Implementasi Kebudayaan Islam sebagai Media Dakwah Walisongo

Seorang mahasiswi sarjana akuntansi di Universitas Brawijaya. Menulis menjadi media yang digunakan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan saya
Tulisan dari Riska Widyawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perkembangan Islam di Nusantara yang Tak Lepas dari Usaha Walisongo untuk Mengakulturasikan Budaya Lokal dengan Syariat Islam

Agama dan budaya merupakan dua hal yang berbeda. Islam merupakan agama yang diturunkan oleh Allah melalui Malaikat Jibril sang pembawa wahyu kemudian diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Sedangkan, budaya merupakan hasil cipta karya manusia. Keduanya memanglah berdiri sendiri. Namun, perlu diingat bahwa antara agama dan budaya bisa saling berhubungan dan dapat menciptakan sebuah kebudayaan baru.
Bukti konkret dari adanya hubungan antara agama Islam dan budaya dapat kita telusuri pada proses penyebaran dan perkembangan agama Islam di Nusantara. Sejak zaman walisongo budaya digunakan sebagai alat atau metode dakwah untuk menyebarluaskan agama Islam. Mengapa walisongo mengombinasikan cara dakwahnya dengan budaya? Jawabannya ialah agar agama Islam lebih mudah dipahami masyarakat lokal karena jika ajaran-ajaran agama dituturkan dengan cara Timur Tengah pastinya ada kesenjangan budaya. Selain itu, wajah Islam menjadi menyenangkan jika diakulturasikan dengan budaya lokal. Oleh sebab itu, para walisongo menggunakan tradisi nilai-nilai budaya warga lokal Nusantara sebagai alat menyampaikan dakwah agama Islam. Hal ini terbukti sangat ampuh dan dibuktikan dalam kurun waktu tidak sampai 50 tahun, walisongo berhasil membuat masyarakat Nusantara pada kala itu yang 90% beragama Hindu-Budha menjadi 90% memeluk agama Islam.
Dalam usaha dakwah penyebaran agama Islam, para walisongo berusaha menyesuaikan diri atau adaptasi dengan kebudayaan masyarakat lokal yang sangat menggemari pertunjukan seni seperti wayang serta musik gamelan. Seperti Sunan Bonang yang dianggap sebagai pencipta gending pertama. Kemudian, seperti halnya Sunan Bonang yang menjadikan gending sebagai media penarik masyarakat, Sunan Drajat juga menciptakan tembang Jawa yang sampai saat ini masih digemari orang Jawa, yakni tembang Pangkur. Kemudian ada lagi Sunan Kalijaga yang paling berjasa dalam penggunaan pendekatan kultural sebagai media dakwah. Sunan Kalijaga begitu berjasa dalam perkembangan wayang purwa ataupun wayang kulit yang bernapaskan Islam dan dapat dinikmati sejak dahulu sampai saat ini. Sunan Kalijaga juga berjasa dalam pengembangan seni suara, seni ukir, seni busana, seni pahat, dan kesusastraan bernapaskan budaya Islam di Nusantara khususnya tanah Jawa.
Perubahan kebiasaan dalam masyarakat juga mendorong perkembangan kebudayaan Islam di Nusantara. Seperti yang diterapkan oleh Sunan Kalijaga. Ketika diadakan pentas pertunjukan wayang, terlebih dahulu Sunan Kalijaga menyampaikan tuturan nasihat keislaman. Kemudian, mereka diajak mengucapkan dua kalimah syahadat. Lagu-lagu yang berasal dari zikir dan salawat biasanya dipertunjukkan dalam kegiatan perayaan, seperti Maulid Nabi, Isra’ Mikraj, atau pernikahan. Pertunjukkan hadrah yang biasanya dipentaskan dalam acara syukuran atas pernikahan, khitanan, kelahiran anak, atau hal-hal yang berkaitan dengan keislaman. Kemudian, warga yang akan menyaksikan perayaan sekaten tidak dipungut biaya sepeser pun. Namun, mereka hanya diminta agar mengucapkan dua kalimat syahadat sebelum masuk ke arena perayaan sekaten (alun-alun kerajaan). Perubahan kebiasaaan masyarakat terakhir yang berdampak pada perkembangan kebudayaan islam ialah ketika anak yang baru lahir, jika laki-laki segera diazankan, sedangkan bayi perempuan diiqomahkan.
Dengan demikian, usaha kreatif walisongo yang menggunakan budaya sebagai alat media dakwah agama Islam terbukti ampuh. Adanya implementasi kebudayaan Islam di Nusantara membuktikan bahwa Islam dan budaya saling berhubungan. Meskipun, pada dasarnya kedua hal itu berbeda. Akulturasi Islam dan budaya melahirkan kebudayaan baru seperti gending, tembang, wayang kulit bernapaskan Islam, lagu-lagu religi, dan tradisi baru.
