Sembilu Jingga di Penghujung Senja

Kepala SMA Rex Mundi Manado
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Rita Manuel tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
(sebuah Puisi untuk sahabatku)

Di ujung hari yang nyaris gugur,
langit menumpahkan jingganya
seperti luka yang dipoles cahaya,
indah, namun diam-diam menyiksa.
Matahari tenggelam tanpa kata,
menyisakan jejak hangat yang perlahan dingin,
seolah semesta sedang belajar merelakan
apa yang sejak awal tak pernah bisa dimiliki.
Jingga itu bergetar di batas cakrawala,
retak halus di antara terang dan gelap,
menyelinap sebagai sembilu yang tak kasatmata,
namun tajamnya merambat hingga ke relung terdalam.
Angin senja membawa bisikan yang rapuh,
tentang waktu yang tak pernah kembali,
tentang rindu yang tak sempat selesai,
tentang nama yang masih tinggal dalam diam.
Di sana,
di antara cahaya yang sekarat,
aku melihat perpisahan menjelma keindahan
sebuah ironi yang begitu sunyi.
Sebab senja tidak pernah benar-benar pergi,
ia hanya bersembunyi dalam ingatan,
menjadi warna yang tak bisa disentuh,
namun selalu terasa.
Ada yang luruh bersama cahaya itu,
pelan, nyaris tak terdengar,
seperti hati yang menyerah tanpa perlawanan,
seperti doa yang terlepas tanpa jawaban.
Dan sembilu itu
jingga yang mengiris tanpa suara
tetap tinggal,
menjadi bayang yang enggan pudar.
Malam pun datang menutup luka,
namun tidak menyembuhkannya,
hanya mengajarkan cara hidup
bersama rasa yang tak pernah selesai.
Di penghujung senja ini,
aku tidak lagi meminta terang untuk bertahan,
sebab aku telah mengerti
bahwa yang paling indah sekalipun
tetap harus belajar pergi.
Dan mungkin,
di balik jingga yang perlahan hilang itu,
Tuhan sedang mengajarkan sesuatu yang sederhana:
bahwa setiap kehilangan
adalah cara halus untuk pulang
kepada keikhlasan.
