Jangan Jadi Mertua Kingfisher

Writerpreneur yang nyambi jadi ASN
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari RISNAWATI RIDWAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernikahan bukan hanya tentang dua kepala yang bersatu. Namun, ada dua keluarga yang berada di satu meja besar. Saling mempengaruhi, saling berbicara, saling mendengarkan, dan saling menjaga sikap. Ada dua keluarga yang mempunyai pemikiran berbeda, pengasuhan yang tidak sama. Di sinilah hubungan mertua dan menantu menjadi rumit. Muncullah pertanyaan sederhana pada fase ini, seberapa jauh orang tua boleh ikut campur dalam rumah tangga anaknya? Dan kapan seorang menantu harus belajar memahami bahwa mertua sebenarnya hanya sedang khawatir?
Drama serial Korea, A Bona Fide Killer, bercerita tentang perempuan bernama Yoo Bona yang menikah dengan Kwong Tae Song. Di masa mudanya, Bona adalah penembak runduk yang terkenal dengan sebutan “Kingfisher”. Berburu kriminal namun lolos dari hukum. Pada satu peristiwa, Bona merasa hidupnya jenuh, merasa bersalah dan ingin berhenti. Pimpinan sekaligus rekan kerja setimnya menyarankan untuk beristirahat. Di situlah Bona bertemu dengan Kwong Tae Song yang kemudian menjadi suaminya.
Mempunyai pekerjaan sebagai agen khusus penembak runduk. Bukan profesi sembarangan dan tidak dapat dibanggakan. Tetapi profesi yang tidak dapat dilakukan oleh sembarangan orang, terutama perempuan yang menjadi istri, ibu, dan menantu sekaligus. Bona tumbuh menjadi dua peran dan pribadi yang bertolak belakang. Saat bekerja, Bona adalah perempuan yang dingin, tidak ramah, tegas dan sempurna dalam menuntaskan pekerjaannya. Namun, setelah berada di rumah bersama suami, anaknya Yul, bahkan bersama keluarga suaminya, Bona menjadi perempuan yang patuh, murah senyum dan terlihat bahagia seperti perempuan-perempuan lainnya.
Film A Bona Fide Killer ini tidak hanya menampilkan keseruan adegan action seperti seharusnya sebuah film yang bergenre thriller. Namun, ada slice of life dan drama yang memikat. Terutama tentang hubungan menantu dan mertua. Hubungan Bona dan ibu mertuanya adalah hubungan rumit yang biasa muncul dalam film lainnya. Bahkan banyak cerita nyata tentang hubungan mertua dan menantu yang tidak pernah akur. Tetapi yang membedakan cerita ini adalah sikap yang ditampilkan oleh Bona kepada mertuanya.
Ada bagian scene, sang mertua memarahi Bona. Saat itu sedang ada acara persiapan perayaan leluhur keluarga. Kwong Tae Song mencuci piring di rumah ibunya, sedangkan Bona sudah melarang suaminya membantunya di dapur. Bagi suami, pekerjaan ini adalah pekerjaan yang sama dan selalu berbagi tugas seperti di rumah sendiri. Saat sedang berdebat, muncullah ibu mertua Bona, dan kaget melihat anak laki-laki kesayangannya sedang melakukan pekerjaan rumah tangga.
Ibu mertua memarahi Bona. Bahkan mengatakan, "Dia tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya di dapur, bayangkan wanita ini menekannya.” Sambil menunjuk ke arah Bona. Bona diam sambil meremat-rematkan kedua tangannya. Sang ibu bahkan memaki Bona dengan kalimat, "Apakah orang tuamu mendidik seperti itu?" Pandangan kaget muncul di wajah Bona saat melihat ke arah ibu mertua. Semua juga kaget. Sedetik, ibu mertua juga kaget dengan perkataannya sendiri. Karena semua tahu bahwa Bona adalah yatim piatu yang tidak mempunyai orang tua untuk mengajari hal-hal kehidupan kepadanya.
Mungkin bagi menantu lain akan terjadi perang besar. Bisa jadi si menantu akan pulang sambil menangis kencang dan menuntut suami untuk membelanya. Namun, saat itu Bona hanya diam menunduk sedih. Dan suami Bona, Kwon Tae Song, yang memarahi ibunya sendiri. Sang ibu tahu bahwa ia sudah kelepasan bicara. Tetapi egonya sebagai orang tua tidak mengalah.
Bona dengan kemampuan pengendalian dirinya yang mantap, tetap diam walaupun telah menerima perkataan kasar dari mertua. Kemampuan bersikap dingin di dunia kerja, menjadikan Bona mampu menahan diri untuk tidak menjawab semua perkataan mertuanya. Bona merupakan tipe perempuan yang tahu kapan harus bertindak dan kapan harus diam tanpa bereaksi apa pun.
Scene lainnya yang membuat para menantu di luar sana bereaksi spontan, tetapi tidak bagi Bona, adalah saat mereka sekeluarga mampir ke kedai ayam tempat usaha ibu mertuanya. Ibunya sedang mengeluh tentang menantu yatim-piatunya. Dan merasa kesal tidak dapat melakukan pertemuan dengan keluarga sebelum pernikahan. Kekesalan ini muncul saat bertemu dengan temannya yang akan melangsungkan pernikahan anaknya. Saat Bona dan suaminya mendengar itu, suaminya meminta Bona untuk keluar dan berbicara dengan keluarganya sendiri.
Tae Song mengatakan bahwa Bona adalah perempuan yang disayanginya, sama berharganya bagi dia seperti dia bagi ibunya. Sebagai suami, Tae Song telah memenuhi syarat menjadi suami idaman, dalam memperlakukan istri dan ibunya sesuai kedudukan mereka masing-masing. Banyak istri atau ibu selalu meminta suami dan anak laki-lakinya untuk menjadi hakim di antara mereka berdua. Tentu saja, bagi para suami yang dewasa, sangat sulit berada di posisi ini. Istri dan ibu adalah dua perempuan yang mempunyai kedudukan sama penting bagi dirinya. Mempunyai peranan masing-masing dan besaran cinta kepada mereka mempunyai takaran yang tidak bisa disandingkan.
Walaupun demikian, sebagai menantu, Bona selalu menuruti perintah ibu mertuanya. Mengambil cuti saat bekerja untuk melakukan persiapan perayaan acara leluhur. Ikut menemani belanja ke pasar. Walaupun yang dilakukan salah, Bona tetap rendah hati dan meminta maaf. Melakukan pekerjaan dapur dengan cepat tanpa sepengetahuan mertua dan iparnya. Dan yang tidak diketahui oleh mertuanya adalah bahwa toko kedai ayam tempat usaha ibu mertua itu adalah milik Bona. Melalui broker sewa, Bona tidak menaikkan biaya sewa toko, sedangkan tetangga-tetangga mereka sudah harus membayar sewa yang lebih tinggi.
Namun demikian, bagi Bona, tidak ada yang boleh menyakiti anak dan suaminya sedikit pun. Saat Yul hilang, semua mencari dengan panik. Bahkan Bona meminta tolong kepada tim kerjanya yang mempunyai kemampuan meretas CCTV untuk mengetahui ke mana anaknya menghilang. Kali ini Bona tidak tinggal diam saat anaknya berada dalam bahaya. Bagi Bona, tidak apa-apa dia diperlakukan tidak baik oleh mertuanya, tetapi jangan sampai anaknya merasakan ketidaknyamanan dan ketidakbahagiaan seperti masa kecilnya.
Pada akhirnya, ibu mertua luluh juga hatinya. Saat menantunya membantu mengambil uang hasil tabungannya selama ini yang dicuri oleh penipu. Ibunya sangat sulit mengucapkan kata terima kasih, bahkan si bungsu menggoda dengan mengatakan, “Apa sulitnya mengatakan terima kasih?” Saat makan bersama, ibu mertua juga meletakkan banyak daging sapi di mangkuk nasi Bona. Dan Tae Song melihat hal itu. Seorang ibu tidak sulit mengatakan cinta kepada anaknya, tapi saat harus mengatakan cinta kepada anak ibu yang lain dan dia tidak mampu, maka bahasa cintanya adalah melayani dengan tindakan.
Teman Bona pernah bertanya, “Apakah mempunyai keluarga itu menyenangkan?”. Sambil tersenyum, Bona menjawab, “Iya, menyenangkan.” “Mana lebih menyenangkan dengan teman?” Sambil melihat jauh melalui jendela, Bona mengatakan, “Bagiku, teman itu adalah tamu yang membawa makanan ke pulau tempat tinggalku. Sedangkan keluarga adalah pulau itu sendiri. Tempat aku pulang. Satu-satunya pulau milikku di tengah lautan yang tidak berujung.”
Film ini mengajarkan bahwa menjadi perempuan tangguh itu sulit, tetapi bukan tidak mungkin. Bona tangguh melawan penjahat, dan saat harus menghadapi mertuanya yang jahat, Bona memilih cara yang berbeda.
