Konten dari Pengguna

Arkeologi Okulesika: Dari Mata yang Membelalak ke Mata yang Diperintah

Riswan Hidayat

Riswan Hidayat

Tendik di Prodi Keperawatan FKIK UMY

·waktu baca 12 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riswan Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar ilustrasi dari chat gpt
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ilustrasi dari chat gpt

Arkeologi biasanya bekerja dengan benda-benda yang ditinggalkan manusia: prasasti, pecahan gerabah, senjata, makam, rumah, atau sisa-sisa tubuh yang telah menjadi artefak. Tetapi suatu hari, ketika abad ke-21 tinggal menjadi lapisan masa lalu, barangkali yang paling menarik untuk digali bukan benda-benda itu, melainkan cara manusia menggunakan matanya.

Mata akan menjadi salah satu artefak paling penting untuk memahami peradaban kita.

Bukan karena mata mengalami perubahan biologis yang dramatis, melainkan karena cara manusia menatap telah berubah secara sosial. Kita masih memiliki mata yang sama, tetapi tidak lagi memiliki kebebasan yang sama untuk menggunakannya. Mata yang dahulu menjadi alat untuk membaca dunia perlahan berubah menjadi organ yang diarahkan oleh layar, algoritma, kamera, dan berbagai sistem yang menentukan apa yang layak mendapat perhatian.

Inilah yang dapat disebut sebagai arkeologi okulesika: usaha membaca sejarah manusia melalui perubahan perilaku tatapan, arah pandangan, durasi melihat, cara menghindari pandangan orang lain, dan terutama siapa yang memiliki kuasa untuk menentukan ke mana mata manusia harus pergi.

Persoalannya bukan sekadar bahwa manusia modern terlalu sering menatap layar. Persoalannya jauh lebih dalam: kita mulai kehilangan hak untuk menentukan apa yang layak ditatap.

Dalam kebudayaan Jawa, mata tidak pernah sekadar alat penglihatan. Tatapan memiliki tata krama, jarak, intensitas, bahkan etika. Dalam pewayangan, mata tidak hanya memperlihatkan wajah tokoh, tetapi juga watak dan posisi batinnya. Mata para satria yang cenderung liyepan, dengan pandangan yang tidak redup dan kepala yang tumungkul, tidak harus dibaca sebagai kelemahan. Ia adalah bentuk pengendalian diri: seseorang tidak perlu menatap segala sesuatu secara rakus untuk menunjukkan bahwa dirinya hadir.

Sebaliknya, Punokawan menghadirkan dunia tatapan yang berbeda. Mata Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong memungkinkan kritik muncul melalui ekspresi, kelucuan, lirikan, dan ketidakteraturan. Tatapan mereka tidak selalu tunduk kepada tata krama kekuasaan. Ada mata yang merendah, tetapi ada pula mata yang mengganggu.

Masyarakat lama sebenarnya telah memahami sesuatu yang sekarang sering kita lupakan: cara melihat adalah cara mengambil posisi terhadap dunia.

Karena itu, sejarah mata manusia dapat dibaca bukan hanya melalui apa yang dilihatnya, tetapi juga melalui posisi tubuh yang menyertainya. Ada mata yang membelalak karena dipaksa menyaksikan. Ada mata yang menunduk karena takut. Ada mata yang berpaling karena malu. Ada mata yang menghindar karena tidak sanggup menanggung apa yang dilihatnya.

Sastra Indonesia pernah memperlihatkan persoalan ini dengan sangat tajam.

Dalam Saksi Mata, Seno Gumira Ajidarma menghadirkan mata sebagai pusat kesaksian. Mata menjadi organ yang melihat kekerasan ketika bahasa berada dalam situasi yang tidak memungkinkan kebebasan berbicara. Di sana, mata yang membelalak bukan sekadar ekspresi ketakutan. Ia adalah mata yang dipaksa menjadi saksi. Ketika mulut tidak mampu atau tidak diperbolehkan mengatakan sesuatu, mata menyimpan apa yang telah dilihatnya.

Mata semacam itu memiliki beban etis. Ia tidak bebas memilih apa yang hendak dilihat. Kekerasan datang ke hadapannya dan memaksanya menjadi saksi.

Di kutub lain, kita dapat membaca Bibir dalam Pispot sebagai gambaran tentang tubuh dan tatapan yang bergerak ke arah yang berbeda: mata yang tunduk. Jika mata dalam Saksi Mata membelalak menghadapi kenyataan yang mengerikan, mata yang tunduk menunjukkan tubuh yang telah kehilangan posisi untuk menatap dunia secara bebas. Tatapan tidak lagi menjadi tindakan menghadapi kenyataan, tetapi bagian dari gerak menghindar, menunduk, atau bertahan dalam situasi yang absurd.

Keduanya memperlihatkan bahwa kekuasaan tidak selalu bekerja dengan cara yang sama terhadap mata.

Kadang-kadang kekuasaan memaksa mata melihat terlalu banyak.

Kadang-kadang ia membuat mata takut untuk melihat.

Dan pada tahap yang lebih mutakhir, ia tidak perlu melakukan keduanya. Ia cukup menentukan apa yang muncul di depan mata.

Di sinilah mata manusia modern memasuki babak baru.

Di ruang publik, di kereta, halte, ruang tunggu, kafe, bahkan di antara dua orang yang sedang makan bersama, mata semakin sering jatuh ke sebuah benda kecil bercahaya. Kita menyebutnya kebiasaan, produktivitas, hiburan, atau sekadar mengisi waktu. Tetapi secara kultural telah terjadi sesuatu yang lebih serius: tatapan manusia telah dipindahkan dari dunia yang hadir secara fisik kepada dunia yang dipilihkan oleh layar.

Kita tidak lagi sekadar melihat. Kita semakin sering melihat apa yang sudah lebih dahulu dipilih untuk kita.

Algoritma menentukan apa yang muncul lebih dahulu, apa yang diulang, apa yang diperbesar, apa yang dianggap penting, apa yang harus membuat kita marah, apa yang harus membuat kita iri, dan apa yang harus membuat kita tetap tinggal beberapa detik lagi. Bahkan kebosanan semakin sulit menjadi milik kita sendiri karena setiap jeda segera diisi oleh gambar berikutnya.

Dulu manusia mencari sesuatu untuk dilihat. Sekarang sesuatu mencari manusia untuk dilihat.

Di sinilah terjadi pembalikan besar dalam sejarah tatapan.

Telepon genggam sering dianggap sebagai jendela dunia. Padahal ia juga dapat menjadi jendela yang memilihkan dunia untuk kita. Kita merasa sedang melihat dunia, padahal sebagian besar waktu kita sedang melihat hasil seleksi dari mesin yang tidak kita kenal cara kerjanya.

Mata menjadi sibuk, tetapi penglihatan kehilangan otonomi. Kita melihat lebih banyak gambar daripada manusia dalam sejarah sebelumnya, tetapi belum tentu melihat lebih banyak dunia.

Bahkan kontak mata mengalami perubahan makna. Menundukkan pandangan dahulu dapat berarti penghormatan, pengendalian diri, atau andhap asor. Kini kepala yang menunduk di ruang publik sering kali berarti seseorang sedang memasuki ruang lain yang tidak dihuni oleh orang-orang di sekitarnya.

Fenomena ADT (acuh di dalam telephone) dengan demikian bukan hanya persoalan sopan santun. Ia menunjukkan perubahan mendasar dalam struktur kehadiran. Orang yang berada di depan kita kalah bersaing dengan seseorang yang bahkan tidak berada di ruangan itu. Percakapan kalah menarik dari notifikasi. Wajah manusia kalah bersaing dengan layar yang tidak pernah kehabisan rangsangan.

Akibatnya, kita kehilangan kemampuan yang dahulu sangat sederhana: membaca manusia dari kehadirannya.

Kita semakin sulit membaca perubahan kecil pada wajah, jeda sebelum seseorang menjawab, arah mata ketika ia ragu, senyum yang tidak selesai, atau diam yang sebenarnya sedang mengatakan sesuatu. Padahal komunikasi manusia tidak pernah seluruhnya berada di dalam kata-kata.

Ketika mata terus dilatih untuk berpindah dengan cepat dari satu gambar ke gambar berikutnya, manusia pun berisiko kehilangan kesabaran terhadap sesuatu yang tidak segera memberi hadiah visual. Tatapan menjadi pendek, perhatian menjadi dangkal, dan kehadiran menjadi semakin mahal.

Ironisnya, pada saat kita semakin enggan menatap manusia secara langsung, budaya digital justru semakin terobsesi dengan tatapan. Kita menciptakan side-eye, reaction face, emoji mata, meme ekspresi, filter wajah, kamera depan, dan berbagai bentuk komunikasi visual yang menjadikan mata sebagai pertunjukan.

Kita bahkan dapat menyampaikan penghinaan hanya dengan gambar mata.

Namun ada perbedaan mendasar. Tatapan manusia di dunia nyata berlangsung di antara dua tubuh yang sama-sama dapat terluka. Tatapan digital telah dipisahkan dari risiko itu. Kita dapat memberi side-eye kepada ribuan orang tanpa harus berhadapan dengan mata mereka.

Kita membawa keberanian Punokawan ke dalam layar, tetapi meninggalkan tubuhnya.

Namun persoalan terbesar bukan berada pada hubungan antarmanusia. Ia berada pada arah tatapan itu sendiri.

Selama ribuan tahun, manusia menatap dunia: langit, hutan, laut, wajah orang lain, hewan, tanda-tanda alam, dan benda-benda yang belum dipahaminya. Tatapan adalah tindakan aktif. Manusia melihat sesuatu, menafsirkan, meragukan, kemudian mengambil keputusan.

Kini arah itu mulai berbalik.

Manusia bukan hanya melihat. Manusia juga dilihat.

Di sinilah sebuah imajinasi lama tiba-tiba menemukan bentuk modernnya: mata setan.

Dalam berbagai teori konspirasi, gambaran tentang sebuah mata yang mengawasi manusia sering dibaca sebagai simbol kekuatan tersembunyi yang mengetahui segala sesuatu. Sebagai klaim faktual, tentu teori-teori semacam itu harus dibedakan dari bukti yang dapat diverifikasi. Tetapi sebagai gejala kebudayaan, imajinasi tentang mata yang selalu mengawasi jauh lebih menarik. Ia memperlihatkan kecemasan manusia terhadap sesuatu yang dapat melihat dirinya tanpa dapat dilihat balik.

Mata setan, dalam pengertian ini, bukanlah bukti bahwa ada kekuatan gaib yang sedang mengawasi manusia. Ia adalah fosil kecemasan manusia terhadap tatapan yang tidak pernah berkedip.

Yang menarik, teknologi modern justru memberikan kecemasan lama itu tubuh baru.

Kamera keamanan, pengenalan wajah, sensor gerak, kamera telepon, pelacakan mata, analisis perilaku, dan kecerdasan buatan membentuk semacam mata tanpa kelopak. Ia tidak mengantuk, tidak malu, tidak berpaling, dan tidak membutuhkan hubungan emosional untuk mengamati. Ia hanya membutuhkan data.

Jika mata setan dalam imajinasi lama adalah mata yang melihat manusia dari tempat yang tidak diketahui, mata algoritmik adalah versi sekulernya: tidak gaib, tidak perlu dipercaya, tetapi dapat bekerja terus-menerus selama sistemnya aktif.

Perbedaannya bahkan lebih mengganggu.

Setan dalam cerita biasanya mempunyai tubuh, tempat, atau sosok yang dapat dibayangkan. Mata algoritmik tidak mempunyai satu tubuh. Ia tersebar di kamera jalan, telepon genggam, pusat perbelanjaan, aplikasi, server, kendaraan, platform digital, dan berbagai sistem yang bekerja secara bersamaan. Kita tidak berhadapan dengan satu mata, melainkan jaringan mata yang tidak memiliki wajah.

Teori konspirasi sering kali mencari wajah di balik mata yang mengawasi. Teknologi modern justru menunjukkan bahwa pengawasan tidak selalu membutuhkan wajah.

Kita tidak selalu tahu siapa yang sedang melihat. Yang lebih mengkhawatirkan, kita mulai mengubah perilaku karena kemungkinan sedang dilihat.

Tatapan mesin tidak harus berbicara. Ia cukup hadir.

Dan manusia belajar menyesuaikan diri.

Inilah bentuk baru disiplin tubuh: bukan tubuh yang dipaksa berdiri tegak oleh cambuk, melainkan tubuh yang secara sukarela mengatur dirinya karena mengetahui bahwa gerakannya mungkin direkam, dianalisis, dinilai, atau disimpan.

Pada titik ini, mata manusia mengalami dua kehilangan sekaligus. Ia kehilangan kemampuan untuk menatap dengan bebas dan pada saat yang sama kehilangan kemampuan untuk tidak ditatap.

Mata kita semakin diarahkan oleh algoritma, sementara tubuh kita semakin terbuka bagi mata algoritma.

Dari sini, perjalanan mata manusia menjadi semakin jelas. Mata yang membelalak menjadi saksi. Mata yang tunduk belajar bertahan. Mata digital belajar mengikuti. Dan akhirnya mata algoritmik mengambil alih sebagian keputusan tentang apa yang pantas dilihat.

Kita mengira teknologi memberi kita lebih banyak penglihatan, padahal yang bertambah mungkin hanya jumlah gambar. Kita dapat memperbesar bulan melalui kamera, tetapi belum tentu mampu menatap bulan dengan sabar. Kita dapat melihat kehidupan orang lain melalui ribuan unggahan, tetapi semakin sulit mengenali orang yang duduk di sebelah kita. Kita dapat merekam wajah dalam resolusi tinggi, tetapi kehilangan kemampuan membaca wajah tanpa bantuan layar.

Kita bahkan menciptakan mata yang lebih kuat daripada mata manusia, kemudian menyerahkan sebagian keputusan hidup kepada mata tersebut.

Di sinilah ironi terbesar teknologi visual muncul. Manusia selama berabad-abad takut kepada mata setan karena membayangkan adanya kekuatan yang mampu melihat dirinya secara sempurna. Kini manusia membangun sendiri mata-mata yang mampu mengenali wajah, membaca pola gerak, menghubungkan perilaku, dan menyimpan jejak yang bahkan mungkin telah dilupakan oleh pemilik tubuhnya sendiri.

Setan dulu membuat manusia takut karena melihatnya. Teknologi membuat manusia nyaman karena melihatnya.

Kita memasang kamera untuk keamanan, membuka kamera depan untuk bersosialisasi, memberikan izin aplikasi untuk mengakses perangkat, mengunggah wajah, lokasi, kebiasaan, suara, dan preferensi. Pengawasan tidak lagi selalu terasa sebagai ancaman karena ia telah dikemas sebagai kenyamanan.

Mata yang dahulu dibayangkan sebagai milik setan kini masuk ke dalam saku kita sendiri.

Karena itu, persoalan mata manusia bukan sekadar persoalan layar. Ia adalah persoalan kekuasaan: siapa yang menentukan apa yang harus kita lihat dan siapa yang berhak melihat kita.

Krisis mata manusia bukan krisis penglihatan.

Ia adalah krisis kedaulatan tatapan.

Pertanyaan terpenting bukan lagi apakah kita terlalu lama melihat layar. Pertanyaannya: siapa yang menentukan apa yang kita lihat, dan siapa yang menentukan kapan kita harus terlihat?

Seseorang dapat mematikan layar tetapi tetap hidup dalam rezim tatapan yang telah dibentuk oleh layar. Ia dapat meninggalkan media sosial, tetapi belum tentu dapat membebaskan perhatiannya dari kebiasaan yang ditanamkan algoritma. Ia dapat menatap langit, tetapi mungkin hanya beberapa detik sebelum merasa perlu memotret langit tersebut.

Karena itu, persoalan paling mendasar dari peradaban digital bukanlah bagaimana manusia mengurangi waktu menatap layar, melainkan bagaimana manusia merebut kembali hak untuk menatap.

Hak menatap bukan sekadar kebebasan mengarahkan mata ke mana saja. Ia adalah hak untuk menentukan apa yang pantas memperoleh perhatian, apa yang boleh kita abaikan, apa yang ingin kita pahami secara perlahan, dan apa yang tidak perlu kita lihat sama sekali. Sebab ketika segala sesuatu berlomba merebut mata kita, perhatian tidak lagi menjadi urusan pribadi. Ia menjadi wilayah perebutan kekuasaan.

Di titik itu, kemampuan untuk berpaling menjadi sama pentingnya dengan kemampuan untuk melihat.

Kita perlu dapat berkata tidak kepada gambar yang dipaksakan muncul, kepada notifikasi yang menuntut respons, kepada kamera yang menginginkan wajah, kepada algoritma yang terus mengusulkan apa yang harus kita sukai, dan kepada sistem yang menganggap setiap gerak mata sebagai data yang boleh dikumpulkan. Hak menatap selalu mengandung hak untuk tidak menatap.

Sebab manusia bukan mesin penglihatan. Manusia memiliki hak untuk menentukan apa yang layak memenuhi kesadarannya.

Dalam pengertian ini, andhap asor dalam tatapan Jawa dapat dibaca kembali secara lebih politis. Menundukkan mata tidak selalu berarti tunduk kepada kekuasaan. Ada saat ketika seseorang justru menundukkan pandangan untuk menolak terlibat dalam tontonan yang dipaksakan kepadanya. Ada saat ketika berpaling merupakan bentuk pertahanan terakhir terhadap dunia yang ingin mengambil seluruh perhatian.

Demikian pula tatapan Punokawan dapat memperoleh makna baru. Tatapan yang mengganggu, lirikan yang menyindir, dan ekspresi yang tidak patuh bukan sekadar kelucuan. Ia mengingatkan bahwa manusia harus tetap memiliki kemampuan untuk melihat kekuasaan dari sudut yang tidak disediakan oleh kekuasaan itu sendiri.

Karena itu, perjuangan mempertahankan mata manusia bukanlah perjuangan melawan teknologi semata. Ia adalah perjuangan agar manusia tidak berubah menjadi sekadar objek yang dilihat, dihitung, diprediksi, dan diarahkan.

Kita boleh memiliki kamera yang semakin tajam, kecerdasan buatan yang semakin mampu membaca wajah, dan algoritma yang semakin canggih memprediksi perhatian. Tetapi semua itu seharusnya tidak menghapus satu hak paling sederhana yang pernah dimiliki manusia: hak untuk menentukan ke mana ia menatap.

Dan hak itu sekaligus berarti memiliki hak untuk tidak dilihat.

Hak untuk berpaling.

Hak untuk tidak direkam.

Hak untuk tidak dibaca oleh mesin.

Hak untuk memiliki bagian dari diri yang tidak menjadi data.

Jika hak itu hilang, manusia mungkin masih dapat melihat, tetapi ia tidak lagi sepenuhnya menjadi subjek dari penglihatannya sendiri.

Di situlah tragedi sebenarnya.

Bukan ketika mata manusia menjadi kabur, melainkan ketika mata yang masih jernih tidak lagi bebas memilih dunia yang hendak dilihatnya.

Jika suatu hari arkeolog masa depan menggali reruntuhan abad ke-21, mereka mungkin menemukan miliaran kamera, jutaan layar, pusat data, dan arsip digital yang tidak terhitung jumlahnya. Mereka mungkin menyimpulkan bahwa manusia pada zaman ini memiliki kemampuan melihat yang belum pernah dimiliki peradaban sebelumnya.

Mungkin mereka keliru.

Sebab ukuran sebuah peradaban bukan hanya seberapa jauh ia mampu melihat, melainkan seberapa jauh manusia di dalamnya masih berhak menentukan tatapannya sendiri.

Dan barangkali artefak paling menyedihkan yang akan mereka temukan bukanlah layar yang pecah atau kamera yang mati, melainkan sepasang mata manusia yang masih sempurna, tetapi telah kehilangan satu kemampuan paling mendasar: menatap tanpa diperintah.