Konten dari Pengguna

Kalap Belanja Online: Trik Psikologi E-Commerce yang Menjebak Kita

riski nasution

riski nasution

mahasiswa ekonomi syariah di Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari riski nasution tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(from: pexels/Polina Tankilevitch)
zoom-in-whitePerbesar
(from: pexels/Polina Tankilevitch)

Pernah enggak sih kamu niatnya cuma iseng buka aplikasi e-commerce buat cuci mata, tapi tahu-tahu berakhir dengan menekan tombol checkout? Pas barangnya sampai di rumah, kamu baru sadar kalau barang yang kamu beli itu sebenarnya enggak penting-penting banget. Fenomena penyesalan setelah kalap belanja ini sering banget menimpa kita di era digital.

Belanja impulsif (impulsive buying) di kalangan anak muda zaman sekarang sejujurnya bukan cuma karena kita lemah iman. Kalau mau jujur, kita sebenarnya sedang "dikerjai" oleh strategi psikologi pemasaran digital yang sangat cerdas dan terstruktur.

Aplikasi belanja online saat ini didesain sedemikian rupa untuk menciptakan efek Fear of Missing Out (FOMO) di dalam otak kita. Triknya sangat halus tapi mematikan untuk dompet.

Sebut saja strategi diskon kilat terbatas (flash sale) dengan penghitung waktu mundur yang bergerak cepat. Secara psikologis, waktu mundur itu memicu kepanikan di otak kita untuk segera membeli sebelum kehabisan.

Belum lagi tren live shopping malam hari, di mana penjual terus-menerus berteriak memicu urgensi pembeli lewat kalimat “hanya untuk 10 orang tercepat”. Ditambah kemudahan metode pembayaran instan seperti paylater, benteng pertahanan finansial kita runtuh seketika dalam hitungan detik.

Dalam kacamata ekonomi Islam, perilaku konsumtif yang berlebihan dan tidak berdasar kebutuhan ini disebut dengan tabzir atau pemborosan. Islam sangat melarang kita membelanjakan harta untuk hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat nyata bagi kehidupan atau akhirat kita.

Untuk menembus jebakan psikologi e-commerce ini, kunci utamanya adalah mengembalikan kendali kesadaran kita saat berselancar di aplikasi belanja. Ada satu tips sederhana yang bisa kita terapkan: terapkan "Aturan 24 Jam".

Saat kamu sangat ingin membeli suatu barang non-primer, masukkan dulu barang tersebut ke keranjang belanjaan dan tutup aplikasinya. Tunggu sampai keesokan harinya. Biasanya, setelah 24 jam berlalu, emosi dan keinginan sesaat itu akan mereda, dan logika kamu akan kembali berjalan untuk menilai apakah barang itu benar-benar kamu butuhkan.

Menikmati kemudahan teknologi belanja online tentu sah-sah saja. Namun, jangan sampai kemudahan tersebut justru mengendalikan isi dompet kita secara tidak sadar. Menjadi pembeli yang cerdas berarti tahu kapan harus menekan tombol beli, dan kapan harus menutup aplikasi demi menjaga kewarasan finansial masa depan kita.