Konten dari Pengguna

Motor, Polusi, dan Diabetes: Hubungan yang Jarang Orang Tahu

Risky Ristiandy

Risky Ristiandy

Betiong Thinktank Center. Aktivis Lingkungan Kader Hijau Muhammadiyah Belitung.

·waktu baca 8 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Risky Ristiandy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"pragmatisme dalam membuat kebijakan, ternyata berdampak pada banyak hal. Salah satunya adalah kesehatan masyarakat"

https://www.vecteezy.com
zoom-in-whitePerbesar
https://www.vecteezy.com

Pernahkah kita merenungkan dan berpikir sejenak, kenapa Indonesia masyarakatnya banyak yang sakit? Mulai dari sakit ringan hingga berat seperti diabetes melitus. Dokter dan pakar kesehatan selalu menyampaikan bahwa penyakit-penyakit itu terjadi karena tubuh kurang gerak dan juga asupan makanan yang tidak bergizi. Hal itu yang kemudian dijadikan kambing hitam sebagai penyebab utama risiko dari berbagai penyakit di Indonesia. Tapi apakah benar hanya berdasarkan penjelasan itu saja?

Mari kita berpikir sejenak. Indonesia sebagai negara berkembang di Kawasan Asia Tenggara dan Asia pada umumnya menempati urutan negara keempat dengan penyandang diabetes melitus terbanyak, setelah Cina, India, dan Pakistan. Jika kita hanya menilai dari satu faktor, yakni makanan terutama makanan atau pola makan yang tinggi karbohidrat, maka kita hanya akan menyatakan bahwa penyebab masalah kesehatan ini karena faktor makanan. Seperti halnya Cina, India, dan Pakistan, Indonesia juga menjadi negara dengan tingkat konsumsi karbohidrat yang tinggi. Selain karbohidrat dari nasi, karbohidrat dari olahan gandum juga menjadi salah satu penyebab tingginya konsumsi karbo di Indonesia.

Dari satu sisi, yakni sisi makanan, maka kita sudah bisa atau dapat mengambil kesimpulan bahwa penyebab penyakit kronis seperti diabetes adalah makanan. Tapi sejatinya jika kita renungkan lebih dalam lagi, ada banyak sekali faktor yang menyebabkan masalah diabetes ini menjadi masalah serius. Mulai dari masalah genetik dan juga gaya hidup cenderung menjadi salah satu dari beberapa faktor berisiko yang menyebabkan diabetes. Lagi-lagi kita bicara faktor internal yang menyebabkan semuanya. Lantas apa benar hanya dari faktor-faktor itu saja?

Dulu, saya menganggap hanya itu yang menjadi penyebab diabetes. Kalau tidak makanan, pola hidup atau gaya hidup, atau terakhir genetik. Tapi, setelah sekian lama saya mengamati dan juga melakukan pendalaman terhadap fenomena diabetes dan obesitas di Indonesia ternyata bukan hanya dari makanan dan genetik saja, melainkan dari sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan selama ini.

Kendaraan Pribadi

https://www.vecteezy.com

Kenapa kendaraan pribadi? Apa peran dan kaitan kendaraan pribadi dengan peningkatan risiko diabetes? Tentu hal tersebut selalu dan merupakan pertanyaan yang akan diajukan oleh banyak orang jika kita menyatakan bahwa kendaraan pribadi menjadi bagian dari penyebab seseorang menderita diabetes.

Bayangkan, Indonesia negara yang total penduduknya hampir 280 juta jiwa, di mana setiap orang di Indonesia rata-rata memiliki kendaraan pribadi, motor maupun mobil. Setiap hari mereka menggunakan kendaraan pribadi mereka untuk berkegiatan. Baik itu berangkat kerja atau hanya sekadar belanja ke warung dekat rumah, masyarakat kita banyak yang menggunakan kendaraan pribadi bermotor. Bayangkan, hanya untuk berjalan sejauh 100 meter, mereka lebih memilih menggunakan sepeda motor daripada berjalan. Padahal, jika mereka atau kita berjalan seratus meter, maka kita sudah bisa membakar kalori sekitar 6–10 kalori. Kalau kita hanya mengendarai sepeda motor selama jarak itu, kalori yang terbakar hanya sekitar 1–2 kalori.

https://www.vecteezy.com

Lantas apa hubungannya dengan diabetes?

Perlu kita sadari bahwa diabetes merupakan penyakit yang menyerang kemampuan tubuh dalam menyediakan atau memproduksi insulin. Biasanya orang menyebutnya sebagai gula darah. Gula darah yang terlalu rendah tidak baik bagi tubuh, karena gula merupakan energi bagi tubuh untuk beraktivitas. Namun, kelebihan gula juga tidak bagus. Kelebihan gula atau glukosa akan menyebabkan penyakit yang mana membuat kadar gula tinggi yang mengakibatkan berbagai masalah bagi tubuh. Mulai dari lemas, darah atau luka sulit untuk sembuh, hingga menyebabkan penumpukan gula menjadi lemak dan obesitas. Hal itu akan memicu timbulnya penyakit lain yakni gagal ginjal, jantung, dan stroke.

idn.freepik.com

Semua itu terjadi saat asupan gula di dalam tubuh terlampau tinggi dibandingkan dengan energi yang dikeluarkan. Akibatnya tubuh menyimpan kelebihan energi menjadi lemak. Itulah mengapa jika pola makan kita tinggi dengan gula, namun gerak tubuh terbatas dan sedikit akan memicu terjadinya penyakit diabetes.

Saat ini saja jumlah penderita diabetes di Indonesia mencapai 20.426.400 jiwa, di mana 11,3% merupakan penderita di bawah usia 30 tahun. Hal ini tentu sangat miris dan menjadi perhatian serius bagi kita. Sayangnya, ternyata pemerintah kita memang senang untuk rakyatnya menjadi susah dengan berbagai penyakit. Mengapa saya berkata demikian?

Bukan Hanya Makanan

Menurut penelitian, ternyata penyebab diabetes bukan hanya dari kurang gerak, melainkan dengan paparan polutan yang setiap hari tinggi. Polutan dari polusi diproduksi dari kendaraan yang kita gunakan selama ini. Bayangkan satu motor menciptakan 0,5 gram polusi per hari, maka jika di Indonesia ada 127.976.339 sepeda motor setiap hari yang bergerak dan 19.177.264 kendaraan roda empat yang bergerak, makakurang lebih akan ada 70.000 ton polusi yang dilepaskan ke udara dan kita hirup sepanjang waktu.

idn.freepik.com

Hal itu yang kemudian mematahkan spekulasi bahwa Cina negara yang orangnya banyak bergerak tapi tetap tinggi diabetes, ternyata bukan hanya dari faktor makanan, akan tetapi dari polusi yang terjadi. Begitu pula dengan India dan Pakistan. Sebagai negara berkembang, negara kita dan mereka sama-sama menitikberatkan pada transportasi pribadi. Hal itu menyebabkan masyarakat malas bergerak dan kemudian meningkatkan polusi lewat kendaraan pribadi.

Strategi apa yang bisa kita gunakan untuk mengurangi risiko warga terkena diabetes?

Hal tersebut sudah terjawab oleh karya Anies Baswedan di Jakarta. Bayangkan, yang awalnya orang hanya fokus pada transportasi pribadi, sejak pemerintahan Anies, semuanya berubah. Orientasi publik mulai beralih pada transportasi massal. Selain hemat biaya, juga sangat ramah lingkungan. Membuat orang setiap hari pasti bergerak. Hal itu juga didukung dengan pelebaran dan penataan trotoar yang nyaman untuk pejalan kaki. Selain itu, integrasi transportasi menjadi kunci bagi kemajuan transportasi massal di Jakarta.

https://www.vecteezy.com

Awal kali saya ke Jakarta dan menjajal transportasi publik di sana saya merasakan capek dan lelah. Kenapa sih tidak dibuat enak, mudah, dan tidak perlu berkeringat. Namun, setelah saya merenung, ternyata Anies bukan hanya memikirkan tentang aksesibilitas warganya, melainkan memikirkan bagaimana cara melatih warganya agar bisa hidup sehat dan mengurangi polusi melalui integrasi transportasi publik dan juga penataan trotoar.

Kini, saya tinggal di Jogja. Saya merasakan bentuk kesenjangan transportasi publik dan penataan trotoar di Jogja. Transportasi publik di sini hanyalah Trans Jogja Istimewa serta KRL untuk jalur ke arah Solo. Selain itu, masih ada andong dan becak tradisional serta becak motor. Tidak lama ini juga menyusul hadirnya bajaj dengan bahan bakar pertalite. Namun, kita akan fokus pada transportasi massal yang mampu membawa banyak orang dalam satu waktu, yakni Trans Jogja Istimewa.

https://www.vecteezy.com

Di Jogja, halte sangat terbatas dan jaraknya jauh sekali. Dibanding dengan transportasi serupa di Solo, jarak antar halte di Jogja terbilang jauh. Tentu ini menjadi tantangan tersendiri. Selain itu, halte masih berupa halte portable dan juga halte permanen dengan ukuran yang kecil. Tidak sampai di situ, rute terbatas dan juga trotoar pejalan kaki yang tidak lebar serta kerap digunakan untuk berdagang mengakibatkan banyak masyarakat malas untuk berjalan kaki dan menggunakan transportasi publik. Hal ini bagi saya yang pernah merasakan transportasi publik di Jakarta bermimpi, bahwa suatu hari Jogja sebelum terlambat seperti Jakarta harus mulai mengubah orientasi transportasinya dari berbasis pribadi menjadi public oriented.

https://www.vecteezy.com

Sebagai kota wisata yang setiap sudutnya penuh makna, dengan membiasakan berjalan kaki membuat warga kita menjadi lebih kenal dengan kotanya. Pendatang dan pelancong pun justru akan lebih mudah menikmati indahnya Jogja. Bagi warganya? Dengan trotoar dan transportasi publik yang memadai tentu akan meningkatkan kesadaran untuk menjadi pribadi yang hidupnya harus lebih sehat. Saat ini Jogja menempati urutan ke-10 provinsi dengan jumlah penderita diabetes di Indonesia. Selain konsumsi karbohidrat yang tinggi, konsumsi makanan manis di Jogja juga menjadi salah satu faktor risiko. Makanya, jika pemerintah sayang dengan warganya mengubah haluan transportasi dari bersifat pribadi ke publik harus segera dilaksanakan sebelum terlambat.

Bicara tentang diabetes, pada tahun 2022 saja, anggaran BPJS untuk penyakit diabetes mencapai 7,7 triliun. Bayangkan, dana sebesar itu, jika dibelikan dengan bis seperti BIS Trans Jakarta atau Trans Jogja yang kisaran harganya 1-2 milyar, maka kita dapat membeli bis untuk transportasi umum sebanyak 3.800 – 5000 unit bis. Selain itu, jika kita gunakan untuk memperbaiki trotoar, dalam artian pelebaran dan penataan, maka kita akan mendapatkan trotoar sepanjang 6.400km. Jarak itu sudah sama dengan jarak dari Sabang sampai ke Merauke. Itu baru dana tahun 2022 saja. Tentu ini menjadi masalah serius jika tidak segera diatasi sejak dini.

Mimpi Jogja Dengan Transportasi dan Trotoar seperti Jakarta

Membayangkan Jogja dengan trotoar yang lebar dan nyaman serta tersambung ke segala tujuan. Ditambah lagi dengan armada Trans Jogja yang banyak dan juga rute yang luas, maka warga akan mulai berpikir untuk bisa memanfaatkannya dan menjadi sarana pemerintah secara tidak langsung menyehatkan masyarakat.

Mimpi ini tetapi memang harus didukung oleh keputusan berani pemimpin republik ini. Bukan hanya Jogja tapi seluruh Indonesia, ketergantungan pada motor yang bahkan Jepang sebagai pemilik perusahaan kendaraan justru di negaranya sangat jarang orang memiliki kendaraan pribadi. Karena mereka tahu dan sadar, bahwa kurang gerak bisa memberikan risiko yang sangat buruk bagi kesehatan mereka. Kita Indonesia? Sebagai pasar terbesar mereka, juga sebagai negara dengan penderita diabetes terbanyak keempat di Asia malah tidak sadar menganggap semua ini hal yang lumrah. Keputusan berani untuk mulai membatasi dan menghentikan produksi transportasi pribadi menjadi langkah awal dalam mengelola kesehatan masyarakat.

Semoga suatu hari nanti, apa yang dirasakan warga Jakarta bisa dirasakan oleh warga Jogja dan juga kota-kota lain di Indonesia ini. Melalui integrasi transportasi publik, negara menyelamatkan rakyatnya dari salah satu faktor pendukung terjadinya penyakit diabetes.