Konten dari Pengguna

Guru dan Murid Bentrok, Sekolah Tidak Lagi Jadi Tempat Aman

Gufinda Risman

Gufinda Risman

Media Analyst di Indonesia Indicator

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gufinda Risman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Pixabay

Terus terang, akhir-akhir ini banyak sekali persoalan guru dan murid. Bukan cuma soal siapa yang salah, tapi soal sejauh apa dunia pendidikan kita lagi sakit. Bayangkan, seorang guru dikeroyok muridnya sendiri, rame-rame, di sekolah, pas jam belajar. Buat saya pribadi, itu udah di titik yang serem banget. Sekolah yang harusnya jadi tempat paling aman buat belajar, malah berubah jadi tempat kekerasan. Narasi yang berkembang adalah seorang guru dikeroyok oleh sejumlah murid. Orang yang tiap hari berdiri di depan kelas buat mengajar, membimbing, dan membina murid.

Dalam kasus pengeroyokan ini, saya tegas itu tidak ada pembenaran sama sekali. Mau gurunya salah, mau gurunya emosi, mau ucapannya nyakitin, tetap aja keroyokan itu tindakan brutal. Apalagi dilakukan oleh murid ke gurunya. Ini bukan cuma pelanggaran disiplin, tapi udah nyentuh nilai dasar pendidikan dan etika. Kalau ini dibiarkan atau dianggap “reaksi wajar”, ya tamat sudah wibawa guru di sekolah.

Namun demikian, dalam kasus ini saya tidak bisa tutup mata sama sikap gurunya. Usut punya usut, seorang guru di Jambi telah menghina salahsatu murid dengan perkataan 'miskin'. Setelah kejadian itu, murid-murid merasa jengkel dan menegur guru dengan kata-kata tidak pantas. Kemudian, guru tersebut memanggil murid dan refleks menampar muka murid tersebut. Mau alasannya refleks, mau niatnya mendidik moral, tetap aja kekerasan. Sekali tangan naik, situasi langsung berubah. Dari masalah etika jadi masalah fisik. Dari bisa diselesaikan secara baik-baik, jadi meledak ke mana-mana.

Belum lagi soal kata-kata yang menyangkut kondisi ekonomi. Saya paham maksud “motivasi”, tetapi terkadang orang dewasa lupa, remaja itu masih sensitif perilakunya. Salah diksi sedikit aja, bisa dianggap penghinaan. Apalagi kalau di depan teman-temannya. Harga diri anak SMA itu rapuh, tapi egonya tebal. Jadi begitu merasa direndahkan, apalagi soal “miskin”, emosi langsung naik.

Sumber : Pixabay

Selain itu, proses mediasi yang gagal total antara murid dan guru menjadikan kasus ini semakin viral. Disitu kelihatan banget nggak ada figur yang benar-benar bisa meredam emosi. Guru minta murid berubah, murid minta guru minta maaf. Dua-duanya sama-sama gengsi. Padahal kalau salah satu mau mengalah sedikit saja, mungkin ceritanya berhenti disitu. Namun demikian, ego ketemu ego hasilnya chaos.

Pada saat kejadian guru dikeroyok, dilempar batu, sampai akhirnya dia ngacungin celurit, disitu saya merasa ini sudah bukan sekadar masalah individu, tetapi masalah sistem. Guru sampai merasa perlu pegang senjata buat nyelametin diri? Itu tanda dia ngerasa nggak aman, nggak terlindungi, dan sendirian. Kalau saya bicara dari sudut pandang murid, jujur kejadian ini tidak sesederhana “murid kurang ajar ke guru” seperti yang banyak orang bilang di luar sana. Ada luka yang orang dewasa mungkin anggap sepele, tetapi buat murid yang mengalami, rasanya dalam banget.

Waktu kata “miskin” itu keluar dari mulut guru, rasanya seperti ditampar, tapi bukan di pipi, di harga diri. Mungkin di mata beliau itu cuma motivasi, cuma contoh, atau sekadar omongan spontan. Tapi buat murid yang tiap hari hidup pas-pasan, kata itu berat. Murid datang ke sekolah bukan buat diingatkan kalau hidup kami susah, tetapi buat berharap masa depan bisa lebih baik.

Saya yakin guru itu nggak tau rasanya jadi anak yang uang jajannya pas-pasan, seragamnya dipakai bertahun-tahun, dan tiap hari mikir “besok bisa sekolah lagi nggak ya?”. Jadi waktu kata itu diucapkan di depan kelas, apalagi dengan nada tinggi, rasanya malu, marah, dan sakit campur jadi satu. Seolah-olah kemiskinan itu aib yang pantas dijadikan contoh buruk.

Saya tidak membenarkan kekerasan, apalagi sampai pengeroyokan. Tapi jujur, kemarahan itu bukan muncul tiba-tiba. Itu akumulasi dari rasa dipermalukan, tidak didengar, dan dianggap salah terus. Ketika guru menampar murid, disitu murid merasa, “Oh, ternyata suara kami memang nggak penting.” Dari situ emosi makin naik dan sistem kontrol diri semakin hilang.

Disisi lain, murid-murid ini juga jelas bermasalah. Mentalitas main rame-rame, main ancam, main lempar batu itu bukan muncul tiba-tiba. Itu cerminan lingkungan, pembinaan, dan mungkin pembiaran dari sebelumnya. Bisa jadi mereka merasa “guru nggak bisa apa-apa”, atau “kalau rame pasti aman”. Dan itu bahaya banget. Dari serangkaian persoalan kasus antara guru dan murid di Jambi dapat dilihat dengan teori Hubungan Pedagogis.

Teori Hubungan Pedagogis menempatkan relasi antara guru dan murid sebagai inti dari proses pendidikan, bukan semata-mata sebagai mekanisme transfer pengetahuan. Johann Heinrich Pestalozzi memandang pendidikan sebagai upaya membentuk manusia secara utuh melalui pengembangan akal, perasaan, dan moral secara seimbang. Dalam pandangannya, proses belajar hanya akan bermakna apabila dilandasi hubungan yang hangat, penuh empati, dan berakar pada kasih sayang. Guru tidak diposisikan sebagai figur otoritas yang kaku, melainkan sebagai pendamping yang memahami kebutuhan dan potensi setiap murid sebagai individu yang unik.

Pestalozzi menekankan bahwa keberhasilan pendidikan sangat bergantung pada kualitas interaksi pedagogis yang terbangun di ruang belajar. Relasi tersebut harus bersifat personal dan kontekstual, sehingga guru mampu menyesuaikan metode pengajaran dengan tahap perkembangan dan pengalaman hidup murid. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya mengasah kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk karakter, kepekaan sosial, serta nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.

Pemikiran ini kemudian berkembang secara kritis dalam gagasan Paulo Freire, yang mengkritik model pendidikan “gaya bank”, yakni praktik pembelajaran yang menempatkan murid sebagai objek pasif penerima informasi. Freire menegaskan bahwa hubungan pedagogis sejati harus bersifat dialogis, di mana guru dan murid sama-sama menjadi subjek yang aktif dalam proses belajar. Melalui dialog, pengetahuan tidak dipaksakan secara sepihak, melainkan dibangun bersama berdasarkan realitas sosial yang dialami oleh murid.

Dalam perspektif Freire, hubungan guru–murid juga memiliki dimensi emansipatoris. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga mendorong kesadaran kritis murid terhadap kondisi sosial, budaya, dan politik di sekitarnya. Hubungan pedagogis yang manusiawi memungkinkan murid untuk berani bertanya, mengemukakan pendapat, serta merefleksikan pengalaman hidupnya sebagai bagian dari proses pendidikan. Di sini, pendidikan dipahami sebagai praktik pembebasan, bukan sekadar rutinitas akademik.

Sumber : Pixabay

Dengan demikian, Teori Hubungan Pedagogis menegaskan bahwa pendidikan yang bermakna lahir dari relasi yang setara, dialogis, dan berlandaskan nilai kemanusiaan. Baik dalam pemikiran Pestalozzi maupun Freire, guru dan murid dipandang sebagai manusia yang saling belajar dan bertumbuh. Hubungan ini menjadikan pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian kognitif, tetapi juga pada pembentukan kepribadian, empati, dan kesadaran moral yang berkelanjutan.

Inti dari persoalan ini adalah retaknya hubungan guru dan murid. Dulu guru itu digugu, ditiru dan dihormati. Sekarang, di banyak tempat, guru ditekan dari segala arah: orang tua, murid, aturan, medsos. Salah dikit viral. Tapi ironisnya, perlindungan ke guru sering nggak sebanding. Akhirnya, guru stres, emosi gampang meledak, dan murid makin berani kurang ajar.

Kalau kasus seperti ini cuma diselesaikan dengan saling lapor, saling menyalahkan, tanpa evaluasi serius, ke depan bakal kejadian lagi. Bahkan mungkin lebih parah. Karena pesan yang sampai ke publik adalah: sekolah bukan lagi ruang aman, dan konflik bisa berujung kekerasan. Menurut saya, ini harus jadi alarm keras. Murid yang ngeroyok wajib ditindak tegas, jangan ditutup-tutupi demi nama sekolah. Tapi guru juga perlu ditindak dengan sanksi tegas dan pelatihan pengendalian emosi. Jangan guru dibiarkan sendirian menghadapi murid bermasalah.

Kalau tidak, kita bakal sampai di titik di mana orang pintar tidak mau jadi guru, guru takut masuk kelas, dan sekolah kehilangan ruhnya. Pendidikan itu bukan cuma soal kurikulum, tapi soal hubungan manusia dengan manusia. Dan kalau hubungan itu rusak, sehebat apa pun sistemnya, hasilnya tetap nihil.