Anatomi Defisit: Tubuh yang Diciptakan untuk Selalu Merasa Kurang

Tendik di Prodi Keperawatan FKIK UMY
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Riswan Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mungkin penemuan terbesar peradaban modern bukanlah mesin uap, listrik, internet, atau bahkan kecerdasan buatan. Penemuan terbesar itu jauh lebih sederhana dan sekaligus jauh lebih berbahaya: kemampuan membuat manusia merasa dirinya selalu kurang.
Coba perhatikan cara kita menjalani hari. Ponsel masih menyala, tetapi model terbaru sudah keluar. Tubuh masih sehat, tetapi muncul aplikasi yang memberi tahu berapa langkah yang belum kita tempuh. Wajah masih wajah kita sendiri, tetapi kamera ponsel menyediakan filter yang membuat hidung lebih mancung, kulit lebih mulus, dan rahang lebih tegas. Bahkan ketika sedang tidak melakukan apa-apa, kita masih bisa merasa tertinggal karena melihat orang lain sedang melakukan sesuatu di media sosial.
Kita hidup dalam zaman ketika rasa kurang telah menjadi industri.
Padahal selama ribuan tahun, manusia hidup bersama keterbatasannya. Mata tidak bisa melihat menembus tembok. Telinga tidak mampu mendengar semua suara. Ingatan mudah lupa. Kaki memiliki batas perjalanan. Tangan hanya bisa mengerjakan pekerjaan tertentu. Anehnya, semua itu dahulu tidak selalu dianggap sebagai masalah yang harus segera diperbaiki.
Keterbatasan adalah bagian dari pengalaman menjadi manusia.
Sekarang ceritanya berbeda. Keterbatasan semakin sering diperlakukan sebagai gangguan yang harus diselesaikan. Mata harus dibantu kamera beresolusi tinggi. Ingatan harus dititipkan kepada cloud. Konsentrasi dibantu aplikasi. Kreativitas dibantu kecerdasan buatan. Bahkan tidur pun harus dipantau oleh perangkat untuk memastikan apakah kita benar-benar tidur dengan baik.
Kita kemudian berhadapan dengan apa yang bisa disebut sebagai anatomi defisit: sebuah sistem yang membuat manusia terus-menerus menemukan kekurangan dalam dirinya sendiri.
Cara kerjanya sederhana. Jangan menjual barang lebih dahulu. Jual rasa kurangnya.
Seseorang yang merasa ponselnya masih baik-baik saja bukan konsumen yang menjanjikan. Begitu pula orang yang merasa tubuhnya sudah cukup sehat, wajahnya sudah cukup baik, rumahnya sudah cukup nyaman, atau hidupnya sudah cukup menyenangkan.
Maka rasa cukup harus dibuat sedikit mencurigakan.
Ponsel lama diberi label ketinggalan zaman. Tubuh biasa dianggap belum ideal. Rumah sederhana dianggap belum estetik. Liburan biasa dianggap kurang pengalaman. Bahkan makan pun kini bisa menjadi proyek optimasi: berapa kalori, berapa protein, berapa gula, berapa langkah yang harus dibakar sesudahnya.
Kita bukan lagi sekadar hidup. Kita sedang mengelola proyek bernama diri sendiri.
Tubuh menjadi proyek yang tidak pernah selesai.
Kulit harus dirawat, rambut harus diperbaiki, otot harus dibentuk, berat badan harus dikontrol. Setelah itu, cara berpikir juga harus ditingkatkan. Produktivitas harus dinaikkan. Kemampuan komunikasi harus diasah. Personal branding harus dibangun. Meditasi harus dijadwalkan. Bahkan kebahagiaan pun sekarang bisa memiliki program pelatihannya sendiri.
Tidak ada yang salah dengan merawat tubuh atau mengembangkan diri. Persoalannya muncul ketika seluruh kehidupan mulai dibangun di atas asumsi bahwa diri kita selalu berada dalam kondisi belum cukup.
Kata yang paling sibuk dalam kehidupan modern mungkin adalah “belum”.
Belum punya ponsel terbaru. Belum punya rumah. Belum punya pasangan. Belum punya gelar. Belum punya pekerjaan yang dianggap keren. Belum punya pengikut yang cukup banyak. Belum pernah ke tempat yang sedang ramai dibicarakan. Belum mencapai target.
Begitu satu “belum” berhasil diselesaikan, muncul “belum” berikutnya.
Kita membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkannya, tetapi karena takut tertinggal. Kita mengikuti tren bukan karena menyukainya, melainkan karena khawatir dianggap tidak mengikuti zaman. Kita mengunggah kehidupan bukan hanya untuk berbagi pengalaman, tetapi juga untuk memastikan bahwa kehidupan kita terlihat cukup layak dibandingkan kehidupan orang lain.
Di sinilah media sosial menjadi mesin yang sangat efektif dalam memproduksi defisit.
Kita membuka Instagram untuk melihat kehidupan orang lain, lalu menutupnya dengan perasaan bahwa hidup kita kurang menarik. Kita melihat orang berolahraga, lalu merasa tubuh kita kurang sehat. Melihat orang bepergian, kita merasa kurang pengalaman. Melihat orang membeli rumah, kita merasa kurang mapan. Melihat seseorang sukses pada usia tertentu, kita mulai menghitung umur sendiri.
Padahal kita sedang membandingkan kehidupan sehari-hari kita dengan potongan kehidupan orang lain yang sudah dipilih, diedit, dan dipajang.
Algoritma tidak harus mengatakan bahwa kita gagal. Ia cukup terus menunjukkan kepada kita sesuatu yang belum kita punya.
Defisit pun bekerja dengan tenang.
Kecerdasan buatan membawa persoalan ini ke tahap yang lebih menarik. Teknologi tersebut memang dapat membantu manusia bekerja, mencari informasi, menyusun tulisan, menerjemahkan bahasa, membuat gambar, dan menyelesaikan berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu lebih lama.
Namun di balik kemudahan itu muncul pertanyaan lain: apakah bantuan teknologi perlahan membuat manusia kehilangan kepercayaan kepada kemampuannya sendiri?
Kita mulai bertanya apakah tulisan kita cukup bagus tanpa bantuan mesin. Apakah gambar kita cukup menarik tanpa penyempurnaan digital. Apakah ingatan kita cukup dapat dipercaya tanpa mesin pencari. Apakah gagasan kita cukup cerdas tanpa bantuan chatbot.
Masalahnya bukan pada teknologinya. Masalahnya adalah ketika teknologi yang seharusnya menjadi alat perlahan berubah menjadi ukuran baru tentang ketidakcukupan manusia.
Kita tidak lagi sekadar menggunakan alat untuk memperpanjang kemampuan tubuh. Kita mulai mengukur tubuh berdasarkan kemampuan alat.
Ironisnya, semakin banyak alat yang kita miliki, semakin panjang pula daftar hal yang kita anggap kurang.
Barangkali inilah salah satu paradoks modernitas: teknologi membuat manusia memiliki lebih banyak kemampuan, tetapi tidak otomatis membuat manusia merasa lebih cukup.
Sebab rasa cukup memang tidak mudah dijual.
Tidak ada iklan yang mengatakan, “Jangan beli apa-apa hari ini. Barang Anda masih berfungsi.”
Tidak banyak aplikasi yang memberi notifikasi, “Anda sudah cukup. Silakan berhenti.”
Tidak banyak platform yang berkepentingan mengatakan, “Tidak apa-apa jika Anda tidak mengikuti tren.”
Ekonomi modern justru membutuhkan manusia yang selalu memiliki satu kekurangan lagi untuk diperbaiki.
Dalam kebudayaan yang lebih lama, kecukupan bukan sesuatu yang memalukan. Orang berhenti bekerja ketika pekerjaan selesai. Pengrajin berhenti mengubah karya ketika bentuknya dianggap telah tepat. Petani memahami musim dan batas tenaga tubuh. Ada pengetahuan sederhana bahwa sesuatu tidak harus dibuat lebih besar, lebih cepat, lebih banyak, atau lebih sempurna hanya karena teknologi memungkinkan hal itu dilakukan.
Hari ini kita semakin sulit mengatakan, “sudah.”
Selesai dianggap kurang ambisius. Berhenti dianggap kalah. Tidak mengoptimalkan diri dianggap menyia-nyiakan potensi.
Akibatnya, tubuh tidak pernah benar-benar pulang kepada dirinya sendiri. Ia terus menjadi proyek yang harus diperbaiki.
Mungkin karena itu, pertanyaan penting hari ini bukan lagi bagaimana membuat manusia semakin sempurna, melainkan siapa yang diuntungkan ketika manusia terus merasa dirinya tidak sempurna.
Sebab tidak semua keterbatasan adalah masalah. Tidak semua kekurangan membutuhkan produk. Tidak semua rasa tidak nyaman membutuhkan aplikasi. Tidak semua kesalahan perlu segera diperbaiki.
Ada sesuatu yang mungkin hilang ketika manusia terlalu sibuk menghapus kekurangannya: kemampuan untuk hidup berdampingan dengan batas.
Padahal manusia sejak awal memang makhluk berbatas. Kita lupa. Kita lelah. Kita gagal. Kita menua. Kita tidak tahu banyak hal. Kita tidak bisa melakukan semuanya. Dan mungkin justru karena itulah kita manusia.
Maka kebebasan barangkali tidak selalu berarti memiliki lebih banyak kemampuan.
Kadang-kadang kebebasan justru dimulai ketika kita berani mengatakan: cukup.
Cukup dengan tubuh ini. Cukup dengan kemampuan ini. Cukup dengan hidup yang tidak selalu harus dipamerkan. Cukup dengan menjadi manusia yang tidak setiap saat harus diperbarui.
Sebab bisa jadi, ancaman terbesar bagi manusia bukan ketika teknologi mengambil alih seluruh kemampuan tubuhnya, melainkan ketika manusia mulai percaya bahwa dirinya tidak pernah cukup tanpa teknologi.
Pada titik itu, kita tidak lagi membeli alat untuk membantu hidup.
Kita membeli keyakinan bahwa kita tidak akan pernah mampu hidup tanpanya.
Dan mungkin di situlah anatomi defisit menemukan bentuknya yang paling sempurna: tubuh manusia yang secara biologis masih utuh, tetapi secara psikologis telah berhasil diyakinkan bahwa ia selalu kekurangan satu hal lagi.
