Hijrah atau Nyaman? Dilema Anak Muda Zaman Now Memilih Bank Syariah

mahasiswa ekonomi syariah di Universitas Pamulang
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari riski nasution tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah enggak sih kamu merasa bimbang pas mau buka rekening bank baru? Di satu sisi, sebagai anak muda Muslim, ada keinginan kuat untuk menerapkan prinsip hijrah secara total, termasuk dalam urusan finansial dengan memilih bank syariah demi menghindari riba. Tapi di sisi lain, bayang-bayang kemudahan fasilitas bank konvensional yang punya ATM di setiap sudut jalan dan ekosistem digital serba instan sering kali bikin kita maju-mundur.
Dilema ini nyata banget dirasakan oleh Gen Z dan Milenial saat ini. Di era digital, memilih bank bukan lagi sekadar urusan "tempat menyimpan uang," melainkan tentang ekosistem gaya hidup (lifestyle), kenyamanan bertransaksi, hingga idealisme nilai kehidupan.
Kalau kita melihat data, antusiasme anak muda ke bank syariah sebenarnya sedang tinggi-tingginya. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat literasi atau pemahaman masyarakat terhadap keuangan syariah terus merangkak naik hingga menyentuh angka 43 persen.
Daya tarik ini juga dibuktikan oleh rilis resmi PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), di mana per pertengahan tahun ini, porsi nasabah anak muda mendominasi hingga 46 persen dari total 7,8 juta nasabah Tabungan Haji mereka. Artinya, kesadaran anak muda untuk mempersiapkan masa depan dan beribadah secara syariah itu sangat besar!
Namun, kenapa dilema itu tetap ada? Kenapa masih banyak anak muda yang punya pemahaman syariah tapi dompet digital dan rekening utamanya tetap di bank konvensional? Ternyata, ada tiga ganjalan utama yang sering bikin anak muda ragu:
1. Masalah 'UI/UX' dan Fitur Aplikasi yang Kalah Sat-Set
Anak muda adalah generasi yang menuntut ekosistem serba sat-set dan instan. Salah satu dilema terbesar memilih bank syariah adalah aplikasi mobile banking-nya yang kadang dinilai belum se-lancar atau se-modern digital banking milik bank konvensional raksasa.
Urusan integrasi pembayaran ke e-commerce, fitur investasi auto-debet, hingga kemudahan top-up dompet digital kerap kali dirasa masih memiliki batasan atau mengenakan biaya admin tambahan yang lumayan menguras kantong mahasiswa atau first-jobber.
2. Anggapan 'Bagi Hasil' yang Mirip Suku Bunga Konvensional
Ini bagian yang paling sering memicu perdebatan di tongkrongan. Secara teori, bank syariah menggunakan sistem bagi hasil (mudharabah) atau bonus (wadi'ah).
Namun dalam praktiknya, imbal hasil yang diterima nasabah sering kali bergerak searah dengan naik-turunnya suku bunga acuan karena bank syariah harus tetap kompetitif di pasar. Hal ini memicu skeptisisme di kalangan anak muda kritis yang menganggap bank syariah "cuma ganti istilah saja" padahal ekosistemnya masih beririsan erat dengan sistem ekonomi konvensional.
3. Ekosistem Kantor Pertemanan dan Sistem Penggajian (Payroll)
Tantangan eksternal ini sering kali mematikan idealisme anak muda. Begitu lulus kuliah dan mulai bekerja, mayoritas perusahaan di Indonesia sudah memiliki kerja sama payroll wajib dengan bank konvensional tertentu.
Alhasil, mau tidak mau kita harus membuat rekening konvensional untuk menerima gaji. Memindahkan sisa gaji setiap bulan ke bank syariah pun dirasa merepotkan dan membuang biaya transfer.
Menembus Dilema: Bukan Soal Sempurna, tapi Soal Memulai
Menghadapi dilema ini, kuncinya adalah mengubah cara pandang kita. Menuntut bank syariah langsung sempurna dan se-masif bank konvensional yang sudah menggeliat ratusan tahun tentu tidak adil.
Saat ini, beberapa bank syariah nasional sudah mulai berbenah besar-besaran lewat digitalisasi dan mengeluarkan fitur ramah anak muda demi mendongkrak indeks inklusi.
Langkah bijak yang bisa kita ambil sebagai anak muda adalah dengan membagi peran (split account): gunakan rekening payroll konvensional untuk operasional harian yang butuh kecepatan, lalu alokasikan dana tabungan jangka panjang, investasi, atau tabungan masa depan di bank syariah.
Memilih bank syariah bukan lagi sekadar soal ikut-ikutan tren hijrah yang kaku, melainkan bentuk kontribusi nyata anak muda untuk ikut membesarkan ekosistem ekonomi yang adil dan transparan di Indonesia. Kalau bukan kita yang memulai membesarkannya, lalu siapa lagi?
