Melawan FOMO Finansial: Belajar Prinsip Qana’ah di Era Digital

mahasiswa ekonomi syariah di Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari riski nasution tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai mahasiswa yang sehari-hari mendalami ilmu ekonomi syariah, saya sering kali tersenyum sendiri setiap kali membuka aplikasi media sosial. Di satu sisi, kita disuguhi konten flexing gaya hidup mewah orang-orang yang memicu rasa takut ketinggalan tren atau FOMO finansial. Di sisi lain, iklan kemudahan berutang seperti paylater dan pinjaman online terus mengintai di sela-sela linimasa, seolah menawarkan jalan pintas instan demi memenuhi gengsi sesaat.
Jujur saja, godaan lingkungan digital ini nyata banget dirasakan oleh generasi kita saat ini. Banyak teman di sekitar saya yang akhirnya terjebak dalam lingkaran setan utang konsumtif hanya demi mendapatkan validasi sosial, seperti bela-belain nongkrong di kafe mahal atau membeli barang bermerek yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
Melihat realitas sosial ini, saya merasa ada satu konsep fundamental dalam ekonomi Islam yang perlahan mulai terlupakan oleh anak muda, yaitu prinsip Qana'ah.
Dulu sebelum mendalami bidang ini, saya sempat berpikir kalau Qana'ah itu hanyalah teori kuno seputar sikap pasrah pada keadaan atau malas-malasan. Padahal, makna aslinya justru sangat keren dan relevan sebagai benteng pertahanan finansial kita di era digital. Qana'ah itu mengajarkan kita kemampuan untuk merasa cukup dengan apa yang dimiliki, sekaligus melatih diri kita untuk tegas membedakan mana yang benar-benar kebutuhan dan mana yang sekadar keinginan sesaat.
Kalau dalam ekonomi konvensional kita sering kali didorong untuk konsumsi tanpa batas demi memutar roda bisnis, ekonomi syariah justru mengajarkan kita untuk mengerem nafsu konsumtif yang berlebihan. Dalam Islam, perilaku suka membakar uang untuk hal yang sia-sia dan di luar batas kemampuan finansial itu disebut dengan tabzir atau pemborosan. Dan kalau kita mau jujur, alasan mengapa dompet kita sering kali boncos di akhir bulan adalah karena kita terlalu sering masuk ke dalam lubang pemborosan tersebut akibat keracunan tren medsos.
Menurut opini saya, belajar menerapkan prinsip Qana'ah di era digital bukan berarti kita harus hidup serba menderita atau menjadi pelit pada diri sendiri. Konsep ini justru hadir sebagai solusi finansial yang sangat logis. Ketika kita mulai belajar bersyukur dan merasa cukup, rasa cemas akibat FOMO setiap kali melihat postingan liburan mewah atau barang mahal milik orang lain di Instagram otomatis akan mereda dengan sendirinya. Kita tidak akan mudah tergoda untuk menekan tombol checkout menggunakan uang utangan, karena kita sudah paham betul dengan kapasitas dompet sendiri.
Mengikuti tren masa kini dan menikmati kemudahan teknologi belanja tentu sah-sah saja, tidak ada yang melarang. Namun, jangan sampai gengsi di media sosial malah mengendalikan isi rekening kita secara buta. Menjadi anak muda yang cerdas di era digital berarti berani mengambil kendali penuh atas keputusan keuangan sendiri, hidup bersahaja dengan penuh kesadaran, dan tidak perlu mengorbankan kedamaian hidup jangka panjang hanya demi sebuah gengsi semu di dunia maya.
