Konten dari Pengguna

Tantangan Pakan Alternatif Maggot Guna Menekan Impor Tepung Ikan

riva hafidah

riva hafidah

hi, nama saya riva. semoga kalian selalu sehat dan bahagia

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari riva hafidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Slamet Soebajakto Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) di Jakarta (28/2) menuturkan bahwa Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan membangun 7 model percontohan maggot skala industri tahun 2020 di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam Jambi, Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin, Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Tatelu, Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo dan Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang.

Maggot adalah fase larva dari lalat Black Soldier Fly (BSF). Magot BSF mudah dibudidayakan dan tidak memerlukan perawatan intensif serta dapat dijadikan sebagai bahan baku pakan ikan, unggas, dan ternak. Memiliki kandungan protein yang berkisar 40-48% dan lemak 25-32%. Maggot merupakan hasil inovasi dari berbagai penelitian dalam mencari bahan baku pengganti tepung ikan (fishmeal replacement).

Media pemeliharaan maggot adalah sampah organik, sehingga dalam produksinya turut serta dalam menekan jumlah sampah organik. Menurut Slamet "Budidaya maggot tidak membutuhkan listrik, air, bahan kimia, infrastruktur yang digunakan sederhana, dan mampu mendegradasi sampah organik menjadi material nutrisi lainnya".

Selain berprotein tinggi, keunggulan lainnya yaitu teknologi budidaya maggot dapat diadopsi dengan mudah oleh masyarakat. Maggot BSF juga dapat diproses menjadi tepung maggot (mag meal) untuk bahan baku pembuatan pakan dan dapat menekan biaya produksi pakan.

Menanggapi segala keunggulan maggot, apakah maggot BSF bisa menjadi pilihan yang tepat untuk menggantikan tepung ikan? Hal ini bergantung pada harga maggot BSF dengan tepung ikan dan bahan baku lain, dan kualitas maggot BSF yang digunakan. Tantangan yang paling utama adalah jumlah ketersediaan dan keberlanjutannya.

Firas Andhika merupakan seorang mahasiswa Universitas Padjadjaran bersama dengan tim nya mendirikan Agot.id yang membudidayakan maggot di daerah Jatinangor, tepatnya mereka bekerja sama dengan pihak Tempat Pembuangan Sampah (TPS), Hegarmanah untuk memenuhi kebutuhan sampah organik sebagai media budidaya maggot.

Menurut Firas tantangan dalam produksi maggot berada pada komposisi sampah organik, distribusi jarak jauh, pandemi COVID-19, dan tidak ada standar harga jual. Tantangan dalam komposisi sampah organik yaitu jika sampahnya dominan sayur-sayuran, pertumbuhan maggot melambat. Hal ini berdasarkan pengalaman firas dan tim ketika menggunakan sampah ubi, maggot memerlukan waktu panen yang lebih panjang dibandingkan saat dicampur sampah rumah tangga. Maka, sampah perlu disortir dan dicampur dengan komposisi sampah sayur, rumah makan, dan buah.

Tantangan selanjutnya yaitu tentang distribusi produk, menurut Firas ia belum bisa menjual produknya ke luar daerah Jawa Barat, padahal permintaan sudah banyak dari Jawa Timur, Jawa Tengah, bahkan Lampung. Kendala utama adalah siklus maggot relatif singkat sehingga waktu distribusi menjadi perhatian. Firas menambahkan bahwa seharusnya ia menjual produk maggot kering, namun ia dan tim masih terkendala pada teknologi yang diperlukan untuk produksi maggot kering.

Pandemi COVID-19 merupakan dampak yang signifikan bagi produksi sampah di Jatinangor. Firas menuturkan bahwa sebelum pandemi, produksi sampah relatif tinggi, namun setelah bulan Maret produksi sampah menurun drastis. Akibatnya ia sempat mogok produksi maggot karena kurangnya sampah organik sebagai media pemeliharaan.

Tidak ada standar harga jual di pasar membuat penawaran dari berbagai konsumen beragam. Namun firas dan tim membuat standar harga jual sendiri berdasarkan HPP yang mereka hitung. Firas menjual maggot seharga Rp 7.000/kg. Selain maggot, ia juga menjual telur maggot seharga Rp 7.000/gram.

Firas menambahkan bahwa permintaan pasar akan maggot tinggi, namun produksi maggotnya belum bisa memenuhi kebutuhan konsumen. Dengan berat hati, ia hanya menjual produknya ke para langganan saja. Sisanya, jika ada yang ingin membeli, terpaksa ditolak.

Berangkat dari tantangan yang dialami Firas selaku produsen maggot, dapat ditarik garis besarnya yaitu maggot telah digunakan oleh para pembudidaya atau peternak sebagai pengganti tepung ikan, namun kuantitas maggot belum mampu memenuhi kebutuhan. Saran dari penulis yaitu pemerintah harus cepat membuat produksi maggot skala industri agar tujuan mengurangi inpor tepung ikan segera direalisasikan. Saran sederhanya yaitu produsen maggot sebaiknya tersebar di berbagai kota di Indonesia atau bantuan modal bagi produsen maggot yang sudah ada agar kapasitas produksinya meningkat.