Konten dari Pengguna

Sembilu Jingga di Penghujung Senja

Rita Manuel

Rita Manuel

Kepala SMA Rex Mundi Manado

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rita Manuel tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(sebuah Puisi untuk sahabatku)

Ilustrasi Senja (https://www.pexels.com/id-id/foto/pemandangan-matahari-terbenam-yang-dramatis-dengan-pepohonan-yang-tampak-sebagai-siluet-36609347/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Senja (https://www.pexels.com/id-id/foto/pemandangan-matahari-terbenam-yang-dramatis-dengan-pepohonan-yang-tampak-sebagai-siluet-36609347/)

Di ujung hari yang nyaris gugur,

langit menumpahkan jingganya

seperti luka yang dipoles cahaya,

indah, namun diam-diam menyiksa.

Matahari tenggelam tanpa kata,

menyisakan jejak hangat yang perlahan dingin,

seolah semesta sedang belajar merelakan

apa yang sejak awal tak pernah bisa dimiliki.

Jingga itu bergetar di batas cakrawala,

retak halus di antara terang dan gelap,

menyelinap sebagai sembilu yang tak kasatmata,

namun tajamnya merambat hingga ke relung terdalam.

Angin senja membawa bisikan yang rapuh,

tentang waktu yang tak pernah kembali,

tentang rindu yang tak sempat selesai,

tentang nama yang masih tinggal dalam diam.

Di sana,

di antara cahaya yang sekarat,

aku melihat perpisahan menjelma keindahan

sebuah ironi yang begitu sunyi.

Sebab senja tidak pernah benar-benar pergi,

ia hanya bersembunyi dalam ingatan,

menjadi warna yang tak bisa disentuh,

namun selalu terasa.

Ada yang luruh bersama cahaya itu,

pelan, nyaris tak terdengar,

seperti hati yang menyerah tanpa perlawanan,

seperti doa yang terlepas tanpa jawaban.

Dan sembilu itu

jingga yang mengiris tanpa suara

tetap tinggal,

menjadi bayang yang enggan pudar.

Malam pun datang menutup luka,

namun tidak menyembuhkannya,

hanya mengajarkan cara hidup

bersama rasa yang tak pernah selesai.

Di penghujung senja ini,

aku tidak lagi meminta terang untuk bertahan,

sebab aku telah mengerti

bahwa yang paling indah sekalipun

tetap harus belajar pergi.

Dan mungkin,

di balik jingga yang perlahan hilang itu,

Tuhan sedang mengajarkan sesuatu yang sederhana:

bahwa setiap kehilangan

adalah cara halus untuk pulang

kepada keikhlasan.