Apakah Ilmu Hanya Bernilai Kalau Menghasilkan Uang?

Dosen dan penulis yang menaruh perhatian pada isu pendidikan, literasi, serta perkembangan anak dan remaja. Ia aktif menulis opini dan gagasan edukatif di berbagai media.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Risna Abdul tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertanyaan klasik ini sering terlintas, terutama di era pragmatis seperti sekarang. Banyak orang bertanya, “Kuliah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya kerja bisa dapat duit enggak?” Seolah-olah nilai ilmu hanya sah bila bisa dikonversi jadi rupiah. Fenomena ini tampak dalam budaya populer: orang yang dihormati bukan lagi mereka yang berilmu, melainkan mereka yang berduit. Maka, muncul kesan bahwa pendidikan dan pengetahuan hanyalah “investasi ekonomi,” bukan jalan menuju kebijaksanaan.
Namun, sejarah pemikiran manusia mengajarkan hal berbeda. Filsuf klasik Socrates menegaskan bahwa tujuan belajar adalah to know thyself—mengenal diri dan menemukan kebenaran hidup. Baginya, ilmu bukan sekadar tiket ekonomi, melainkan jalan untuk memperbaiki jiwa. Dalam tradisi Islam, Al-Ghazali juga mengingatkan bahwa ilmu adalah cahaya yang menuntun manusia mendekat kepada kebenaran Ilahi. Jika cahaya itu dipakai hanya untuk mengejar status dan harta, maka ilmunya kehilangan kesucian.
Pandangan modern pun menggemakan hal serupa. Amartya Sen, ekonom peraih Nobel, melalui Capability Approach menyatakan bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya soal penghasilan, melainkan soal kemampuan seseorang menjalani hidup yang ia anggap bermakna. Dengan kata lain, ilmu punya nilai intrinsik yang tak bisa diukur dengan angka saldo atau gaji bulanan.
Sayangnya, di dunia yang kian kompetitif, logika utilitarian sering mendominasi. Banyak mahasiswa memilih jurusan bukan karena minat, tetapi karena “prospek kerja.” Sekolah pun sering terjebak pada paradigma industri: mencetak pekerja, bukan membentuk manusia utuh. Akibatnya, dimensi etika, kreativitas, dan empati sering terpinggirkan.
Padahal, contoh nyata menunjukkan sebaliknya. Seorang guru desa yang mengajar dengan penuh dedikasi meski bergaji minim bisa memberi dampak sosial jauh lebih luas dibanding pekerja korporasi dengan gaji puluhan juta yang bekerja sekadar mengejar target. Seorang peneliti yang menolak menyalahgunakan data demi keuntungan sponsor mungkin tidak kaya materi, tetapi kaya martabat. Nilai ilmu dalam hal ini terletak pada keberanian untuk setia pada kebenaran.
Ilmu tentu tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan hidup: manusia tetap perlu makan, bekerja, dan mencari penghasilan. Tetapi persoalannya adalah posisi. Uang seharusnya menjadi alat yang menopang, bukan ukuran yang menguasai. Ilmu sejati membebaskan manusia dari kebodohan dan ketidakadilan; sementara uang, bila dijadikan tujuan utama, justru bisa membelenggu.
Pada akhirnya, pertanyaan “apakah ilmu hanya bernilai kalau menghasilkan uang?” tidak perlu dijawab dengan ya atau tidak. Yang lebih penting adalah keberanian menempatkan ilmu dan uang pada proporsi yang benar. Ilmu adalah kompas, uang adalah bahan bakar. Jika kompas rusak, bahan bakar hanya akan membuat kita tersesat lebih cepat.
