Hantu Digital Ketika Tubuh Mulai Ditinggalkan Fungsinya

Tendik di Prodi Keperawatan FKIK UMY
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Riswan Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sesuatu yang menarik dari cara manusia membayangkan hantu. Hampir di setiap kebudayaan, hantu bukan sekadar sosok yang menakutkan, melainkan gambaran tentang sesuatu yang tidak lagi berada pada tempatnya. Yang mati masih hadir, yang pergi masih mengganggu, yang seharusnya tidak terlihat justru muncul, sementara tubuh yang mestinya menjadi rumah bagi kehidupan telah kehilangan keteraturan.
Karena itu, mungkin kita terlalu cepat menganggap cerita hantu sebagai cerita tentang dunia gaib. Bisa jadi, di balik cerita-cerita tersebut tersimpan persoalan yang jauh lebih tua: kecemasan manusia terhadap tubuh, kematian, kehilangan, dan keterpisahan.
Dalam kebudayaan Jawa, salah satu kata yang menarik untuk dibawa ke persoalan ini adalah megatruh. Ia merupakan nama salah satu pupuh macapat, yang secara etimologis sering dibaca dari kata megat, memutus atau berpisah, dan ruh, jiwa atau roh. Dalam tradisi tembang, Megatruh berkaitan dengan suasana kesedihan, perpisahan, dan kematian. Ia membayangkan satu keadaan ketika hubungan antara ruh dan raga tidak lagi dapat dipertahankan.
Di sinilah Megatruh menjadi menarik jika dibaca ulang dari zaman teknologi.
Jika kematian dalam pengertian tradisional dapat dibayangkan sebagai perpisahan ruh dari tubuh, zaman teknologi menghadirkan bentuk perpisahan yang berbeda. Yang mulai meninggalkan tubuh bukan ruh, melainkan fungsi-fungsi yang selama ini membuat tubuh manusia bermakna.
Mata tetap berada di wajah, tetapi manusia semakin sering melihat melalui kamera dan layar. Kaki tetap mampu berjalan, tetapi arah perjalanan semakin banyak ditentukan oleh GPS. Tangan masih dapat menulis, menggambar, menghitung, dan membuat sesuatu, tetapi berbagai pekerjaan tangan telah berpindah kepada mesin. Ingatan tetap berada di kepala, tetapi banyak hal yang dahulu harus dihafalkan kini cukup diserahkan kepada mesin pencari, galeri digital, cloud, atau aplikasi.
Perubahan itu pada mulanya tampak sebagai kemajuan biasa. Teknologi memang memperpanjang kemampuan manusia. Kacamata membantu mata, kendaraan membantu kaki, kalkulator membantu perhitungan, dan komputer memperluas kemampuan menyimpan serta mengolah informasi. Tidak ada alasan untuk memusuhi teknologi hanya karena ia membuat hidup lebih mudah.
Masalahnya muncul ketika bantuan perlahan berubah menjadi pengganti.
Kita tidak lagi sekadar menggunakan teknologi untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya masih dapat kita lakukan sendiri, tetapi mulai kehilangan kebiasaan untuk melakukannya. Kita dapat mencari jalan tanpa GPS, tetapi semakin jarang melatih orientasi. Kita dapat mengingat nomor telepon, tetapi semakin sedikit alasan untuk menghafalnya. Kita dapat menulis sendiri, tetapi semakin terbiasa meminta mesin menyusun kalimat. Kita dapat menggambar, tetapi kini sebuah perintah singkat dapat menghasilkan gambar yang sebelumnya membutuhkan keterampilan bertahun-tahun.
Pada tahap ini, persoalannya bukan lagi apakah teknologi membuat manusia malas. Persoalannya lebih dalam: apa yang terjadi ketika kemampuan manusia secara perlahan keluar dari tubuhnya dan hidup di dalam perangkat?
Inilah bentuk Megatruh yang berbeda.
Ruh belum meninggalkan raga, tetapi kemampuan mulai meninggalkan organ.
Dan perkembangan kecerdasan buatan membuat persoalan tersebut semakin menarik karena yang dipindahkan bukan lagi semata-mata pekerjaan fisik. Mesin kini memasuki wilayah yang selama ini dianggap sangat dekat dengan identitas manusia: bahasa, imajinasi, penciptaan gambar, pengolahan pengetahuan, penerjemahan, dan penyusunan gagasan.
Tentu saja, AI tidak otomatis membuat manusia kehilangan kemampuan tersebut. Sebuah alat tetap bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya. Seorang penulis yang menggunakan AI masih dapat berpikir, mengedit, menolak, mengubah, dan menemukan sesuatu yang tidak diberikan mesin. Persoalannya bukan keberadaan mesin, melainkan kemungkinan bahwa manusia secara perlahan kehilangan pengalaman melakukan sesuatu dari awal hingga akhir.
Sebab kemampuan manusia bukan hanya hasil akhir.
Menulis bukan sekadar menghasilkan kalimat. Menggambar bukan sekadar menghasilkan gambar. Berjalan bukan sekadar mencapai tujuan. Mengingat bukan sekadar mampu menyebut kembali data. Mendengarkan bukan sekadar menerima suara.
Di dalam semua kegiatan tersebut terdapat latihan kesabaran, kegagalan, kebingungan, kesalahan, intuisi, dan pengalaman yang tidak selalu menghasilkan sesuatu yang efisien.
Teknologi cenderung menghapus bagian-bagian yang dianggap tidak perlu.
GPS menghapus tersesat. Mesin pencari menghapus kebingungan karena tidak tahu. AI dapat menghapus halaman kosong yang dahulu membuat penulis duduk berjam-jam. Algoritma rekomendasi bahkan dapat mengurangi kebutuhan kita untuk memilih karena pilihan sudah disediakan sebelum kita sempat menginginkannya.
Di satu sisi, semua itu merupakan kenyamanan. Di sisi lain, kenyamanan yang terus-menerus dapat mengubah struktur pengalaman manusia.
Barangkali karena itulah cerita hantu masih menarik untuk dibaca dari zaman sekarang. Hantu selalu memperlihatkan sesuatu yang mengalami keterpisahan: tubuh dari kehidupan, manusia dari tempatnya, masa lalu dari masa kini, atau bagian tubuh dari keseluruhan dirinya.
Teknologi menghadirkan keterpisahan yang jauh lebih halus karena tidak tampak sebagai kehilangan.
Kita tidak kehilangan tangan. Kita hanya semakin jarang menggunakannya untuk membuat sesuatu.
Kita tidak kehilangan ingatan. Kita hanya semakin jarang mengandalkannya.
Kita tidak kehilangan kemampuan membaca. Kita hanya semakin terbiasa membaca potongan-potongan yang sudah dipilihkan.
Kita tidak kehilangan imajinasi. Kita hanya semakin sering meminta mesin membayangkan sesuatu sebelum kita sempat membayangkannya sendiri.
Karena itu, manusia masa depan mungkin tidak tampak seperti manusia yang kehilangan organ. Ia justru tampak sangat lengkap. Dua mata, dua telinga, dua tangan, dua kaki, satu kepala, dan tubuh yang secara biologis tidak berbeda dari manusia sebelumnya.
Yang berubah adalah hubungan antara tubuh dan kemampuannya.
Mungkin inilah bentuk hantu yang belum pernah dikenal manusia sebelumnya: hantu yang tubuhnya masih hidup, tetapi sebagian fungsi hidupnya telah berjalan di luar tubuh.
Jika hantu dalam imajinasi lama adalah sesuatu yang tidak seharusnya masih hadir, hantu digital adalah sesuatu yang seharusnya masih dilakukan manusia tetapi telah berpindah kepada mesin.
Dan di titik ini, Megatruh dapat dibaca kembali bukan hanya sebagai tembang tentang kematian, tetapi sebagai metafora tentang keterpisahan. Dahulu yang dibayangkan terpisah adalah ruh dan raga. Kini yang mulai terpisah adalah manusia dan kemampuan-kemampuan yang selama ini membentuk dirinya.
Mungkin suatu hari kita akan memiliki teknologi yang semakin sempurna untuk mengingat, melihat, mendengar, berjalan, berbicara, menggambar, menulis, bahkan berpikir. Ketika itu terjadi, pertanyaan terpenting bukan lagi seberapa pintar mesin yang kita ciptakan.
Pertanyaannya justru: apa yang masih kita pilih untuk lakukan sendiri?
Sebab manusia tidak hanya dibentuk oleh apa yang mampu ia hasilkan. Manusia juga dibentuk oleh proses ketika ia mencoba, gagal, tersesat, lupa, diam, menunggu, dan menemukan sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan.
Barangkali kematian manusia tidak selalu dimulai ketika tubuh berhenti bernapas. Dalam zaman teknologi, kematian suatu kemampuan mungkin dimulai jauh sebelumnya, ketika kita tidak lagi merasa perlu menggunakannya.
Dan mungkin itulah Megatruh yang baru.
Bukan ruh yang meninggalkan tubuh, melainkan kemampuan yang perlahan meninggalkan manusia.
Tubuh masih hidup.
Mesin semakin pintar.
Tetapi di antara keduanya, sesuatu yang dahulu kita sebut sebagai kemampuan manusia sedang berjalan pergi tanpa suara.
.
