Tubuh yang Dirapikan Dari Tubuh Biologis ke Prostesis Digital

Tendik di Prodi Keperawatan FKIK UMY
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Riswan Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita jarang bertanya mengapa tubuh manusia harus dirapikan. Kita menerima begitu saja bahwa rambut perlu dipotong, kuku harus dibersihkan, gigi perlu disusun, kulit perlu dirawat, lemak perut harus dikurangi, dan bagian-bagian tertentu dari tubuh dapat diubah agar tampak lebih baik. Semua itu terdengar begitu biasa sehingga kita hampir tidak pernah melihatnya sebagai persoalan kebudayaan. Padahal, tubuh manusia mungkin merupakan salah satu benda kebudayaan yang paling lama tidak pernah dibiarkan apa adanya. Tubuh dipotong, dicukur, dilubangi, dikupas, disuntik, ditambal, ditanam, dikurangi, bahkan diganti. Kita memberi nama yang berbeda pada setiap tindakan tersebut: ritual, kebersihan, pengobatan, perawatan, kecantikan. Namun, di balik perbedaan itu terdapat kecenderungan yang sama, yaitu keyakinan bahwa tubuh sebagaimana adanya masih dapat dibuat menjadi sesuatu yang lebih sesuai.
Sunat, misalnya, menunjukkan bahwa perubahan tubuh bukan penemuan zaman kosmetik modern. Dalam konteks tertentu, sunat berkaitan dengan agama, identitas, tradisi, atau kesehatan dan karena itu tidak dapat begitu saja disamakan dengan prosedur kecantikan. Namun, ia memperlihatkan satu hal yang penting: sejak lama tubuh telah menjadi tempat kebudayaan menuliskan aturan tentang bagaimana seseorang seharusnya hadir secara jasmani. Pada zaman yang berbeda, aturan itu mengambil bentuk yang berbeda pula. Rambut dicukur, gigi dikikir atau disusun, kulit dibersihkan, lemak tubuh dikurangi, wajah dikupas agar tampak lebih muda, hidung dibentuk, bekas luka disamarkan. Tubuh seakan-akan bukan sesuatu yang selesai ketika kita lahir, melainkan proyek yang terus dikerjakan sepanjang hidup.
Kita menyebutnya merawat diri. Akan tetapi, pada titik tertentu merawat tubuh dapat berubah menjadi memperbaiki tubuh. Perbedaan keduanya tampak kecil, tetapi sesungguhnya penting. Merawat mengandaikan bahwa tubuh sudah ada dan perlu dipelihara, sedangkan memperbaiki mengandung anggapan bahwa tubuh memiliki kekurangan yang harus dikoreksi. Dari sinilah muncul pertanyaan yang lebih mengganggu: siapa yang menentukan bahwa tubuh kita belum cukup baik?
Kata “rapi” sendiri terdengar netral, bahkan menyenangkan. Tidak ada orang yang ingin disebut berantakan. Namun, kerapian selalu membawa ukuran tertentu tentang apa yang dianggap pantas. Gigi yang tersusun dianggap rapi, kulit yang halus dianggap terawat, tubuh dengan proporsi tertentu dianggap ideal, wajah yang simetris dianggap menarik, dan rambut dengan bentuk tertentu dianggap lebih layak ditampilkan. Standar tersebut tidak selalu hadir dalam bentuk larangan. Sering kali ia hadir sebagai gambar yang terus menerus kita lihat melalui iklan, film, televisi, majalah, kamera, dan media sosial. Kita kemudian belajar memandang tubuh sendiri dengan mata yang telah lebih dahulu dididik oleh gambar-gambar tersebut. Pori-pori yang sebelumnya tidak pernah menjadi masalah tiba-tiba terlihat sebagai kekurangan; perut yang biasa saja terasa terlalu besar; kerutan yang merupakan bagian dari usia dianggap sesuatu yang harus disamarkan.
Tubuh akhirnya berubah menjadi semacam dokumen yang terus diedit. Ada bagian yang dipertahankan, ada yang ditutup, ada yang dipotong, ada yang diperbesar, ada yang diperkecil, dan ada yang dihapus. Dalam bahasa digital, kita seolah melakukan Ctrl+A lalu Delete terhadap bagian-bagian tubuh yang tidak sesuai dengan standar. Bedanya, dokumen digital dapat dikembalikan dengan perintah Undo, sedangkan tubuh tidak selalu memiliki kesempatan yang sama. Apa yang telah dipotong, diubah, atau dihilangkan tidak selalu dapat dikembalikan ke keadaan semula.
Perubahan itu menjadi semakin menarik ketika teknologi digital masuk ke dalam hubungan kita dengan tubuh. Cermin dahulu hanya memperlihatkan tubuh yang hadir di hadapan kita, sedangkan kamera membuat tubuh berubah menjadi gambar yang dapat disimpan, dibandingkan, diedit, dikirim, dan dipublikasikan. Perbedaan ini tampaknya sederhana, tetapi konsekuensinya besar. Kita tidak lagi hanya memiliki tubuh; kita juga memiliki representasi tubuh yang dapat terus diperbaiki. Filter kemudian memperluas kemungkinan tersebut. Kulit dapat dibuat lebih halus, mata diperbesar, hidung diperkecil, rahang ditegaskan, wajah dibuat lebih simetris. Pada titik tertentu, gambar hasil filter dapat menjadi begitu akrab sehingga wajah tanpa filter justru tampak seperti versi yang belum selesai.
Di sinilah konsep prostesis digital menjadi penting. Prostesis biasanya dipahami sebagai sesuatu yang menggantikan bagian tubuh yang hilang, seperti kaki buatan, tangan buatan, atau gigi palsu. Namun, dalam kehidupan digital, prostesis tidak harus berupa benda yang menempel pada tubuh. Ia dapat berupa sistem yang memperpanjang kemampuan manusia sekaligus mengubah cara manusia mengalami dirinya sendiri. GPS mengubah cara kita menemukan jalan, kamera mengubah cara kita menyimpan kenangan, kalender digital mengatur cara kita membagi waktu, smartwatch membuat kondisi tubuh dapat dipantau melalui angka, dan AI mulai hadir dalam wilayah yang selama ini dianggap sangat dekat dengan kreativitas manusia, seperti menulis, menggambar, menerjemahkan, dan mencari gagasan.
Karena itu, prostesis digital tidak selalu menggantikan sesuatu yang hilang. Ia justru sering membuat kita menjalani kehidupan dengan cara yang berbeda. Kita tidak hanya berjalan, tetapi berjalan sambil mengetahui jumlah langkah. Kita tidak sekadar tidur, tetapi dapat bangun dengan laporan tentang kualitas tidur. Kita tidak hanya mengambil foto, tetapi membangun arsip kehidupan dalam jumlah yang hampir tidak terbatas. Kita bahkan tidak selalu berbicara atau menulis dalam bentuk pertama yang muncul dari pikiran, karena kata-kata dapat diperiksa, dikoreksi, dan disusun ulang oleh sistem digital. Pengalaman tubuh perlahan hadir melalui antarmuka.
Perubahan yang lebih besar terjadi ketika tubuh mulai menjadi sesuatu yang dapat dibaca secara terus-menerus. Denyut jantung menjadi angka, tidur menjadi grafik, lokasi menjadi koordinat, wajah menjadi biometrik, suara menjadi rekaman, dan kebiasaan menjadi pola yang dapat dianalisis. Di satu sisi, kemampuan tersebut memberi pengetahuan baru tentang tubuh dan dapat berguna untuk berbagai keperluan. Namun, sesuatu yang dapat diukur juga mudah berubah menjadi sesuatu yang harus dinilai. Angka membutuhkan pembanding, pembanding menghasilkan standar, dan standar kemudian melahirkan target. Tubuh yang semula hanya dirasakan akhirnya masuk ke dalam logika performa.
Kita mulai mengelola tubuh sebagaimana kita mengelola sebuah proyek. Kita menghitung langkah, memperhatikan berat badan, memeriksa waktu tidur, mengukur aktivitas, dan melihat berbagai indikator kesehatan. Tidak selalu ada orang lain yang memerintahkan semua itu. Kita justru membeli perangkatnya sendiri, memasangnya sendiri, dan kemudian memeriksa hasilnya sendiri. Di sinilah disiplin tubuh modern bekerja dengan cara yang sangat halus: perintah tidak lagi selalu datang dari luar, sebab kita telah belajar mengawasi diri sendiri melalui layar.
Dari sini industri kecantikan dan teknologi digital bertemu. Industri kecantikan mengajarkan bahwa tubuh selalu dapat dibuat lebih baik, sementara teknologi digital menyediakan alat yang semakin presisi untuk melihat kekurangan tersebut. Kulit dapat lebih cerah, wajah dapat lebih muda, perut dapat lebih rata, gigi dapat lebih putih, dan tubuh dapat lebih proporsional. Pada saat yang sama, filter dan aplikasi memungkinkan representasi tubuh dibuat semakin mendekati gambaran ideal. Akibatnya, kita tidak hanya merawat tubuh biologis, tetapi juga merawat citra tubuh. Tubuh harus tampak baik di dunia nyata sekaligus tampak baik di layar.
Tubuh kemudian memiliki semacam tubuh kedua. Tubuh pertama adalah tubuh yang berdaging, memiliki berat, usia, luka, rasa sakit, bau, dan kematian. Tubuh kedua terdiri atas foto, video, profil, biometrik, rekaman suara, lokasi, riwayat pencarian, jaringan sosial, dan berbagai jejak digital lainnya. Tubuh kedua tidak memiliki daging, tetapi ia mempunyai konsekuensi terhadap tubuh pertama. Ia memengaruhi bagaimana kita terlihat, bagaimana kita dikenali, bagaimana kita diingat, bahkan bagaimana kita hadir ketika secara fisik tidak berada di suatu tempat.
Dalam pengertian ini, prostesis digital menghasilkan bentuk kehadiran yang berbeda dari tubuh biologis. Foto tetap beredar ketika orangnya tidak hadir. Suara dapat diputar ketika pemiliknya tidak sedang berbicara. Pesan dapat terus dibaca ketika pengirimnya sudah lama meninggalkan percakapan. Data dapat tetap bekerja ketika tubuh telah berhenti melakukan apa pun. Di sinilah gagasan tentang “hantu digital” memperoleh makna baru. Hantu tidak harus berupa tubuh yang bangkit dari kematian; ia dapat berupa jejak yang tidak ikut mati ketika tubuh berhenti hadir.
Barangkali imajinasi tentang hantu dalam kebudayaan lama dapat dibaca dari sudut yang serupa, meskipun kita tidak perlu menganggapnya sebagai ramalan literal tentang teknologi. Dalam banyak cerita, hantu muncul ketika sesuatu yang semestinya telah selesai meninggalkan dunia masih tetap hadir sebagai bayangan, suara, ingatan, atau tubuh yang kehilangan keutuhannya. Teknologi digital menciptakan bentuk baru dari ketidaksempurnaan perpisahan itu. Tubuh dapat pergi, tetapi representasinya tetap tinggal. Kehadiran dapat berakhir secara biologis, tetapi tidak selalu berakhir secara digital.
Karena itu, persoalan prostesis digital pada akhirnya bukan semata-mata soal apakah manusia menjadi malas atau terlalu bergantung pada teknologi. Pertanyaan yang lebih menarik adalah siapa yang semakin memiliki otoritas untuk mengatakan bagaimana tubuh seharusnya dijalani. Dahulu kita membaca tubuh melalui rasa sakit, lapar, lelah, kenyang, kantuk, dan pengalaman langsung. Sekarang kita semakin sering membaca tubuh melalui angka, grafik, notifikasi, kamera, sensor, dan rekomendasi. Kita tidak hanya bertanya kepada tubuh, tetapi juga bertanya kepada sistem tentang tubuh.
Perubahan ini tentu tidak berarti bahwa teknologi harus ditolak. Banyak teknologi justru memperluas kemampuan manusia, membantu kesehatan, memudahkan komunikasi, dan memberikan akses yang sebelumnya tidak tersedia. Yang perlu diperhatikan adalah saat alat bantu perlahan berubah menjadi ukuran tentang bagaimana kehidupan yang benar seharusnya dijalani. Ketika angka langkah berubah menjadi kewajiban, ketika filter berubah menjadi standar wajah, ketika aplikasi kesehatan berubah menjadi sumber kecemasan, atau ketika AI membuat kita merasa bahwa pikiran yang belum dibantu mesin adalah pikiran yang belum selesai, teknologi telah bergerak dari sekadar alat menuju lingkungan yang ikut membentuk cara kita memahami diri sendiri.
Mungkin karena itu kita perlu mempertahankan sebuah hak sederhana: hak tubuh untuk tidak selesai. Hak untuk memiliki kerutan, bekas luka, gigi yang tidak sempurna, tubuh yang tidak selalu optimal, dan wajah yang tidak selalu siap difoto. Hak untuk menggunakan teknologi tanpa harus menyerahkan seluruh penilaian tentang diri kepada teknologi. Tubuh bukan perangkat lunak yang menunggu pembaruan. Ia adalah sejarah yang berjalan, membawa usia, pengalaman, pekerjaan, luka, kebiasaan, keturunan, dan kenangan yang tidak semuanya perlu diperbaiki.
Sejarah tubuh manusia mungkin memang merupakan sejarah tentang merapikan. Kita memotong, mengurangi, menghaluskan, menyusun, menambal, mengganti, lalu perlahan belajar mengukur dan mengoreksi diri melalui perangkat digital. Dari pisau menuju kamera, dari cermin menuju layar, dari ukuran tubuh menuju data tubuh, kita memasuki tahap ketika tubuh bukan hanya dibentuk oleh kebudayaan, tetapi juga diterjemahkan oleh mesin.
Pada akhirnya, persoalannya bukan bahwa mesin semakin menyerupai manusia, melainkan bahwa manusia semakin terbiasa melihat dirinya melalui mesin. Kita mulai mengenali wajah melalui kamera, kesehatan melalui angka, arah melalui GPS, ingatan melalui arsip digital, dan bahkan kemungkinan-kemungkinan kreatif melalui AI. Tubuh masih berada di sini, tetapi cara kita memahami tubuh semakin sering datang dari tempat lain.
Mungkin di situlah bentuk baru disiplin tubuh bermula: bukan ketika mesin memaksa tubuh, melainkan ketika manusia mulai percaya bahwa tubuhnya baru benar-benar baik setelah mendapatkan pengesahan dari layar.
