Konten dari Pengguna

Gen Z Bukan Tidak Ingin Menikah, tetapi Lebih Memilih Menunggu Kesiapan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Risqa Tiara Balqis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernikahan masih menjadi salah satu hal yang diinginkan oleh sebagian besar generasi muda. Namun, keputusan untuk menikah kini tidak selalu dianggap sebagai sesuatu yang harus dilakukan dalam waktu dekat. Bagi sebagian anak muda, kesiapan finansial, pendidikan, dan karier menjadi pertimbangan penting sebelum memutuskan untuk membangun rumah tangga.

Hal tersebut terlihat dari hasil survei sederhana mengenai fenomena menurunnya minat menikah di kalangan Generasi Z. Survei yang dilakukan melalui Google Forms pada 30 Oktober 2026 ini melibatkan 27 responden berusia 18–23 tahun. Pengumpulan jawaban berlangsung mulai pukul 14.24 hingga 15.40 WIB. Tautan survei dibagikan kepada calon responden untuk diisi secara daring, kemudian seluruh jawaban direkap dan dihitung melalui spreadsheet.

Foto pernikahan teman dari Penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Foto pernikahan teman dari Penulis.

Dari hasil survei, sebanyak 10 responden atau 37 persen menyatakan ingin menikah di masa depan. Enam responden lainnya atau 22,2 persen bahkan menyatakan sangat ingin menikah. Sementara itu, 11 responden atau 40,7 persen masih merasa ragu-ragu. Tidak ada responden yang secara langsung memilih jawaban tidak ingin menikah.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa keinginan untuk menikah sebenarnya masih ada di kalangan responden. Namun, sebagian dari mereka belum sepenuhnya yakin untuk mengambil keputusan tersebut. Hal ini juga terlihat dari rencana usia pernikahan. Sebanyak 15 responden atau 55,6 persen memilih usia 25–29 tahun sebagai waktu yang diinginkan untuk menikah. Lima responden lainnya memilih usia 30–34 tahun, tiga responden memilih menikah di bawah usia 25 tahun, sedangkan empat responden belum memiliki rencana untuk menikah.

Salah satu alasan yang paling menonjol dari hasil survei adalah kondisi finansial. Ketika diminta memilih faktor yang paling memengaruhi menurunnya minat menikah di kalangan Gen Z, sebanyak delapan responden atau 29,6 persen memilih ketidakstabilan finansial. Sementara itu, lima responden atau 18,5 persen memilih tingginya biaya pernikahan dan biaya kehidupan setelah menikah.

Temuan tersebut juga terlihat dari jawaban pada pertanyaan berskala 1–5. Sebanyak 24 dari 27 responden memberikan skor 4 atau 5 pada pernyataan bahwa kondisi finansial yang belum stabil menjadi alasan untuk menunda atau tidak ingin menikah. Artinya, persoalan ekonomi menjadi salah satu pertimbangan yang cukup kuat bagi responden dalam menentukan kesiapan menikah.

Selain masalah finansial, pendidikan dan karier juga menjadi perhatian. Sebanyak 25 responden atau 92,6 persen memberikan skor 4 atau 5 pada pernyataan bahwa mereka lebih memilih fokus terhadap pendidikan dan karier sebelum memutuskan untuk menikah. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden ingin menyelesaikan atau memprioritaskan pengembangan diri terlebih dahulu sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.

Pertimbangan tersebut tidak terlepas dari tanggung jawab yang akan dihadapi setelah menikah. Sebanyak 15 responden memberikan skor 4 atau 5 pada pernyataan bahwa besarnya tanggung jawab dalam rumah tangga membuat mereka ragu untuk menikah. Selain itu, 17 responden memberikan skor 4 atau 5 pada pernyataan bahwa pengalaman perceraian atau konflik rumah tangga di lingkungan sekitar memengaruhi pandangan mereka terhadap pernikahan.

Ketakutan terhadap komitmen dan perceraian juga muncul dalam pertanyaan mengenai faktor yang paling berpengaruh. Sebanyak empat responden memilih faktor tersebut sebagai alasan utama menurunnya minat menikah. Sementara itu, tiga responden memilih keinginan untuk mempertahankan kebebasan pribadi. Faktor lainnya yang muncul dalam jawaban responden adalah pengaruh media sosial, perubahan gaya hidup, serta keinginan untuk lebih fokus pada pendidikan dan karier.

Fenomena ini juga dapat dilihat dari kondisi perkawinan di Indonesia. Dalam kajian yang diterbitkan Yayasan Institut Kewarganegaraan Indonesia (IKI) pada 27 Juli 2026, jumlah perkawinan yang tercatat secara resmi di Indonesia menunjukkan kecenderungan menurun dalam periode 2020–2025. Berdasarkan data BPS yang dikompilasi dalam kajian tersebut, jumlah perkawinan tercatat turun dari 1.785.184 pada 2020 menjadi 1.480.048 pada 2025. Meski demikian, pada 2025 terdapat sedikit kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Data tersebut merupakan catatan perkawinan resmi dan tidak secara langsung menunjukkan alasan seseorang memilih menikah atau menunda pernikahan.

Foto pernikahan dari teman Penulis.

Dari sisi ekonomi, penelitian Sahara Putri Dina yang diterbitkan melalui Repository UIN Raden Intan Lampung pada 2026 membahas kemapanan finansial sebelum menikah dan kaitannya dengan kesiapan pernikahan generasi milenial. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa kemapanan finansial dipahami sebagai kemampuan memiliki pendapatan stabil, mengelola keuangan, dan memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga. Penelitian itu juga menunjukkan bahwa penekanan yang berlebihan terhadap kemapanan finansial berpotensi mendorong penundaan pernikahan. Meskipun berfokus pada generasi milenial, penelitian ini dapat menjadi pembanding untuk memahami pentingnya kesiapan ekonomi sebelum menikah.

Sementara itu, dosen Psikologi Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Siti Jaro'ah, dalam artikel yang diterbitkan pada 12 Oktober 2024, menjelaskan bahwa ketidakpastian ekonomi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kekhawatiran generasi muda terhadap pernikahan. Ia juga menyoroti kekhawatiran mengenai perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga, serta perubahan prioritas generasi muda yang kini lebih memilih fokus pada pengembangan diri, pendidikan, dan karier.

Kembali pada hasil survei, sebanyak 23 dari 27 responden atau 85,2 persen menilai bahwa tren menurunnya minat menikah di kalangan Gen Z mungkin atau sangat mungkin terus berlanjut pada masa depan. Sebanyak tiga responden masih ragu-ragu, sedangkan satu responden menilai tren tersebut tidak mungkin berlanjut.

Dari keseluruhan hasil tersebut, dapat dilihat bahwa menurunnya minat menikah tidak selalu berarti generasi muda menolak pernikahan. Sebagian besar responden masih memiliki keinginan untuk menikah, tetapi mereka ingin mempertimbangkan kesiapan sebelum mengambil keputusan. Kondisi finansial, biaya kehidupan, pendidikan, dan karier menjadi beberapa hal yang paling banyak diperhatikan.

Survei ini memang hanya melibatkan 27 responden dan mayoritas berstatus mahasiswa. Karena itu, hasilnya tidak dapat mewakili seluruh Generasi Z di Indonesia. Namun, temuan tersebut memberikan gambaran bahwa bagi sebagian anak muda, menikah bukan hanya persoalan keinginan, tetapi juga berkaitan dengan kesiapan untuk menjalani tanggung jawab setelahnya.