Tubuh yang Minta Istirahat

Tendik di Prodi Keperawatan FKIK UMY
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Riswan Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Stroke dan Protes terhadap Kewajahmudaan
Barangkali ada saat ketika tubuh tidak lagi ingin terlihat muda. Ia hanya ingin berhenti.
Kita hidup dalam zaman yang begitu takut terhadap tanda-tanda waktu sehingga hampir seluruh tubuh telah menjadi proyek perbaikan. Kerutan harus dihapus, rambut putih disamarkan, perut diratakan, kulit dikencangkan, gigi dirapikan, lemak dibuang, wajah dikembalikan kepada bentuk yang dianggap lebih muda. Tubuh bukan lagi sesuatu yang kita tinggali, melainkan sesuatu yang terus-menerus harus kita presentasikan. Ia harus tampak sehat, segar, tegap, aktif, produktif, dan, sebisa mungkin, tidak mengakui usianya sendiri.
Di sinilah kewajahmudaan bekerja bukan hanya sebagai estetika, tetapi sebagai disiplin. Tubuh dituntut untuk terus hadir sebagai tubuh yang muda bahkan ketika waktu telah berjalan jauh meninggalkannya. Kita tidak sekadar diminta untuk menjadi sehat. Kita diminta untuk terlihat sehat. Kita tidak hanya diminta untuk hidup. Kita diminta untuk menampilkan kehidupan yang tidak menunjukkan terlalu banyak bekas kehidupan itu sendiri.
Wajah menjadi halaman yang harus selalu diperbarui.
Tubuh menjadi semacam antarmuka yang tidak boleh memperlihatkan usia sistem operasinya.
Karena itu, ketika tubuh tiba-tiba kehilangan kemampuan untuk melakukan apa yang selama ini diperintahkannya, pengalaman tersebut terasa seperti gangguan besar terhadap tata tertib kehidupan. Stroke, misalnya, dapat membuat sebagian tubuh kehilangan fungsi secara mendadak: wajah dapat berubah, tangan melemah, kaki sulit digerakkan, bicara terganggu. Secara medis, stroke tentu merupakan kondisi serius yang memiliki berbagai faktor risiko dan membutuhkan penanganan. Tetapi sebagai pengalaman eksistensial, peristiwa itu juga memperlihatkan sesuatu yang selama ini berusaha kita sembunyikan: bahwa tubuh tidak sepenuhnya berada di bawah kendali kehendak kita.
Kita ingin tubuh mengikuti perintah.
Bangun.
Berjalan.
Bekerja.
Berbicara.
Menulis.
Berolahraga.
Tersenyum.
Tampil.
Bekerja lagi.
Tetapi tubuh memiliki batas yang tidak selalu dapat dinegosiasikan oleh keinginan.
Di titik itulah tubuh seperti mengembalikan waktu kepada manusia.
Selama bertahun-tahun kita berusaha membuat tubuh bergerak lebih cepat daripada waktu. Kita menggunakan berbagai alat, prosedur, obat, kosmetik, olahraga, teknologi, dan disiplin tubuh untuk menunda tanda-tanda penuaan. Bahkan teknologi digital ikut membantu memperpanjang ilusi tersebut. Foto dapat diperhalus, wajah dapat direkonstruksi, tubuh dapat dibentuk melalui filter, usia dapat disembunyikan melalui pencahayaan dan algoritma. Kita akhirnya memiliki kemampuan untuk membuat representasi tubuh tampak lebih muda daripada tubuh yang sesungguhnya.
Namun tubuh biologis tidak mengenal tombol undo.
Ia menyimpan waktu di dalam otot, sendi, pembuluh darah, kulit, tulang, dan cara kita bergerak. Ia membawa seluruh sejarah kehidupan tanpa meminta persetujuan kita. Kerutan adalah arsip. Rambut putih adalah arsip. Langkah yang melambat adalah arsip. Napas yang tidak lagi sepanjang masa muda adalah arsip. Tubuh sebenarnya adalah tempat paling jujur bagi waktu untuk menulis.
Karena itu, persoalan terbesar kewajahmudaan bukanlah bahwa manusia ingin tampak menarik. Persoalannya muncul ketika kemudaan berubah menjadi satu-satunya bentuk tubuh yang dianggap layak hadir.
Tubuh tua harus menyamar sebagai tubuh muda.
Tubuh lelah harus berpura-pura kuat.
Tubuh yang ingin berhenti harus tetap produktif.
Tubuh yang melambat dianggap kalah.
Di sinilah tubuh mengalami semacam penjajahan estetika. Ia tidak hanya diatur dari luar, tetapi mulai mengawasi dirinya sendiri. Kita bercermin bukan untuk melihat siapa diri kita, melainkan untuk mencari bagian mana dari tubuh yang mulai mengkhianati citra kemudaan. Setiap kerutan menjadi kesalahan. Setiap rambut putih menjadi ancaman. Setiap kilogram tambahan dianggap sebagai kegagalan disiplin. Bahkan proses biologis yang paling alamiah pun berubah menjadi sesuatu yang harus diperangi.
Tubuh tidak lagi boleh menua dengan tenang.
Ia harus menua secara diam-diam.
Maka, ketika tubuh berhenti, persoalannya menjadi lebih dalam daripada sekadar hilangnya fungsi. Ada perintah-perintah yang mendadak tidak dapat dilaksanakan. Tangan tidak lagi segera menurut. Kaki tidak lagi bergerak sesuai kehendak. Kata-kata membutuhkan waktu lebih lama untuk keluar. Wajah yang selama ini menjadi alat utama untuk menampilkan diri kepada dunia tiba-tiba dapat berubah.
Tubuh yang selama ini menjadi alat presentasi mendadak menjadi pengingat bahwa ia bukan sekadar alat.
Ia memiliki waktu.
Ia memiliki batas.
Ia memiliki ketidaktaatan.
Mungkin karena itu pengalaman sakit sering kali membuat manusia berhadapan dengan sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh industri kewajahmudaan: kesadaran bahwa hidup tidak selalu harus dipercepat.
Kita terlalu lama menganggap produktivitas sebagai bukti bahwa tubuh masih bernilai. Selama tubuh masih bekerja, kita merasa masih memiliki tempat. Selama masih bisa berlari, bekerja, bepergian, berpikir cepat, tampil segar, dan mengikuti perubahan, kita merasa masih berada di dalam arus kehidupan.
Padahal ada bentuk kehidupan yang lain: diam, bergantung, dirawat, menunggu, beristirahat.
Kita begitu takut pada ketergantungan sehingga lupa bahwa manusia sejak awal adalah makhluk yang hidup melalui ketergantungan. Bayi tidak dapat hidup tanpa orang lain. Orang sakit membutuhkan orang lain. Orang tua membutuhkan orang lain. Bahkan manusia yang paling mandiri pun pada akhirnya bergantung pada tubuhnya sendiri, dan tubuh itu suatu hari akan menolak beberapa perintah yang selama ini diberikan kepadanya.
Dalam pengertian ini, tubuh yang meminta istirahat bukan tubuh yang gagal. Ia adalah tubuh yang mengingatkan bahwa manusia bukan mesin.
Barangkali inilah paradoks terbesar dari obsesi terhadap kewajahmudaan. Kita ingin mempertahankan tubuh muda karena menganggap tubuh muda sebagai tubuh yang paling bebas. Padahal semakin kita memaksakan tubuh untuk selalu muda, semakin banyak aturan yang harus dipatuhinya. Ia harus makan dengan cara tertentu, bergerak dengan cara tertentu, berpakaian dengan cara tertentu, tampil dengan cara tertentu, berfoto dengan cara tertentu, bahkan menua dengan cara tertentu.
Kemudaan akhirnya berubah menjadi kandang.
Tubuh yang ingin keluar dari kandang itu mungkin tidak selalu mampu melakukannya dengan cara yang kita harapkan. Kadang ia melambat. Kadang ia sakit. Kadang ia kehilangan kemampuan tertentu. Kadang ia hanya meminta kita berhenti mengejarnya.
Di sana kita mungkin perlu membalik cara pandang kita terhadap tubuh.
Bukan lagi: bagaimana membuat tubuh tetap muda?
Melainkan: bagaimana memberi tubuh izin untuk menjadi tua?
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya radikal. Sebab memberi tubuh izin untuk menua berarti mengakui bahwa tidak semua perubahan harus diperbaiki, tidak semua kelemahan harus disembunyikan, dan tidak semua keterbatasan harus diperlakukan sebagai kegagalan. Ada saat ketika tubuh tidak membutuhkan lebih banyak intervensi. Ia membutuhkan ruang.
Ruang untuk melambat.
Ruang untuk dirawat.
Ruang untuk tidak produktif.
Ruang untuk tidak menarik.
Ruang untuk tidak tampak muda.
Mungkin kita terlalu lama melihat tubuh dari luar sehingga lupa mendengarkan tubuh dari dalam. Kita sibuk memperbaiki wajah, merapikan bentuk, mengencangkan kulit, mengurangi lemak, mengganti rambut, memperbaiki gigi, memasang berbagai prostesis, dan memanfaatkan teknologi untuk memperpanjang kemampuan tubuh. Semua itu dapat memiliki fungsi dan manfaatnya sendiri. Tetapi ada satu pertanyaan yang sering hilang: kapan tubuh boleh berkata cukup?
Stroke, sebagai pengalaman tubuh, memperlihatkan secara keras bahwa kemampuan tersebut tidak selalu berada dalam genggaman manusia. Ia mengingatkan bahwa tubuh bukan proyek yang sepenuhnya dapat dikendalikan. Ada waktu yang bekerja diam-diam di dalamnya, bahkan ketika kita sedang sibuk menghapus tanda-tanda waktu dari permukaannya.
Maka mungkin persoalannya bukan bagaimana mengalahkan usia.
Persoalannya adalah bagaimana hidup tanpa harus terus-menerus memusuhi usia.
Sebab tubuh tidak pernah benar-benar meminta kita menjadi muda selamanya. Yang mungkin dimintanya jauh lebih sederhana: didengarkan ketika lelah, diberi jeda ketika berat, dirawat ketika sakit, dan pada akhirnya diterima ketika waktu menuliskan dirinya semakin jelas di atas tubuh.
Barangkali tubuh yang minta istirahat sedang mengajarkan sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh cermin.
Bahwa menjadi manusia bukanlah kemampuan untuk terus bergerak.
Kadang-kadang menjadi manusia justru berarti mampu berhenti.
Dan mungkin, setelah seluruh hidup kita habiskan untuk membuat tubuh terus hadir di hadapan dunia, tubuh akhirnya melakukan satu-satunya bentuk protes yang tidak membutuhkan kata-kata: ia berhenti sejenak, dan meminta kita tinggal bersamanya.
