Konten dari Pengguna

Quite Quitting: Saat Gen Z Bilang "Gue Kerja, Bukan Hidup Buat Kerja"

Risna Abdul

Risna Abdul

Dosen dan penulis yang menaruh perhatian pada isu pendidikan, literasi, serta perkembangan anak dan remaja. Ia aktif menulis opini dan gagasan edukatif di berbagai media.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Risna Abdul tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Source: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Source: Freepik

Belakangan ini, istilah “quiet quitting” ramai dibicarakan, terutama di media sosial seperti TikTok dan Twitter. Fenomena ini bukan tentang karyawan yang tiba-tiba berhenti kerja secara diam-diam, melainkan tentang mereka yang memutuskan untuk tidak lagi memberikan lebih dari apa yang diminta dalam deskripsi pekerjaan. Mereka datang tepat waktu, menyelesaikan tugas, lalu pulang. Nggak ada lagi lembur sukarela, kerja ekstra tanpa bayaran, apalagi ngejar-ngejar promosi dengan “ngoyo”.

Yang menarik, fenomena ini banyak dikaitkan dengan generasi Z—kelompok muda yang lahir sekitar tahun 1997 hingga 2012—yang kini mulai mendominasi pasar tenaga kerja. Buat Gen Z, kerja keras itu penting, tapi bukan berarti hidup harus dikorbankan demi pekerjaan.

Bukan Malas, Tapi Menjaga Batas

Quiet quitting bukan bentuk kemalasan. Mereka bukan karyawan yang ogah-ogahan atau cari alasan buat males kerja. Sebaliknya, ini adalah bentuk penarikan batas yang sehat antara kehidupan pribadi dan profesional. Mereka ingin tetap produktif, tapi juga ingin punya waktu buat diri sendiri, keluarga, atau sekadar istirahat mental.

Menurut survei Gallup (2022), hanya 32% karyawan secara global yang merasa benar-benar terlibat (engaged) dalam pekerjaan mereka. Sisanya merasa terputus secara emosional—dan itu adalah lahan subur untuk munculnya fenomena seperti quiet quitting.

Gen Z: Bukan “Anak Manja”, Tapi Lebih Sadar Diri

Generasi Z tumbuh dengan kesadaran tinggi soal isu kesehatan mental, burnout, dan pentingnya work-life balance. Dalam Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey (2023), disebutkan bahwa 46% Gen Z merasa stres akibat tekanan kerja, dan lebih dari separuhnya siap resign kalau pekerjaan mereka tidak sejalan dengan nilai-nilai pribadi.

Makanya, mereka nggak mudah tergoda janji promosi tanpa kejelasan, atau loyalitas yang dibalas dengan ekspektasi berlebihan. Buat Gen Z, loyalitas itu harus dua arah—kalau tempat kerja menghargai mereka, barulah mereka akan memberi lebih.

Apa Dampaknya ke Dunia Kerja?

Tentu saja fenomena ini bikin sebagian perusahaan khawatir. Ada kekhawatiran bahwa quiet quitting bisa menurunkan produktivitas atau merusak semangat kerja tim. Tapi kalau kita lihat lebih dalam, quiet quitting justru bisa jadi sinyal bahwa ada yang nggak beres dalam budaya kerja kita selama ini.

Kalau karyawan merasa dihargai, diberi ruang berkembang, dan punya pemimpin yang suportif, kemungkinan besar mereka nggak akan merasa perlu “menarik diri”. Dalam artikel Harvard Business Review (2022), disebutkan bahwa kepemimpinan yang empatik dan perhatian adalah kunci untuk mengatasi quiet quitting.

Saatnya Bangun Budaya Kerja yang Sehat

Quiet quitting seharusnya nggak dilihat sebagai ancaman, tapi sebagai wake-up call buat organisasi. Dunia kerja berubah, dan generasi baru punya cara pandang yang berbeda. Perusahaan harus mulai membangun budaya yang lebih manusiawi: komunikasi terbuka, penghargaan yang adil, jam kerja yang fleksibel, dan dukungan nyata terhadap kesejahteraan karyawan.

Dengan begitu, loyalitas dan produktivitas nggak perlu dipaksakan—karyawan akan dengan sendirinya merasa terlibat dan termotivasi.

Kerja Itu Penting, Tapi Hidup Lebih Penting

Quiet quitting bukan berarti berhenti peduli, tapi lebih kepada berhenti mengorbankan diri secara diam-diam. Gen Z hanya ingin hidup yang seimbang—mereka kerja, iya. Tapi mereka juga ingin tetap waras, punya waktu buat berkembang, dan tidak terus-menerus kehabisan energi hanya untuk “tampak loyal”.

Jadi, sebelum buru-buru menghakimi, mungkin kita perlu bertanya: apakah budaya kerja kita selama ini memang layak untuk dipertahankan?