Flex X Cop dan Dompet ASN

Writerpreneur yang nyambi jadi ASN
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari RISNAWATI RIDWAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Gimana mau kepikiran korupsi, keyboard PC kantor rusak aja harus beli sendiri.” Saya melihat postingan teman sekantor di media sosial. Keyboard berwarna pink tersebut jelas merupakan pengadaan sendiri, dan takarirnya sangat mewakili rasa yang saya alami. Di tengah kebijakan efisiensi anggaran negara, efisiensi operasional merupakan keharusan bagi ASN. Penggunaan fasilitas pribadi semakin banyak dilakukan para abdi negara. Pengadaan alat dan dukungan kerja dari kantor sangat ketat. Namun, tuntutan dan hasil kerja harus mencapai persentase yang tinggi.
Bahkan, program work from home (WFH) adalah salah satu cara pemerintah untuk memperketat dan melakukan efisiensi dalam operasional dan pemeliharaan kantor. Mengurangi pemakaian listrik dan wi-fi kantor, dengan mengatasnamakan penghematan BBM dan biaya transportasi, pegawai diinstruksikan untuk bekerja di rumah atau di mana saja, tetapi tetap terhubung dengan manajemen kantor.
Di saat yang sama, komentar negatif membombardir para abdi negara ini. Selain mereka harus menyediakan laptop sendiri, memakai tethering dari hp sendiri, berlangganan lisensi Pro Zoom Meeting, serbuan kalimat-kalimat seperti “APBN hanya habis untuk ngasih makan ASN,” atau “Datang absen, pulang, ngopi, sore absen lagi.”menjadikan mereka harus membuat tameng untuk melindungi diri sendiri.
Tulisan ini tidak bertujuan untuk menjelek-jelekkan kebijakan pemerintah atas nama penghematan anggaran negara. Tetapi, menunjukkan bahwa ada biaya yang seharusnya dibayar oleh negara untuk kepentingan masyarakat, dan pada kenyataannya, biaya ini harus ditanggung secara pribadi oleh para pengabdi negara ini.
Salah satu drama Korea yang tayang pada tahun 2026 ini adalah Flex X Cop yang telah memasuki season 2 dan bercerita tentang ASN yang bekerja dan menggunakan kekayaan pribadinya demi mempercepat proses pekerjaan. Pada musim pertama, drakor ini menampilkan cerita tentang Jin Yi-Soo, seorang chaebol yang menjadi polisi secara mendadak setelah ia secara tidak sengaja berhasil melumpuhkan dan menangkap seorang buronan kasus pembunuhan. Menariknya, sejak awal, Jin Yi-soo telah menggunakan fasilitas pribadinya untuk mempercepat pelaksanaan kegiatannya sebagai detektif.
Adegan Jin Yi-soo menelepon Pak Choi untuk menyediakan ”Coco” hanya karena macet membuat rekan kerjanya menggelengkan kepala tidak percaya. Belum lagi, saat tim mereka ingin menjebak penjahat dan membutuhkan uang tunai sebanyak satu miliar. Saat itu sudah larut malam sehingga tidak mungkin menyediakan uang tunai sebanyak itu dengan cepat. Bukan Jin Yi-soo jika tidak bisa menyelesaikan masalah. Bahkan ketua timnya menanyakan tentang dunia macam apa yang dimiliki Jin Yii-soo. Dan jawabannya adalah tipe jawaban percaya diri yang tinggi. “Aku hidup di dunia yang segalanya sangat mungkin.”
Di negara maju seperti Korea, dunia kerja aparat mempunyai dinamika yang sama seperti di negara kita. Tekanan, sumber daya dan cara menyelesaikan persoalan mempunyai pola yang cenderung sama. Dalam serial ini, ditunjukkan bahwa dalam pekerjaan penegakan hukum pun, kemampuan menyelesaikan kasus tidak hanya bergantung pada jabatan, tetapi juga sumber daya, jaringan, teknologi dan fasilitas pendukung yang dimiliki. Kekayaan pribadi Ji Yii-soo dimanfaatkan untuk memperlancar proses pekerjaan dan membantunya menyelesaikan persoalan yang muncul. Di sinilah akan muncul pertanyaan yang mengkhawatirkan, seberapa jauh sumber daya pribadi boleh menopang pekerjaan publik?
Salah satu scene serial ini yang bombastis adalah saat mengejar tersangka pembunuh di hotel. Detektif Jin Yi-soo menggunakan supercar dan jet pribadinya untuk melacak pelaku kejahatan yang bergerak cepat dan melarikan diri ke luar negeri. Dia tidak lagi mengandalkan kendaraan dinas polisi biasa. Bahkan sirene polisi pun telah tersedia pada supercarnya.
Sebagai abdi negara, kami tidak menuntut negara untuk menyediakan fasilitas seperti di film. Namun, keterbatasan yang sekarang dialami oleh negara menjadikan kita sebagai abdi negara harus kreatif dan berinisiatif dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawab. Di saat bersamaan, terlalu banyak suara sumbang yang menyerukan tentang ASN dan fasilitas yang didapat dari uang negara.
Kenyataannya adalah, para ASN menggunakan perangkat kerja pribadi untuk memudahkan pekerjaannya. Paling sering adalah penggunaan laptop pribadi untuk bekerja di kantor dan kendaraan pribadi untuk tugas di lapangan. Kerap kali, penggunaan fasilitas pribadi ini menjadi hal yang lumrah dan mengatasnamakan loyalitas dan pengabdian. Sehingga memunculkan budaya “tidak apa-apa, asalkan pekerjaan selesai.” Dedikasi pegawai itu penting, tetapi jangan sampai mengabaikan kebutuhan fasilitas kerja dan menjadikannya pembenaran bagi pimpinan.
Pada kasus Jin Yii-soo, dia membawa peralatan kerja sendiri berupa komputer dan kursi kerja ke ruang kerjanya. Tentu saja, sebagai anak konglomerat yang terbiasa dengan fasilitas bagus dan mumpuni, peralatan di kantor pemerintah hanyalah mainan ecek-ecek dibandingkan dengan miliknya. Tetapi, kepala kantor tetap tidak suka dengan Jin Yii-soo yang menggunakan fasilitas pribadinya, karena dianggap suka pamer dan sombong.
Jin Yii-soo mengajarkan kepada kita, bahwa sumber daya menentukan ruang gerak seseorang dalam menyelesaikan masalah. Dia memiliki privilege berupa kekayaan dan akses. Abdi negara juga mungkin memiliki kendaraan, laptop, dan jaringan internet yang kemudian “dipinjamkan” kepada negara secara formal. Bedanya dengan kasus Yi-soo adalah bahwa peralatan itu miliknya karena dia mampu, tetapi fasilitas ASN tidak semestinya dan otomatis menjadi fasilitas organisasi.
Efisiensi seharusnya menggunakan anggaran secara tepat, bukan sekadar mengurangi pengeluaran pemerintah. Secara tidak langsung, hal ini akan menjadi privatisasi biaya kerja. Seharusnya pemerintah tetap menghitung biaya tersembunyi seperti BBM, penyusutan kendaraan, kuota internet dan waktu pribadi. Sebenarnya, fasilitas tersebut diberikan kepada pejabat negara dan pimpinan organisasi. Tetapi yang terjadi adalah, mereka lebih sering menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. Bukan seperti Yii-soo yang menggunakan barang pribadi untuk negara.
Film hanyalah seni yang menampilkan bentuk mini dari kehidupan. Tetapi, ada pesan dan nilai yang dapat diperoleh dengan melihat alur cerita dari film tersebut. Dan film ini memutuskan untuk menampilkan bahwa negara semaju Korea pun, akan ada fase di mana abdi negaranya menggunakan fasilitas pribadi untuk kelancaran pekerjaannya. Bukan dengan paksaan tetapi inisiatif sendiri. Dan saat dikaitkan dengan negara kita, efisiensi seharusnya membuat negara lebih cerdas menggunakan anggarannya, bukan membuat pegawainya semakin sering membuka dompet pribadi untuk menyelesaikan pekerjaan negara.
Dan tidak juga menyalahkan ASN yang telah bekerja dengan pengorbanan yang tidak sedikit. Padahal absen itu aturan, ngopi itu jeda, pulang itu hak, malas itu oknum. Jangan samakan semua ASN hanya karena ulah segelintir orang. Tidak semua ASN pantas disamakan. Pada akhirnya, lagu Iwan Fals sangat mewakili kondisi Jin Yii-Soo, dan tidak cocok dengan kondisi abdi negara saat ini.
Namaku Bento
Rumah real estate
Mobilku banyak harta berlimpah
Orang memanggilku boss eksekutif
Tokoh papan atas atas s'galanya
Asiikkk
Sumber Foto : dokumen pribadi
