Konten dari Pengguna

Terjebak FOMO Kripto? Intip Dulu Realitas Investasi Saham Syariah

riski nasution

riski nasution

mahasiswa ekonomi syariah di Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari riski nasution tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(foto: pexels/cemagraphics)
zoom-in-whitePerbesar
(foto: pexels/cemagraphics)

Media sosial belakangan ini sering banget dipenuhi cerita sukses anak muda yang mendadak kaya karena investasi aset kripto. Melihat tangkapan layar keuntungan yang mentereng, rasa takut ketinggalan tren atau Fear of Missing Out (FOMO) refleks bikin kita pengen ikut-ikutan beli koin yang lagi viral tanpa pikir panjang.

Namun, di balik iming-iming keuntungan instan yang naik secara ugal-ugalan, pasar kripto sejujurnya menyimpan risiko volatilitas yang sangat ekstrem.

Bagi investor pemula, terjun ke dunia kripto tanpa bekal analisis yang kuat ibaratnya seperti masuk ke dalam ruang perjudian yang nasibnya ditentukan oleh rumor medsos semata.

Nah, kalau kamu pengen investasi yang legal, punya aset nyata, tapi tetap berkah dan sejalan dengan prinsip hukum Islam, ada alternatif yang jauh lebih logis: Saham Syariah.

Berbeda dengan kripto yang nilainya murni digerakkan oleh spekulasi pasar dan tidak memiliki aset fisik underlying yang jelas, saham syariah menempatkan kamu sebagai pemilik sah dari sebagian modal perusahaan riil.

Perusahaan yang masuk ke dalam Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) sudah disaring ketat oleh Dewan Syariah Nasional MUI. Bisnisnya dipastikan bebas dari praktik perjudian, riba, dan tidak menjual produk yang haram.

Mengapa Saham Syariah Jauh Lebih Logis untuk Pemula?

Keunggulan utama berinvestasi di saham syariah adalah adanya transparansi bisnis yang jelas. Saat kamu membeli saham perusahaan produk konsumen atau telekomunikasi syariah, kamu tahu persis dari mana keuntungan perusahaan itu berasal.

Keuntungan investor didapatkan dari dua jalur resmi: pertumbuhan nilai perusahaan jangka panjang (capital gain) dan pembagian keuntungan tahunan perusahaan (dividen).

Model bisnis yang jelas seperti inilah yang membedakannya dengan aset digital spekulatif. Nilai saham syariah tumbuh seiring dengan kinerja riil perusahaan tersebut di dunia nyata, bukan sekadar karena pengaruh cuitan tokoh terkenal di media sosial.

Memilih instrumen investasi di usia muda memang hak setiap orang. Namun, membedakan antara investasi jangka panjang yang aman dengan spekulasi sesaat yang dipicu rasa FOMO adalah kunci utama kedewasaan finansial.

Memulai langkah finansial dari saham syariah bukan cuma soal mencari keuntungan semata. Ini adalah cara cerdas anak muda untuk belajar mengelola risiko secara logis, sembari ikut andil membesarkan ekosistem bisnis riil yang transparan dan membawa keberkahan.