Konten dari Pengguna

Ketika Anakku Berkata, “Bunda, Aku Bosan”

Risna Abdul

Risna Abdul

Dosen Perguruan Tinggi Negeri

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Risna Abdul tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Source: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Source: Freepik

"Bunda... aku bosan."

Kalimat itu dulu selalu membuatku panik.

Sebagai ibu muda, entah mengapa aku merasa harus segera melakukan sesuatu. Mengeluarkan mainan baru, mengajak menggambar, membuat camilan, bahkan sesekali memberikan ponsel agar ia kembali ceria. Bagiku saat itu, anak yang bosan berarti aku kurang kreatif sebagai ibu.

Sampai suatu hari aku berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri, apakah setiap rasa bosan memang harus segera dihilangkan?

Ternyata, jawabannya tidak sesederhana yang kupikir.

Ternyata Aku Terlalu Takut Melihat Anakku Bosan

Belakangan aku menyadari bahwa rasa tidak nyaman itu bukan hanya dirasakan anakku, tetapi juga diriku sendiri.

Aku takut ia rewel.

Aku takut ia menangis.

Aku takut dianggap tidak mampu menghiburnya.

Tanpa sadar, setiap kali ia berkata, "Aku bosan," aku selalu menjadi "penyelamat". Aku mencarikan hiburan sebelum ia sempat mencarinya sendiri. Padahal, mungkin justru di situlah kesempatan belajarnya.

Kini aku memahami bahwa sebagai orang tua, kita sering kali terburu-buru menghilangkan ketidaknyamanan anak. Padahal, tidak semua rasa tidak nyaman harus segera diselesaikan. Ada kalanya anak justru sedang belajar menghadapi dirinya sendiri.

Hari Ketika Aku Memilih Tidak Langsung Memberikan Ponsel

Suatu sore, anakku kembali datang dengan kalimat yang sama.

"Bunda, aku bosan."

Tanganku hampir saja meraih ponsel yang selama ini menjadi solusi tercepat.

Namun kali ini aku menahan diri.

Aku hanya tersenyum dan berkata, "Menurutmu, kalau semua bantal di rumah ini hidup, mereka mau bermain apa?"

Ia menatapku beberapa detik, lalu berlari ke ruang tamu.

Lima belas menit kemudian, sofa kami berubah menjadi kapal bajak laut. Bantal menjadi ombak. Selimut menjadi layar kapal. Boneka-boneka menjadi kru yang harus diselamatkan dari monster laut.

Aku hanya duduk memperhatikan.

Permainan itu berlangsung hampir satu jam.

Tanpa video.

Tanpa gim.

Tanpa mainan baru.

Saat itu aku sadar, yang dibutuhkan anakku ternyata bukan hiburan baru, melainkan kesempatan untuk menemukan hiburannya sendiri.

Pengalaman itu mengingatkanku pada pentingnya permainan bebas (free play). Melalui permainan yang mereka ciptakan sendiri, anak belajar mengambil keputusan, memecahkan masalah, bernegosiasi, sekaligus mengembangkan imajinasi. Bahkan, American Academy of Pediatrics menegaskan bahwa permainan bebas merupakan bagian penting dari perkembangan kognitif, sosial, emosional, dan bahasa anak (Yogman et al., 2018).

Bosan Bukan Berarti Tidak Bahagia

Dulu aku mengira anak yang bahagia adalah anak yang selalu tertawa dan selalu sibuk.

Sekarang aku mulai melihatnya dengan cara yang berbeda.

Rasa bosan adalah jeda.

Dan dalam jeda itulah anak belajar mendengarkan pikirannya sendiri.

Mereka mulai bertanya, "Aku bisa bermain apa, ya?"

Pertanyaan sederhana itu mungkin terlihat sepele, tetapi sebenarnya sedang melatih kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, dan kemandirian.

Menariknya, penelitian psikologi menunjukkan bahwa kebosanan tidak selalu berdampak negatif. Dalam kondisi yang wajar, rasa bosan justru dapat mendorong seseorang untuk mencari aktivitas yang lebih bermakna, mengembangkan imajinasi, dan menghasilkan ide-ide kreatif.

Penelitian yang dilakukan oleh psikolog Sandi Mann menemukan bahwa ketika pikiran tidak terus-menerus dipenuhi rangsangan dari luar, otak memiliki kesempatan untuk membangun koneksi-koneksi baru yang mendukung kreativitas (Mann & Cadman, 2014).

Sebagai orang dewasa, kita sering mendapatkan ide terbaik saat mandi, berjalan santai, atau menikmati secangkir kopi. Anak-anak pun membutuhkan ruang yang sama untuk membiarkan pikirannya mengembara.

Aku Juga Belajar Mengurangi Rasa Bersalah

Media sosial sering membuatku merasa bahwa ibu yang baik harus selalu menyediakan aktivitas edukatif setiap hari.

Harus ada sensory play.

Harus ada worksheet.

Harus ada eksperimen sains.

Harus ada jadwal bermain yang sempurna.

Padahal, kenyataannya anak tidak membutuhkan ibu yang selalu mampu menghiburnya.

Mereka membutuhkan ibu yang percaya bahwa mereka mampu menemukan ide mereka sendiri.

Sejak menyadari hal itu, aku tidak lagi merasa bersalah ketika anakku sesekali berkata, "Aku bosan."

Aku tahu, aku tidak harus selalu menjadi sutradara setiap permainannya.

Kadang-kadang, tugas terbaikku hanyalah hadir, memperhatikan, dan memberi ruang.

Tentu Ada Batasnya

Bukan berarti setiap rasa bosan harus dibiarkan begitu saja.

Jika anak terlihat sedih berkepanjangan, kehilangan minat terhadap hampir semua aktivitas, atau kebosanannya disertai perubahan perilaku yang mengkhawatirkan, tentu orang tua perlu mencari tahu penyebabnya dan, bila perlu, berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Namun, untuk kebosanan yang muncul sesekali dalam keseharian, aku belajar melihatnya sebagai bagian alami dari proses tumbuh kembang.

Anak tidak selalu membutuhkan jawaban dari orang tuanya. Terkadang, mereka membutuhkan kesempatan untuk menemukan jawabannya sendiri.

Pelajaran Terbesarku sebagai Seorang Ibu

Hari ini, ketika anakku berkata, "Bunda, aku bosan," aku tidak lagi terburu-buru mencari solusi.

Aku biasanya hanya menjawab,

"Hmm... kira-kira permainan apa yang bisa kamu ciptakan hari ini?"

Kadang ia masih datang lagi lima menit kemudian.

Kadang ia langsung menemukan ide yang bahkan tidak pernah terpikir olehku.

Dan setiap kali melihatnya sibuk membangun rumah dari kardus bekas, membuat restoran dari kursi makan, atau mengubah selimut menjadi gua rahasia, aku diingatkan pada satu hal sederhana.

Anak-anak tidak selalu membutuhkan lebih banyak hiburan.

Sering kali, mereka hanya membutuhkan sedikit ruang, sedikit waktu, dan orang tua yang percaya bahwa mereka mampu menemukan keajaiban dari hal-hal yang tampak biasa.

Psikolog perkembangan Peter Gray bahkan berpendapat bahwa permainan yang lahir dari inisiatif anak sendiri membantu mereka membangun kreativitas, rasa percaya diri, kemampuan mengatur emosi, dan kemandirian—bekal yang akan mereka bawa hingga dewasa (Gray, 2013).

Mungkin, sebagai ibu, pelajaran terbesar yang kupelajari bukanlah bagaimana menghilangkan rasa bosan anak.

Melainkan bagaimana berani memberi mereka kesempatan untuk bertumbuh melaluinya.

Karena ternyata, di balik kalimat sederhana, "Bunda... aku bosan," bisa jadi sedang tumbuh sesuatu yang jauh lebih berharga: imajinasi, kreativitas, dan keyakinan bahwa mereka mampu menciptakan dunianya sendiri.