkan hal tersebut. Kita cenderung lebih terpesona oleh kepandaian teknis, jumlah pengikut, atau gelar akademis, daripada menilai apakah mereka memiliki sikap yang baik. Padahal, yang kita perlukan bukan hanya anak muda yang cepat berpikir, tetapi juga yang paham kapan harus berhenti, kapan harus mendengarkan, dan kapan harus menghormati.
Kepintaran itu penting, tetapi mengetahui batas jauh lebih krusial.
Batas yang saya maksud bukan untuk membatasi kreativitas, melainkan untuk melindunginya agar tidak menyakiti. Etika berfungsi sebagai pagar tak kasat mata yang menjaga kebebasan, bukan merusaknya. Sebab tanpa batasan, kebebasan akan bertransformasi menjadi kekacauan. Tanpa etika, kepintaran hanya akan digunakan untuk manipulasi, bukan untuk membangun.
Saya meyakini bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi yang luar biasa. Namun, potensi tersebut tidak akan membawa kita ke mana-mana jika tidak disertai dengan tanggung jawab. Dan tanggung jawab itu muncul dari kesadaran etika: menyadari bahwa di balik layar, ada orang lain yang juga memiliki perasaan. Setiap kata, setiap tindakan, sekecil apapun, memiliki dampak yang nyata.
Permasalahannya adalah, etika tidak diajarkan di sekolah seperti pelajaran matematika. Etika berkembang dari lingkungan, teladan, dan kesediaan untuk belajar dari kesalahan. Di zaman sekarang — ketika banyak orang berlomba-lomba menjadi yang tercepat, paling vokal, dan paling berbeda — belajar untuk menahan diri adalah langkah yang paling berani.
Anak muda memang harus berani bersuara, tetapi bukan berarti mereka bebas untuk merendahkan orang lain. Mereka perlu tampil percaya diri, tetapi tidak dengan cara menginjak orang lain. Harus kreatif, tetapi jangan sampai menghalalkan segala cara. Karena jika tidak, yang dihasilkan adalah generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi kosong secara emosional.
Pada akhirnya, dunia ini tidak hanya memerlukan orang yang pintar. Dunia ini memerlukan individu yang dapat dipercaya. Dan kepercayaan tidak hanya berasal dari kecerdasan — ia tumbuh dari integritas, empati, dan etika.
Jadi, jika kamu seorang anak muda yang merasa sudah cukup pintar, itu adalah hal yang baik. Namun, jangan berhenti sampai di situ. Tanyakan pada dirimu sendiri: apakah aku sudah mengetahui batasan? Karena di situlah letak kedewasaan yang sesungguhnya.
