Konten dari Pengguna

Kontribusi PGPAUD dalam Mencerdaskan Kehidupan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari RISTI DWI YUNIASTUTI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

foto pribadi
zoom-in-whitePerbesar
foto pribadi

Kalau membicarakan pendidikan, yang sering terbayang adalah sekolah, guru, buku, dan berbagai macam pelajaran. Padahal, pendidikan sebenarnya sudah dimulai sejak anak masih kecil. Anak belajar dari hal-hal sederhana yang mereka lakukan setiap hari, seperti bermain bersama teman, berbicara, menggambar, mengenal lingkungan, mengikuti aturan, sampai mencoba melakukan sesuatu sendiri. Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi menjadi bagian penting dalam perkembangan anak.

Melalui kegiatan sehari-hari, anak mulai belajar mengenal dirinya, memahami orang lain, berkomunikasi, dan mencoba menyelesaikan berbagai hal dengan caranya sendiri. Oleh karena itu, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tidak seharusnya hanya dianggap sebagai tempat bermain atau sekadar tempat sebelum anak masuk sekolah dasar. Pada tahap ini, anak mulai mengenal banyak hal yang menjadi dasar bagi perkembangan mereka. Pengalaman yang diperoleh sejak usia dini dapat menjadi bekal bagi anak untuk mengikuti pendidikan pada tahap berikutnya. Menurut saya, PGPAUD memiliki kontribusi dalam proses tersebut karena mempersiapkan calon pendidik yang nantinya akan mendampingi anak pada masa awal perkembangannya. Mahasiswa PGPAUD tidak hanya belajar tentang cara mengajar, tetapi juga mempelajari perkembangan, karakter, dan kebutuhan anak usia dini. Hal ini penting karena setiap anak memiliki cara belajar dan perkembangan yang berbeda. Mencerdaskan kehidupan bangsa tidak selalu harus dimulai dari pendidikan yang tinggi, tetapi juga dapat dimulai dengan memberikan pendidikan yang baik sejak anak usia dini.

Di sisi lain, masih ada beberapa masalah yang membuat pendidikan anak usia dini belum berjalan secara maksimal. Salah satunya adalah anggapan bahwa kegiatan di PAUD hanya bermain dan belum dianggap sebagai proses belajar. Padahal, melalui bermain anak dapat belajar berkomunikasi, berbagi, bekerja sama, mengikuti aturan, memecahkan masalah sederhana, dan menjadi lebih mandiri. Ketika bermain bersama teman, anak juga belajar menunggu giliran, berbagi mainan, menyampaikan keinginan, dan menghadapi perbedaan. Selain itu, pembelajaran terkadang masih terlalu berfokus pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Kemampuan tersebut memang penting, tetapi anak juga membutuhkan kemampuan sosial, emosional, kreativitas, komunikasi, dan kemandirian. Anak yang akan masuk sekolah dasar tidak hanya membutuhkan kemampuan mengenal huruf dan angka, tetapi juga perlu mampu mengikuti aturan, berkomunikasi dengan guru dan teman, mengelola perasaan, serta melakukan kegiatan sederhana secara mandiri. Hal ini sejalan dengan penelitian Hanifah, Kurniati, dan Rudiyanto (2024) yang membahas peran guru PAUD dalam mempersiapkan kesiapan belajar anak pada masa transisi dari PAUD ke sekolah dasar. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kesiapan anak tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan sosial, emosional, dan kemandirian. Menurut saya, hal ini menunjukkan bahwa tugas guru PAUD cukup besar. Guru tidak hanya membantu anak mengenal huruf dan angka, tetapi juga mendampingi anak agar percaya diri, mampu berinteraksi dengan orang lain, dan siap menghadapi lingkungan belajar yang baru. Karena itu, PGPAUD juga perlu mempersiapkan calon guru agar memahami bahwa setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga perlu mengetahui bagaimana cara menerapkannya ketika berhadapan langsung dengan anak.

Untuk menghadapi masalah tersebut, kontribusi PGPAUD perlu terus diperkuat dengan memberikan lebih banyak pengalaman kepada mahasiswa, bukan hanya melalui teori di kelas. Mahasiswa PGPAUD perlu mendapatkan kesempatan untuk praktik, melakukan observasi, dan berinteraksi langsung dengan anak. Dari pengalaman tersebut, mahasiswa dapat belajar menghadapi berbagai karakter anak dan memahami bahwa cara belajar setiap anak tidak selalu sama. Calon guru juga perlu dibiasakan membuat kegiatan yang menarik dan menyenangkan agar anak dapat belajar tanpa merasa terbebani. Pembelajaran tidak harus selalu menggunakan fasilitas yang mahal karena benda-benda sederhana di sekitar juga dapat digunakan sebagai media belajar. Kertas, kardus, daun, batu, air, atau benda lain yang aman dapat dimanfaatkan untuk membuat kegiatan yang menarik sekaligus mengenalkan anak pada lingkungan sekitar. Selain itu, guru perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya, mencoba, dan melakukan kesalahan karena proses tersebut juga merupakan bagian dari belajar. Kerja sama antara guru, orang tua, dan lingkungan juga perlu diperkuat agar perkembangan anak dapat didukung bersama-sama. Pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab guru di sekolah, tetapi juga membutuhkan dukungan dari keluarga. Kebiasaan sederhana di rumah, seperti merapikan mainan, berbagi, mengucapkan terima kasih, membantu kegiatan ringan, dan mencoba melakukan sesuatu sendiri dapat membantu membentuk kemandirian anak. Menurut saya, ketika calon guru PAUD dipersiapkan dengan baik, mereka akan lebih siap memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak. Kontribusi PGPAUD tidak hanya terlihat dari jumlah lulusan yang dihasilkan, tetapi juga dari kualitas calon guru yang nantinya mendampingi anak. Anak pun dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, kreatif, mampu bekerja sama, dan memiliki karakter yang baik. Dari pendidikan yang diberikan sejak usia dini inilah PGPAUD dapat memberikan kontribusi nyata dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.