Tubuh yang Tidak Mau Bekerja Sama dengan Peradaban

Tendik di Prodi Keperawatan FKIK UMY
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Riswan Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita hidup pada zaman ketika tubuh tidak pernah dibiarkan menjadi tubuh. Ia selalu dijadikan proyek.
Tubuh harus cantik, sehat, kuat, muda, langsing, bersih, produktif, bahkan harus dapat diukur. Kita menghitung langkah, kalori, denyut jantung, berat badan, jam tidur, sampai jumlah olahraga. Kamera memperhalus wajah, kosmetik menyamarkan usia, teknologi memantau kesehatan, sementara industri kebugaran terus mengingatkan bahwa tubuh yang kita miliki sekarang belum cukup baik.
Seolah-olah tubuh adalah rancangan yang gagal dan kita ditugasi memperbaikinya sepanjang hidup.
Kecantikan menjadikan tubuh proyek estetika. Kesehatan menjadikannya proyek medis. Olahraga menjadikannya proyek kekuatan. Maskulinitas dan feminitas menjadikannya proyek identitas. Dunia kerja menjadikannya proyek produktivitas. Teknologi kemudian menjadikannya proyek optimasi.
Tubuh tidak cukup hanya hidup. Ia harus berhasil.
Lalu bagaimana jika suatu hari tubuh berkata tidak?
Tidak mau kurus. Tidak mau tampak muda. Tidak mau terus bekerja. Tidak mau bangun ketika alarm berbunyi. Tidak mau tersenyum ketika harus melayani. Tidak mau memenuhi ukuran maskulinitas atau feminitas yang ditentukan masyarakat.
Kita segera menyebutnya masalah.
Tubuh gemuk dianggap kurang disiplin. Tubuh lelah dianggap kurang kuat. Tubuh tua dianggap tidak terawat. Tubuh yang tidak mengikuti standar kecantikan dianggap tidak menarik. Tubuh yang tidak produktif dianggap malas.
Di sinilah kita perlu mencurigai kata anomali.
Siapa yang sebenarnya menentukan bahwa sebuah tubuh adalah anomali?
Anomali tidak selalu melekat pada tubuh. Ia bisa diciptakan oleh standar. Kita menentukan ukuran tentang tubuh yang dianggap normal, kemudian semua yang keluar dari ukuran itu disebut menyimpang. Kita menciptakan tubuh ideal, lalu tubuh yang tidak mencapainya dianggap gagal.
Karena itu, tubuh anomali sebenarnya memperlihatkan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri: ia memperlihatkan adanya aturan.
Ketika semua orang dituntut kurus, tubuh gemuk menjadi anomali. Ketika semua orang dituntut produktif, tubuh yang ingin berhenti menjadi gangguan. Ketika semua orang harus selalu terhubung, orang yang tidak segera menjawab pesan dianggap tidak profesional. Ketika semua orang harus tampak muda, keriput menjadi sesuatu yang harus diperbaiki.
Padahal tubuh tidak pernah menandatangani kontrak itu.
Tubuh tidak pernah berjanji akan selalu muda, sehat, cantik, kuat, produktif, maskulin, feminin, atau sesuai dengan ukuran apa pun yang dibuat masyarakat. Tubuh hanya menjalankan tubuhnya.
Ia lapar ketika lapar. Mengantuk ketika mengantuk. Berkeringat ketika panas. Gemetar ketika takut. Menangis ketika kehilangan. Sakit ketika sesuatu tidak beres. Menua ketika waktu berjalan. Dan pada akhirnya mati.
Justru karena itulah tubuh menjadi sesuatu yang sulit sepenuhnya ditertibkan peradaban.
Peradaban dapat mengatur jam kerja, tetapi tidak dapat memerintahkan rasa lelah untuk datang pada waktu yang tepat. Peradaban dapat membuat standar kecantikan, tetapi tidak dapat menghentikan keriput. Peradaban dapat mengembangkan teknologi kesehatan, tetapi tidak dapat menghapus seluruh kemungkinan sakit. Peradaban dapat menciptakan berbagai metode untuk mengubah tubuh, tetapi tubuh tetap memiliki usia dan batasnya sendiri.
Tubuh kadang hanya mengatakan: tidak hari ini.
Kalimat sederhana itu sesungguhnya mengganggu sebuah sistem yang membutuhkan tubuh untuk selalu dapat diprediksi. Sistem membutuhkan tubuh yang bangun ketika alarm berbunyi, bekerja ketika jam kerja dimulai, bergerak ketika diperintah, tersenyum ketika diperlukan, dan kembali bekerja setelah beristirahat.
Tubuh yang mengantuk di tengah rapat adalah gangguan kecil. Tubuh yang sakit ketika harus bekerja menjadi gangguan yang lebih besar. Tubuh yang menua menjadi masalah bagi industri yang menjual kemudaan. Tubuh yang tidak ingin menjadi cantik menurut ukuran tertentu menjadi gangguan bagi industri kecantikan.
Tubuh tidak harus memberontak untuk mengganggu peradaban. Ia cukup tidak menurut.
Bahkan rengekan mungkin merupakan bentuk perlawanan tubuh yang paling awal. Bayi tidak mempunyai teori tentang tubuh, tetapi ia menangis ketika lapar. Orang dewasa justru belajar menahan keluhan. Kita belajar mengatakan “saya baik-baik saja” ketika tubuh sebenarnya tidak baik-baik saja. Kita belajar memaksakan diri bekerja melewati batas tubuh karena berhenti dianggap tidak profesional.
Peradaban kemudian menyebut tubuh yang mengeluh sebagai tubuh yang bermasalah.
Padahal mungkin tubuh sedang berbicara.
Di sinilah tubuh yang tidak mau bekerja sama dengan peradaban menjadi penting. Ia bukan tubuh yang hendak menghancurkan dunia. Ia hanya menolak menjadi proyek yang tidak pernah selesai.
Tubuh yang menua mengingatkan bahwa kemudaan bukan keadaan permanen. Tubuh yang lelah mengingatkan bahwa produktivitas mempunyai batas. Tubuh yang sakit mengingatkan bahwa manusia bukan mesin. Tubuh yang tidak ingin tampil sempurna mengingatkan bahwa keberadaan tidak membutuhkan persetujuan estetika.
Maka pertanyaannya perlu dibalik.
Bukan lagi, “Mengapa tubuh ini tidak sesuai dengan standar?”
Melainkan, “Mengapa standar itu begitu membutuhkan tubuh untuk selalu sesuai dengannya?”
Sebab tubuh yang disebut anomali mungkin justru sedang memperlihatkan batas sebuah sistem yang terlalu percaya pada normalitasnya sendiri.
Selama tubuh patuh, kita tidak melihat aturan. Tetapi ketika tubuh mulai mengantuk, sakit, berkeringat, gemuk, menua, menangis, tidak produktif, atau sekadar tidak mau tampil seperti yang diharapkan, aturan itu mendadak terlihat.
Anomali akhirnya bukan semata-mata kesalahan tubuh. Ia adalah cermin yang memperlihatkan betapa banyak tuntutan yang selama ini kita anggap alamiah.
Barangkali tubuh tidak perlu dibebaskan dari peradaban. Yang perlu dilakukan adalah berhenti memaksanya menjadi proyek peradaban.
Tubuh bukan rancangan yang gagal. Ia bukan produk yang harus terus diperbarui. Ia bukan mesin yang harus selalu optimal.
Tubuh adalah sesuatu yang kadang mengatakan ya dan kadang tidak; kadang kuat dan kadang lemah; kadang indah menurut kita dan kadang sama sekali tidak peduli pada keindahan.
Dan mungkin justru di situlah kebebasannya.
Tubuh tidak perlu menghantam peradaban. Ia hanya perlu berhenti bekerja sama dengannya.
