Konten dari Pengguna

Pengabdian dan Mimpi Siswa Menuju Sekolah Rakyat

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari RISNAWATI RIDWAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto : Doc pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto : Doc pribadi

Menjadi seorang ASN yang bekerja di pemerintah mengajarkan saya untuk memahami program pemerintah sejak program direncanakan hingga pelaksanaannya. Dan berada dalam klaster sosial juga mengajarkan arti pengabdian dan perjuangan kepada masyarakat marjinal. Urusan sosial merupakan salah satu urusan wajib, di mana negara harus hadir untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul dan membuat warga negara dapat menjalankan fungsi dan peranan sosial.

Program Sekolah Rakyat merupakan salah satu program prioritas pemerintah untuk memperluas akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu, bahkan miskin ekstrem. Tujuan program ini adalah memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui penyediaan akses pendidikan berbentuk asrama, namun gratis, merata, dan memenuhi standar pendidikan formal yang telah ditetapkan.

Tugas pemerintah adalah menyediakan pintu tersebut. Mempersiapkan regulasi dan fasilitas merupakan tugas pertama. Mencari orang yang bersedia menerima program adalah tugas selanjutnya. ASN mempunyai peran penting sebagai pelaksana kebijakan sekaligus pelayan masyarakat. Pendamping sosial bertugas mencari dan menjangkau calon siswa sebagai bentuk nyata pengabdian seorang ASN. Di sini dibutuhkannya kepedulian dan kesediaan untuk mencari sampai ke akar rumput tempat mereka berada dan mengondisikan mereka untuk memperoleh layanan.

Kenyataannya, mencari calon siswa tidaklah segampang mengambil batu di padang rumput. Terlihat nyata, tetapi sulit diangkat karena sudah berakar. Pada tahap awal pencarian calon siswa, hal pertama yang dilakukan oleh para pendamping sosial adalah menyaring secara sistematis. Sistem yang dimaksud menggunakan aplikasi SIKS-NG yang berisikan data kesejahteraan sosial DTSEN atau Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional yang berada dalam tanggung jawab Kementerian Sosial RI.

Berikutnya adalah ujian yang harus dihadapi oleh pendamping. Turun ke lapangan dan melakukan verifikasi dan validasi data. Untuk memastikan bahwa secara riil, keluarga tersebut berada dalam tingkat kesejahteraan terendah, kunjungan dilakukan ke rumah sesuai dengan alamat yang tertera di sistem.

Seperti cerita teman pendamping sosial. Salah satu calon yang masuk dalam kategori menemui pendamping kami. Ibunya adalah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH). Pendamping menanyakan kesediaan si ibu sekaligus si anak dan mengemukakann persyaratan yang telah di tetapkan.

Pada tahap ini, pendamping menggunakan pendekatan yang berbeda antara si anak dan orang tuanya. Sebagai orang tua yang menyadari kemampuan ekonomi minim, mendapat tawaran dan kesempatan bersekolah gratis adalah sebuah anugerah. Tetapi pendamping juga memastikan kemauan si anak untuk berpisah dengan keluarganya. Pada tahap ini, pendamping tidak mendapati masalah yang dikhawatirkan. Tetapi saat pendamping memerlukan dokumen persyaratan, pendamping tidak dapat menemui lagi keluarga tersebut karena sudah berpindah tempat padahal hanya berselisih 2 hari.

Pendamping mencari ke lokasi yang diperkirakan tempat tinggal sementara. Bahkan pendamping menghubungi KPM PKH lainnya yang kebetulan satu kelompok dan menanyakan lokasi KPM yang dituju. Pendamping berkejaran dengan waktu. Butuh waktu tiga hari untuk menemukan lokasi KPM tersebut. Ternyata keluarga ini berjumlah enam orang, terdiri dari ibu dan lima orang anak, tinggal di sebuah ruangan kecil yang terletak di kamar mandi sebuah rumah sakit daerah. Melihat kondisi tersebut, pendamping bertekad memastikan anak ini lolos masuk ke dalam sistem siswa baru.

Sumber foto : Doc pribadi

Ada cerita lain dari pendamping yang berbeda wilayah kecamatan, namun masih berada dalam satu wilayah kerja. Pendamping mendapat laporan dari salah satu KPM dampingannya, dan memohon agar adiknya yang masih berumur 9 tahun dan 13 tahun dapat bersekolah di Sekolah Rakyat. Permasalahan muncul saat ingin bertemu dengan adik-adiknya. Ternyata hasil asesmen awal dari kakak, adik-adiknya merupakan anak jalanan, mengikuti perilaku ibu yang tidak menetap di satu tempat. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di jalan, baik itu mencari penghasilan maupun bermain. Pendamping harus berkeliling mencari anak-anak tersebut, mengingat mobilitas sangat tinggi. Bahkan bergerilya di malam hari. Membutuhkan waktu 2 hari untuk bertemu dan melakukan asesmen awal dengan anak dan ibunya. Dan 5 hari kemudian untuk memperoleh persyaratan yang dibutuhkan.

Proses penginputan calon siswa atau casis ini ke dalam aplikasi merupakan masalah lain. Adanya perubahan regulasi dan tenggat waktu yang tipis. Belum lagi tuntutan pekerjaan utama dari atasan langsung yang tetap harus dipenuhi sesuai waktu dan target yang telah diberikan. Bahkan sistem aplikasi yang digunakan sempat mengalami error sehingga tidak mendukung proses percepatan untuk menginput data calon siswa ini.

Bagian paling berat adalah saat persetujuan diterima atau tidaknya seorang calon siswa belum diumumkan. Sedangkan pendamping harus memberikan informasi kepada keluarga yang anak-anaknya akan mengikuti program Sekolah Rakyat. Di saat bersamaan, program Sekolah Rakyat sedikit lebih lambat dimulai, dibandingkan dengan masa ajaran baru di sekolah lainnya. Munculnya ketakutan para orang tua jika anaknya tidak lolos verifikasi, sehingga kesempatan masuk ke sekolah lain juga sudah tertutup.

Di sinilah perjuangan dan pengabdian kami dipertaruhkan. Kami dituntut tidak hanya menjalankan tugas administratif di kantor, tetapi juga hadir dan bekerja langsung untuk masyarakat. Kami harus memiliki rasa empati, kesabaran, tanggung jawab dan semangat pantang menyerah.

Dan beban tersebut hilang saat mendengar seorang anak berkata kepada pendampingnya, “Ini handuk saya? Ini kasur saya? Ini lemari saya? Kami tidak punya handuk sendiri, bahkan kami tidur tanpa bantal. Terima kasih, Kakak, Terima kasih, Ibu, Kami bahagia bisa sekolah di sini di Sekolah Rakyat." Air mata mengalir tanpa henti dan dada sesak karena kebahagiaan mereka menjadi upah yang paling berharga untuk kami. Kami yakin, saat kami ditugaskan mencari anak-anak ini, kami menyimpan harapan untuk kemajuan Indonesia Emas.