Pengaruh Keluarga Broken Home terhadap Prestasi Belajar Siswa
Tulisan dari Risma Apriyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Istilah broken home biasanya digunakan untuk menggambarkan keluarga yang berantakan akibat orang tua tidak lagi peduli dengan situasi dan keadaan keluarga di rumah. Broken home adalah kurangnya perhatian keluarga atau kurangnya kasih sayang orang tua, sehingga membuat mental seorang anak menjadi frustasi, brutal dan susah diatur.
Broken home sangat berpengaruh besar pada mental seorang pelajar, hal inilah yang mengakibatkan pelajar tidak mempunyai minat berprestasi. Broken home juga bisa merusak jiwa anak sehingga dalam proses pembelajaran di sekolah mereka bersikap seenaknya saja, tidak disiplin, selalu membuat keonaran dan kerusuhan, hal ini dilakukan karena mereka cuma ingin mencari simpati pada teman-teman mereka bahkan pada guru-guru mereka. Suasana dan keadaan keluarga tersebutlah yang mau tidak mau menentukan bagaimana dan sampai mana belajar dialami dan dicapai oleh anak-anak.
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya broken home yaitu:
Terjadinya perpecahan
Ketidakdewasaan sikap dan rasa bertanggungjawab orang tua
Jauh dari Agama
Adanya masalah ekonomi
Adanya masalah pendidikan
Ketidakdewasaan sikap orangtua salah satunya dapat dilihat dari sikap egoisme dan egosentrisme. Pada orang yang seperti ini, orang lain tidaklah penting. Dia lebih mementingkan dirinya sendiri dan bagaimana menarik perhatian pihak lain agar mengikutinya minimal memperhatikannya. Seharusnya orang tua memberi contoh kepada anak-anaknya seperti suka bekerja sama, saling membantu, bersahabat dan ramah.
Tidak bertanggungjawabnya orangtua salah satunya adalah masalah kesibukan. Kesibukan orang tua dalam urusan ekonomi ini sering membuat mereka melupakan tanggungjawabnya sebagai orangtua. Dalam masalah ini, anak-anaklah yang mendapat dampak negatifnya. Anak-anak sering tidak diperhatikan baik masalah di rumah, di sekolah, sampai pada perkembangan pergaulan anak-anaknya di lingkungan masyarakat. Faktor kesibukan ini biasanya sering dianggap sebagai penyebab utama dari kurangnya komunikasi.
Segala sesuatu keburukan perilaku manusia disebabkan karena dia jauh dari Tuhan. Sebab Tuhan mengajarkan agar manusia itu berbuat baik. Jika dalam keluarga, anggota keluarganya jauh dari Tuhan dan mengutamakan materi dunia semata maka kehancuran yang akan terjadi. Karena dari keluarga tersebut akan lahir anak-anak yang tidak taat kepada Tuhan dan kedua orangtuanya. Mereka bisa menjadi orang yang buruk yang dapat melawan orang tuanya bahkan orang lain di sekitarnya.
Dalam suatu keluarga mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Seorang istri terkadang banyak menuntut banyak hal. Karena suami tidak sanggup memenuhi tuntutan istri dan anak-anaknya, maka timbullah pertengakaran suami istri yang sering menjurus ke arah perceraian.
Jika pendidikan lebih lumayan pada suami istri maka wawasan tentang kehidupan keluarga juga dapat dipahami mereka. Sebaliknya pada suami istri yang pendidikannya rendah sering tidak dapat memahami lika-liku keluarga. Karena itu sering menyalahkan bila terjadi persoalan di keluarga. Akibatnya selalu terjadi pertengkaran yang mungkin menimbulkan perceraian. Jika pendidikan agama ada atau lebih dalam mempelajarinya mungkin sekali kelemahan di bidang pendidikan akan di atasi.
Belajar merupakan suatu perubahan dalam tigkah laku, di mana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang buruk yang terjadi melalui latihan atau pengalaman.
Minat dapat diartikan sebagai rasa senang atau tidak senang dalam menghadapi suatu objek. Prinsip dasarnya adalah bahwa motivasi seseorang cenderung akan meningkat apabila yang bersangkutan memiliki minat yang besar dalam melakukan tindakannya.
Menurut McClelland, pada dasarnya dalam diri setiap orang terdapat kebutuhan untuk melakukan perbuatan dalam memperoleh hasil yang sebaik-baiknya. Kebutuhan ini disebut sebagai kebutuhan untuk berprestasi (need for achievement) dan mendorong individu untuk melakukan perbuatan sebaik mungkin sehingga menghasilkan suatu prestasi tertentu. Dengan demikian, setiap manusia mempunyai kualitas tingkatan motif berprestasi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Ada yang bermotif tinggi dan ada yang bermotif rendah.
Tentang prestasi belajar, hal ini sangat penting untuk disampaikan, karena prestasi belajar merupakan indikator sebagai tingkat keberhasilan seorang siswa atau anak didik setelah mengikuti proses belajar mengajar.
Dampak broken home bagi prestasi anak:
Tidak memiliki motivasi untuk belajar
Cenderung lebih memilih diam atau jarang berpendapat
Rasa peduli terhadap teman terkadang rendah
Konsentrasi belajar menjadi terganggu
Terdapat perbedaan motivasi belajar pada siswa yang berasal dari keluarga broken home dengan motivasi belajar siswa dari keluarga utuh. motivasi belajar anak yang berasal dari keluarga broken home lebih rendah daripada motivasi belajar siswa dari keluarga yang utuh.
Berbeda sekali dengan anak yang memiliki keluarga yang harmonis:
Adanya motivasi belajar
Kemauan belajar cenderung lebih tinggi
Rasa peduli terhadap teman
Aktif dalam kegiatan pembelajaran
Semangat untuk breprestasi
Saat ada kejadian yang mengingatkan bahwa kedua orangtua mereka berpisah, anak-anak tampak sedih, menarik diri, depresi, atau tampak bingung dan ragu. Mereka mungkin akan mengekspresikan perasaan itu lewat bermain, atau berbicara dengan teman khayalan dan menciptakan suatu permainan yang menggambarkan persatuan kembali orangtuanya. Mereka kadang berbagi pikiran dan perasaan dengan teman dekat atau menjadi manja dengan orang dewasa di sekitarnya.
Mereka mungkin mencoba untuk menjadi sangat baik ataupun sebaliknya. Mencari kebebasan membuat mereka tidak terlalu memperhatikan masalah keluarga dan memilih untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Tapi ada juga sebagian diri yang menjadi depresi atau menggunakan obat-obatan, alkohol, atau makanan untuk menghilangkan rasa luka yang dirasakannya. Mereka mungkin bergabung dengan suatu perkumpulan atau kelompok, baik kelompok usia yang sebaya atau bahkan kelompok agama untuk mendapatkan rasa memiliki.
Mereka juga mungkin menjadi berurusan atau mendapatkan masalah dengan pihak hukum. Bahkan mungkin mereka juga akan merasa terbebani dengan adanya tanggung jawab tambahan untuk menjaga adik-adik, melaksanakan kegiatan rumah tangga, dan menjadi "orang tua" bagi kedua orangtuanya.
Anak-anak broken home memerlukan seseorang untuk menjadi mentor dan pemandu, mereka butuh waktu, afeksi, semangat, dan meyakinkannya bahwa kedua orangtuanya itu sangat mencintainya.

