Konten dari Pengguna

Bukan Antisosial, Hanya Memilih Sendiri

Risna Abdul

Risna Abdul

Dosen dan penulis yang menaruh perhatian pada isu pendidikan, literasi, serta perkembangan anak dan remaja. Ia aktif menulis opini dan gagasan edukatif di berbagai media.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Risna Abdul tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Source: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Source: Freepik

Pernahkah kita menolak undangan hanya untuk menghabiskan sore sendirian di rumah atau di kafe? Bukan karena tidak punya teman, melainkan karena kita butuh waktu untuk bernapas. Namun, pilihan sederhana ini sering menimbulkan salah paham. Orang mengira kita dingin, antisosial, atau bahkan kesepian.

Padahal, fenomena memilih kesendirian bukanlah hal langka. Penelitian University of Virginia (2014) menemukan bahwa waktu sendirian dapat meningkatkan fokus dan ketenangan. Sementara studi di Personality and Social Psychology Bulletin (2017) menegaskan, kesendirian yang disengaja berbeda dari kesepian—yang satu adalah pilihan sadar, yang lain adalah kondisi yang tidak diinginkan.

Sayangnya, di budaya yang menjunjung kehadiran sosial, kesendirian sering dianggap “tidak normal.” Menolak ajakan berkumpul bisa dicap sombong, menghabiskan akhir pekan sendiri dianggap aneh. Padahal, menurut psikolog klinis Scott Barry Kaufman, waktu menyendiri bisa menjadi “laboratorium pribadi” untuk berpikir kreatif, mengolah emosi, dan menemukan arah hidup.

Keramaian memang membawa energi, tapi bagi sebagian dari kita, energi itu cepat terkuras. Kesunyian menjadi tempat untuk mengisi ulang—membaca, menulis, merenung, atau sekadar membiarkan pikiran beristirahat. Setelah cukup, kita akan kembali ke dunia luar dengan pikiran lebih jernih dan hati lebih tenang.

Kita pun sering lupa bahwa kesendirian telah melahirkan karya-karya besar. Beethoven menciptakan banyak simfoninya saat mengasingkan diri. Penulis J.K. Rowling menemukan dunia Harry Potter dalam jam-jam sunyinya. Bahkan Albert Einstein pernah berkata, “Solitude is painful when one is young, but delightful when one is more mature.

Sebelum buru-buru menilai pilihan ini, mungkin kita perlu mengingat:

"Kesendirian yang dipilih dengan sadar bukanlah kesepian. Ia adalah ruang di mana kita membangun kekuatan, menemukan diri, dan menyiapkan langkah berikutnya..."