Genealogi Organ: Sejarah Peluruhan Tubuh Manusia

Tendik di Prodi Keperawatan FKIK UMY
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Riswan Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Barangkali sejarah manusia selama ini terlalu sering ditulis melalui perang, kerajaan, revolusi, penemuan, dan perubahan teknologi. Kita mengenal sejarah batu, sejarah besi, sejarah mesin uap, listrik, komputer, hingga internet. Namun, ada satu sejarah yang jarang dibicarakan, yakni sejarah tentang bagaimana manusia secara perlahan kehilangan pekerjaan tubuhnya sendiri.
Peradaban ternyata tidak hanya menciptakan alat untuk membantu manusia. Dalam banyak hal, peradaban juga menciptakan alat untuk mengambil alih pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh tubuh. Setiap teknologi yang membuat hidup lebih mudah pada saat yang sama dapat mengurangi alasan sebuah organ untuk melakukan sesuatu. Dari sudut pandang ini, sejarah teknologi bukan hanya sejarah penemuan benda, melainkan juga sejarah pensiunnya fungsi-fungsi tubuh manusia.
Tubuh manusia tidak benar-benar mati. Ia hanya kehilangan profesinya.
Tangan, misalnya, dahulu merupakan salah satu pusat utama kehidupan manusia. Dengan tangan, manusia membuat api, memahat batu, menanam benih, merajut pakaian, membangun rumah, menulis surat, memainkan alat musik, dan menciptakan karya seni. Kebudayaan dalam pengertian yang paling sederhana pernah dibangun melalui keterampilan tangan.
Kemudian mesin datang dan secara bertahap mengambil alih pekerjaan itu. Pabrik menggantikan banyak pekerjaan kerajinan, otomatisasi menggantikan sejumlah keterampilan manual, dan komputer mengubah pekerjaan tangan menjadi serangkaian perintah digital. Kini, dengan satu sentuhan pada layar, kita dapat melakukan berbagai tindakan yang dahulu membutuhkan waktu, tenaga, dan keterampilan tangan.
Tangan tidak menjadi tidak berguna. Ia hanya mengalami perubahan profesi. Dari organ yang membuat benda, tangan semakin sering menjadi organ yang memilih, menggeser, mengetuk, dan menggulir layar.
Perubahan yang sama terjadi pada mata. Dahulu mata manusia tidak hanya digunakan untuk melihat, tetapi juga untuk membaca lingkungan. Manusia belajar mengenali perubahan warna langit untuk memperkirakan cuaca, membaca posisi matahari untuk menentukan arah, mengenali jejak binatang, membedakan tumbuhan, serta memahami perubahan kecil pada wajah dan bahasa tubuh orang lain.
Mata adalah organ pengetahuan karena dunia harus dibaca melalui penglihatan.
Hari ini mata semakin sering bekerja di hadapan layar. Ia mengenali ikon aplikasi lebih cepat daripada rasi bintang, membaca notifikasi lebih sering daripada perubahan cuaca, dan mengikuti arus gambar yang tidak pernah berhenti. Masalahnya bukan bahwa manusia kehilangan kemampuan melihat. Justru sebaliknya, manusia melihat terlalu banyak hal. Yang perlahan hilang adalah kemampuan untuk memperhatikan.
Perhatian menjadi sesuatu yang diperebutkan oleh berbagai platform. Mata tidak lagi sekadar melihat dunia, tetapi terus-menerus diarahkan untuk mengonsumsi dunia yang sudah dipilihkan oleh sistem.
Jika mata mengalami perubahan demikian, telinga pun mengalami nasib serupa. Dahulu mendengar membutuhkan kesabaran. Manusia mendengarkan cerita orang tua, petuah para tetua, bunyi hujan, desir angin, suara pasar, tangisan anak, atau kesunyian malam. Mendengar bukan sekadar menerima bunyi, melainkan memberi kesempatan kepada makna untuk tiba secara perlahan.
Kini telinga hidup dalam lingkungan yang hampir selalu dipenuhi suara. Podcast, musik, video pendek, panggilan, notifikasi, dan berbagai bentuk audio membuat keheningan semakin sulit ditemukan. Bahkan ketika tidak ada orang yang berbicara kepada kita, perangkat di sekitar kita selalu menyediakan sesuatu untuk didengarkan.
Akibatnya, persoalannya bukan lagi apakah manusia mampu mendengar, melainkan apakah manusia masih mampu bertahan dalam keadaan tidak mendengar apa-apa.
Hal serupa terjadi pada lidah. Selama berabad-abad, lidah menjadi alat untuk berbicara, berdebat, menyampaikan petuah, menghafalkan puisi, menjaga tradisi lisan, dan membangun hubungan sosial. Bahasa tidak hidup karena seseorang berbicara sendirian, tetapi karena selalu ada orang lain yang mendengarkan.
Media sosial mengubah keadaan tersebut. Setiap orang memperoleh kesempatan untuk menjadi penyiar, sementara percakapan semakin sering berubah menjadi produksi pernyataan. Kita berbicara kepada audiens, pengikut, angka keterlibatan, dan algoritma. Bahasa tidak selalu lagi mencari lawan bicara; ia mencari jangkauan.
Di sinilah lidah menghadapi paradoks baru. Kita hidup dalam zaman yang sangat ramai oleh kata-kata, tetapi belum tentu kaya percakapan.
Ingatan mungkin mengalami perubahan yang lebih dalam lagi. Selama ribuan tahun, manusia menghafal silsilah keluarga, doa, cerita rakyat, nama tumbuhan, jalan pulang, wajah sahabat, dan bait-bait puisi. Ingatan bukan sekadar tempat menyimpan informasi. Ingatan adalah salah satu tempat kebudayaan hidup.
Kemudian mesin datang sebagai pengingat eksternal. Ponsel menyimpan nomor telepon, kalender mengingat jadwal, aplikasi mengingat ulang tahun, mesin pencari menyimpan pengetahuan, dan penyimpanan digital membuat kita dapat membawa ribuan foto tanpa harus mengingat kapan dan di mana semuanya terjadi.
Teknologi tentu membantu manusia menghindari beban mengingat yang tidak perlu. Masalahnya muncul ketika kemampuan mengingat tidak lagi dibutuhkan bahkan untuk hal-hal yang seharusnya membentuk pengalaman. Kita tidak kehilangan data; kita kehilangan hubungan personal dengan data.
Mengingat perlahan berubah menjadi kemampuan mencari.
Kaki juga mengalami perubahan serupa. Dahulu kaki mengenal jalan setapak, sungai, hutan, gang, pasar, dan rumah-rumah tetangga. Pengetahuan tentang ruang tersimpan dalam tubuh. Seseorang bisa pulang bukan karena mengikuti instruksi digital, melainkan karena tubuhnya mengenali arah.
Kini GPS telah memindahkan sebagian kemampuan orientasi dari tubuh ke perangkat. Kita masih berjalan, tetapi tidak selalu mengetahui ke mana harus berjalan tanpa petunjuk. Teknologi navigasi jelas memberikan kemudahan yang sangat besar, tetapi ada sesuatu yang mungkin ikut hilang: kemampuan untuk tersesat.
Padahal tersesat tidak selalu berarti gagal. Banyak pengalaman kebudayaan justru lahir dari ketidaktahuan arah, pertemuan yang tidak direncanakan, dan perjalanan yang menyimpang dari rute semula.
Persoalan yang paling menarik mungkin muncul pada sesuatu yang tidak memiliki bentuk anatomis yang jelas: imajinasi.
Selama ribuan tahun manusia menatap awan dan melihat naga, melihat batu dan membayangkan dewa, melihat bintang dan menciptakan mitologi. Imajinasi memungkinkan manusia membuat dunia yang belum tersedia di hadapannya. Ia merupakan kemampuan untuk mengisi kekosongan dengan kemungkinan.
Hari ini gambar dapat hadir sebelum bayangan selesai terbentuk. Jawaban dapat muncul sebelum pertanyaan benar-benar dirumuskan. Kecerdasan buatan bahkan dapat menghasilkan gambar, musik, cerita, dan berbagai bentuk visual dalam hitungan detik berdasarkan instruksi yang sangat singkat.
Teknologi semacam ini tidak otomatis membunuh imajinasi. Sebaliknya, ia dapat menjadi alat baru untuk memperluas kemungkinan kreatif. Namun, ada pertanyaan yang layak diajukan: apakah kemudahan menghasilkan sesuatu juga dapat membuat manusia semakin tidak sabar menjalani proses ketika sesuatu belum berbentuk?
Imajinasi membutuhkan ruang kosong. Ia membutuhkan ketidaktahuan, penundaan, kesalahan, bahkan kebosanan. Ketika hampir semua bentuk dapat segera diproduksi, manusia mungkin tidak kehilangan kemampuan membayangkan, tetapi kehilangan kesediaan untuk menunggu sampai bayangan itu menemukan bentuknya sendiri.
Di sinilah paradoks teknologi menjadi menarik. Teknologi sering disebut sebagai perpanjangan tubuh manusia. Kamera memperpanjang mata, kendaraan memperpanjang kaki, komputer memperpanjang ingatan, dan kecerdasan buatan memperluas kemampuan kognitif. Namun, setiap perpanjangan juga memiliki kemungkinan lain: ia dapat membuat fungsi asli tubuh semakin jarang digunakan.
Semakin sempurna alat pengganti, semakin kecil kebutuhan untuk melatih kemampuan yang digantikannya.
Yang mengalami peluruhan bukanlah daging, tulang, atau saraf. Yang perlahan menghilang adalah kebiasaan, keterampilan, perhatian, kesabaran, dan pengalaman yang dahulu melekat pada tubuh.
Karena itu, manusia modern dapat merasa sangat lengkap meskipun semakin sedikit menggunakan tubuhnya untuk mengalami dunia secara langsung. Kita memiliki mata, tetapi perhatian kita mudah dipindahkan. Kita memiliki telinga, tetapi kesunyian terasa mengganggu. Kita memiliki tangan, tetapi semakin banyak pekerjaan dilakukan dengan satu sentuhan. Kita memiliki ingatan, tetapi semakin sering menyerahkan tugas mengingat kepada mesin. Kita memiliki kaki, tetapi arah perjalanan ditentukan perangkat. Kita memiliki bahasa, tetapi percakapan mudah berubah menjadi produksi konten. Kita memiliki imajinasi, tetapi semakin sering meminta mesin memberi bentuk sebelum gagasan selesai tumbuh.
Tubuh secara biologis tetap lengkap. Namun, secara kebudayaan, sejumlah fungsinya mungkin sedang memasuki masa pensiun.
Genealogi organ karena itu bukan kisah tentang hilangnya tubuh manusia, melainkan tentang hilangnya pekerjaan-pekerjaan manusia yang selama ribuan tahun membentuk kebudayaan. Yang perlu kita pertanyakan bukan apakah teknologi harus ditolak, sebab hampir tidak mungkin kehidupan modern kembali ke dunia tanpa teknologi. Pertanyaan yang lebih penting adalah fungsi tubuh apa yang masih ingin kita pertahankan ketika semakin banyak pekerjaan dapat dilakukan oleh mesin.
Sebab ada kemampuan yang mungkin tidak seharusnya sepenuhnya didelegasikan kepada teknologi: kemampuan untuk memperhatikan, mendengar, mengingat, tersesat, berbicara dengan orang lain, bekerja dengan tangan, dan membayangkan sesuatu yang belum tersedia.
Barangkali kepunahan manusia tidak selalu harus dimulai dengan hilangnya spesies Homo sapiens. Ia dapat dimulai jauh lebih sederhana, yakni ketika manusia perlahan kehilangan alasan untuk menggunakan tubuhnya sendiri.
Sejarah tidak selalu menghapus manusia melalui kematian. Kadang-kadang sejarah hanya menghapus pekerjaan yang membuat tubuh manusia merasa dibutuhkan.
