Konten dari Pengguna

Keunikan 'Puisi Cat Air untuk Rizki' Karya Eyang Sapardi

Riski Nur Sarifah

Riski Nur Sarifah

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riski Nur Sarifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Potret Puisi Cat Air untuk Rizki dalam buku antologi sepilihan sajak Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono. Diabadikan menggunakan ponsel pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Potret Puisi Cat Air untuk Rizki dalam buku antologi sepilihan sajak Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono. Diabadikan menggunakan ponsel pribadi.

"Puisi Cat Air untuk Rizki" dapat ditemukan dalam buku antologi sajak Hujan Bulan Juni pada halaman 79. Buku yang memiliki daya pikat dengan sampul bercorak daun kering dihiasi rintik hujan itu merupakan karya sastrawan pujangga berkebangsaan Indonesia, yaitu Sapardi Djoko Damono yang kerap disapa dengan sebutan Eyang Sapardi.

Eyang Sapardi memang tidak pernah membuat para pembaca karyanya tidak kagum. Kata-kata yang tersemat di dalam karyanya selalu mengagumkan, tapi mengapa dalam "Puisi Cat Air untuk Rizki" angin berbisik kepada daun jatuh yang tersangkut kabel telepon? pasti kita bertanya-tanya bukan?

Potret buku antologi sepilihan sajak Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono. Diabadikan menggunakan ponsel pribadi.

Dalam "Puisi Cat Air untuk Rizki" karya Eyang Sapardi ini hampir semua berisi majas personifikasi, yaitu di mana yang sebenarnya tidak hidup seolah-olah dihidupkan seperti manusia pada umumnya. Contohnya: “angin berbisik kepada daun”, “kabel telepon memperingatkan angin yang sedang memungut daun itu dengan jari-jarinya gemas”, dan “hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan tajam”.

Pada puisi karya Eyang Sapardi ini memiliki tipografi seperti cerpen karena terdapat dialog antar tokoh yang tertulis secara eksplisit. Digambarkan lima tokoh dalam "Puisi Cat Air untuk Rizki" yaitu daun, kabel, telepon, angin dan hujan. Sebenarnya, bila diperhatikan puisi ini menggambarkan peristiwa sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang terkadang tidak kita perhatikan. Seperti daun jatuh kemudian tersangkut kabel telepon dan tertiup angin.

"Puisi Cat Air untuk Rizki" mungkin akan banyak menimbulkan banyak perspektif dari setiap pembaca. Terlebih lagi setiap manusia berhak berpendapat. Tentunya isi kepala setiap manusia tidak akan bisa dipukul sama rata. Termasuk pembaca dari karya-karya Eyang Sapardi dalam buku Hujan Bulan Juni ini.

Eyang Sapardi menciptakan karya "Puisi Cat Air untuk Rizki" dengan emosi yang terdapat dalam kata “hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan tajam, hardiknya!”, “jangan berisik, mengganggu hujan!” kemudian tidak lupa dalam "Puisi Cat Air untuk Rizki" Eyang Sapardi juga menulis menggunakan bahasa figuratif, di mana secara tidak langsung mengungkapkan makna agar menghasilkan kesenangan imajinatif.

Bila dikaitkan dengan judul tentu para pembaca akan kebingungan, namun jika diperhatikan kembali puisi ini memang merupakan sebuah puisi yang menggambarkan peristiwa atau kejadian alam. Oleh karena itu, Eyang Sapardi memberi judul "Puisi Cat Air untuk Rizki" pada karyanya karena cat air merupakan media yang sering digunakan untuk melukis dan tentunya lukisan akan terlihat sederhana jika menggunakan cat air. Jadi, pembaca akan seolah-olah sedang melihat sebuah lukisan peristiwa alam yang sederhana.

Eyang Sapardi memang unik. Semua karyanya penuh dengan daya imajinasi, jadi harus benar-benar dipahami dan dimengerti dengan baik. Kata-kata dalam "Puisi Cat Air untuk Rizki" ini sangat ekonomis dan tidak berlebihan serta bahasanya pun merupakan bahasa sehari-hari dengan ritme yang baru. Pembaca harus mengapresiasi "Puisi Cat Air untuk Rizki" dengan penuh kepekaan serta cita rasa yang tinggi.