Konten dari Pengguna

“Sunyi yang Tak Sepi dalam ‘Dari Rimba Kehidupan’”

Riska Aulia

Riska Aulia

Mahasiswa sastra Indonesia, Universitas Mulawarman

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riska Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hutan yang tampak tenang ini menyimpan suasana sunyi yang tidak sepenuhnya damai, selaras dengan nuansa dalam “Dari Rimba Kehidupan”.Sumber: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Hutan yang tampak tenang ini menyimpan suasana sunyi yang tidak sepenuhnya damai, selaras dengan nuansa dalam “Dari Rimba Kehidupan”.Sumber: Pexels

Kalau dibaca sekilas, puisi Dari Rimba Kehidupan seperti menawarkan ketenangan. Ada hutan, telaga, dan menjangan. Semuanya identik dengan alam yang damai. Tapi rasa itu tidak bertahan lama. Begitu sampai pada larik “ada jerit dari rahim bumi tertahan”, suasananya langsung berubah. Tetap tenang, tapi terasa menekan.

Pilihan kata yang dipakai tidak terasa asal. “Rahim bumi” misalnya, bukan cuma menunjuk alam sebagai sumber kehidupan, tapi juga seperti tempat menyimpan sesuatu yang belum selesai. Begitu juga dengan “api sunyi” dan “lubuk jauhari”. Kata-kata ini tidak menjelaskan secara langsung, tapi justru membuka banyak kemungkinan makna. Diksinya padat, sederhana, tapi dalam.

Struktur lariknya pendek-pendek dan seperti terputus. Tidak ada alur yang benar-benar mengalir. Justru terasa seperti potongan pikiran atau perasaan yang muncul satu per satu. Efeknya, pembaca ikut merasakan kegelisahan yang sama. Tidak nyaman, tapi tetap ingin lanjut membaca.

Majasnya hadir tanpa terasa dipaksakan. “Bisik-bisik musim” dan “jerit yang sunyi” membuat sesuatu yang tidak terlihat jadi terasa dekat. Alam di puisi ini seperti ikut hidup, tapi bukan dalam arti yang hangat. Lebih ke suasana yang diam, tapi menyimpan tekanan.

Citraannya cukup kuat. Hutan, telaga, dan dedaunan bisa dibayangkan dengan jelas. Tapi bukan pemandangan yang menenangkan. Ada kesan sepi yang dalam. Saat muncul gambaran menjangan yang diterkam, suasananya jadi makin tegang.

Pengulangan unsur seperti menjangan, telaga, dan dedaunan memberi ritme yang halus. Tidak ramai, tapi terasa berulang seperti gema. Lalu di bagian akhir, muncul “kau dan aku”. Dari yang awalnya terasa jauh, tiba-tiba jadi dekat. Seolah semua yang ada di “rimba” itu berujung pada pengalaman manusia.

Puisi ini tidak menjelaskan makna secara langsung. Tapi justru itu yang membuatnya terasa. “Rimba kehidupan” seperti gambaran hidup yang tidak pernah benar-benar tenang. Ada yang terlihat indah, tapi di dalamnya tetap ada kegelisahan yang tersimpan.