Konten dari Pengguna

Catatan untuk ASN, Etika Itu Dipelajari, Integritas itu Dipilih

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari RISNAWATI RIDWAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto : doc Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto : doc Pribadi

"Tidak apa-apa kamu tidak menjadi orang nomor satu. Yang paling utama, kamu tetap harus jadi orang jujur.” Nasihat almarhum Bapak dua dekade lalu saat saya lulus menjadi ASN. Bagi Bapak, kejujuran adalah kunci kehidupan. Dan Bapak menjalani prinsipnya tersebut. Bapak adalah guru di sekolah negeri. Puluhan tahun menjadi guru mapel dengan jabatan tambahan sebagai wakil kepala sekolah.

Dan 4 tahun sebelum pensiun, Bapak diberi kesempatan dan tanggung jawab untuk menjadi kepala sekolah. Bahkan salah satu pejabat dinas pernah berkata kepada kami, anak-anak Bapak, "Bapak kalian adalah orang yang paling jujur yang pernah saya kenal. Semua tawaran menjadi kepala sekolah tidak diterima kecuali hari ini.” Awalnya kami tidak paham maksudnya.

Ternyata, saat Bapak meninggal beberapa tahun kemudian, kami mendengar dari teman-teman beliau bahwa setiap tawaran iming-iming tertentu kecuali jabatan terakhir sebelum pensiunnya. Butuh beberapa tahun untuk memahami peristiwa tersebut. Bekerja dalam dunia birokrasi pemerintahan, mengajarkan saya banyak hal. Termasuk untuk sebuah kejujuran.

Etika, sebuah frasa yang mempunyai makna yang sama dengan adab, akhlak, dan perilaku baik. Dan kejujuran adalah bagian dari etika. Etika adalah pemahaman tentang sistem, nilai, prinsip dan norma yang menjadi kompas dan panduan perilaku yang ingin ditampilkan. Etika bagi seorang PNS adalah melakukan aturan main sesuai dengan norma yang telah ditentukan. Contohnya adalah menolak suap saat mengurus perizinan, tidak menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi dan bertindak netral saat pemilu.

Cerita menolak suap pernah saya alami sendiri. Berawal saat saya bekerja pada instansi yang selalu berhubungan dengan pekerja, perusahaan, upah, dan lainnya. Tugas dan tanggung jawab saya adalah memeriksa usulan dokumen tentang perusahaan. Saya bersyukur saat itu mempunyai atasan yang paham tentang etika ASN. Peristiwa itu terjadi saat mendekati Lebaran. Banyak perusahaan memberi hadiah hampers kepada pimpinan kami. Saat itu pimpinan tidak berada di tempat. Kurir menitipkan paket tersebut kepada saya, namun saya memberikan kepada atasan langsung saya. Dan beliau menolak menerima bingkisan tersebut setelah menelepon pimpinan kami terlebih dahulu.

Beliau menasihati saya tentang etika menjadi ASN. Ada nilai dan norma yang harus diikuti untuk menjadi pegangan ketika kita berhubungan dengan pihak lain. Apalagi bagi ASN yang bekerja dalam pelayanan publik. Menerima gratifikasi dari yang menerima pelayanan pemerintah adalah etika yang buruk. Dan prinsip ini tercantum di semua aturan, baik itu aturan kepegawaian maupun aturan lainnya. Kemudian saya bercerita kepada Bapak sesampainya di rumah. Bapak hanya mengatakan, "Barang tersebut adalah suap. Yang memberi dan menerima suap akan mendapat hukuman yang sama".

Sumber Foto : Doc Pribadi

Jika etika adalah sebuah kompas, maka integritas adalah ketetapan nurani kita untuk mengikuti kompas tersebut. Kalimat ini adalah nasihat atasan langsung saya ketika saya pindah kantor. Sekarang saya bertugas pada instansi yang selalu berhubungan dan melayani masyarakat miskin. Saya belajar menghadapi semua jenis karakter orang. Dari profesor yang berpendidikan tinggi sampai tukang ojol yang hanya tamat sekolah dasar.

Bekerja dalam ranah publik mempunyai ujian tersendiri. Kemampuan komunikasi teruji nyata saat menghadapi masyarakat. Saya pernah menghadapi masyarakat yang melakukan komplain Program Wali Kota di daerah kami. Saat itu kebetulan saya adalah penanggung jawab kegiatan. Saya ditelepon oleh salah satu anggota dewan yang memprotes karena salah satu warga dapilnya tidak diterima sebagai penerima layanan kami. Tentu saja saya melakukan wawancara singkat tentang data tersebut untuk informasi.

Setelah melakukan pengecekan, saya menemukan bahwa persyaratan yang diminta tidak terpenuhi. Anggota dewan tersebut memaki saya melalui telepon. Saya menjelaskan dengan rinci dan pastinya dengan suara customer service profesional. Walaupun dengan perasaan jengkel, saya berusaha sopan dalam memberikan jawaban. Namun, ancaman yang harus saya terima.

Lain lagi yang dialami teman saya, sesama ASN. Tugasnya adalah melakukan verifikasi dan validasi data kemiskinan. Dia turun ke lapangan untuk mengecek fisik rumah, mengetahui jenis meteran listrik, bahkan memastikan kepemilikan aset yang dimiliki. Ada satu keluarga yang kebetulan berada di wilayah tempat tinggal saya. Teman saya menanyakan informasi tentang keluarga tersebut. Saya menceritakan apa adanya sebatas pengetahuan.

Ternyata, keluarga tersebut tidak termasuk dalam kategori penerima bantuan keluarga miskin. Dikarenakan beliau kenal dengan saya dan tahu saya bekerja di kantor yang mengurusi kemiskinan, beliau mendatangi saya untuk diajak bertemu dengan teman saya. Dan saya mempertemukan mereka. Setelah beberapa waktu, informasi yang saya dapatkan adalah tetangga saya memberi "hadiah" agar teman saya dapat memproses ulang pengolahan data sehingga keluarga tersebut dapat menerima bantuan sosial yang diinginkannya.

Ini adalah kisah-kisah yang kami temukan sehari-hari. Mental memberi suap dan menggunakan kekuasaannya secara semena-mena menjadi hal yang biasa. Setiap orang ingin mendapatkan hak tetapi lupa tentang kewajibannya.

Bagi ASN yang bekerja sebagai perpanjangan tangan pemerintah, kemampuan menjaga etika dan berintegritas dalam sikap sehari-hari sangatlah sulit. Sulit tetapi bukan tidak mungkin. Karena setiap ASN selalu dituntun rambu-rambu yang telah ditetapkan. Hanya butuh keberanian hati untuk memilih berintegritas.

Bapak saya menasehati, selama yang baik itu benar, buruk itu salah, jangan pernah takut untuk tetap berjalan di koridor tersebut. Tugas kita adalah memberikan pelayanan publik kepada masyarakat. Mereka berhak mendapatkan layanan terbaik. Kita adalah ASN, bekerja dan dibayar oleh negara. Bukan berarti kita budak, tetapi pelayan yang tetap mendapatkan jerih. Yang paling utama adalah, bekerjalah dengan hati dan akal, karena etika itu dipelajari dan integritas itu pilihan.(rr)