Tertipu Flexing Finfluencer: Pengalaman Belajar Saham via Medsos

mahasiswa ekonomi syariah di Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari riski nasution tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah enggak sih kamu ngerasa silau banget pas lagi asyik scrolling di media sosial? Akhir-akhir ini, linimasa kita kayaknya gak pernah sepi dari konten para financial influencer alias finfluencer. Gaya konten mereka hampir selalu mirip. Pamer tangkapan layar profit saham yang nilainya ratusan juta, bikin video di depan mobil mewah, terus diakhiri dengan ajakan buat ikutan borong kode saham tertentu yang katanya bakal langsung terbang tinggi dalam hitungan hari.
Jujur aja, sebagai orang yang baru mau mulai belajar investasi, saya sempat kena mental juga melihat flexing cuan yang begitu masif. Ada rasa takut ketinggalan tren atau FOMO yang mendadak muncul di kepala. Pikiran saya langsung melayang, kalau mereka yang seumuran saya bisa dapet duit segampang itu cuma modal pencet-pencet HP, kenapa saya gak ikutan coba?
Akhirnya, tanpa pikir panjang dan modal nekat doang, saya mutusin buat menguras tabungan. Saya langsung beli saham yang lagi ramai di-pom-pom di akun TikTok dan grup Telegram mereka, tanpa peduli buat analisis fundamental perusahaannya dulu.
Sialnya, langkah pertama itu justru jadi awal dari mimpi buruk finansial saya. Bukannya untung gede yang didapat, duit tabungan saya malah amblas hampir setengahnya. Tepat setelah saya dan mungkin ribuan followers lainnya ikutan beli, harga sahamnya mendadak terjun bebas secara ugal-ugalan. Di titik itulah saya baru sadar kalau kita semua sebenernya lagi dijebak dalam permainan manipulasi pasar yang terstruktur rapi.
Belakangan setelah saya baca-baca lagi, praktik licik ini dikenal dengan istilah pump and dump. Skemanya terbilang sangat halus. Oknum finfluencer nakal ini diem-diem udah mengumpulkan saham murah di harga bawah lewat berbagai akun samaran.
Begitu barang udah di tangan mereka, barulah pengaruh media sosialnya dipakai buat bikin gaduh dan memicu kepanikan beli di kalangan pengikut setianya. Pas permintaan pasar melonjak tinggi dan harga sahamnya sampai di puncak, si pembuat konten justru langsung menjual seluruh kepemilikannya secara masif demi meraup untung pribadi miliaran rupiah. Sedangkan kita, investor pemula yang terlanjur percaya mentah-mentah, cuma bisa gigit jari menelan kerugian karena harganya langsung amblas ke dasar bumi.
Kasus penipuan terselubung di ruang digital ini bener-bener jadi tamparan keras buat saya pribadi. Untungnya, sekarang Otoritas Jasa Keuangan atau OJK udah mulai bertindak tegas lewat aturan baru yang memperketat pengawasan digital. Siapa pun finfluencer yang berani kasih rekomendasi jual-beli saham ke publik sekarang wajib punya lisensi resmi, kalau gak akun mereka bakal langsung diblokir.
Pengalaman pahit boncos gara-gara korban flexing ini memberi saya pelajaran berharga banget. Belajar investasi dari dunia maya itu boleh-boleh aja sebagai referensi awal, tapi jangan pernah mentah-mentah menyerahkan keputusan keuangan kita cuma karena silau melihat kemewahan hidup seseorang di layar smartphone. Menjadi investor yang cerdas berarti berani memercayai hasil analisis data dan logika sendiri, bukan sekadar mengekor pada omongan figur publik yang gak bakal ikut tanggung jawab saat modal kita taruhannya.
