Konten dari Pengguna

Cancel Culture Double Standard di Fandom K-Pop TikTok

Rival AlkhofiZ

Rival AlkhofiZ

jurusan ilmu komunikasi S1, di universitas andalas sumatra barat

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rival AlkhofiZ tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : (Gemini, 2026) Cancel Culture
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : (Gemini, 2026) Cancel Culture

Cancel culture: ketika idol perempuan lebih cepat “di-cancel”, sementara idol laki-laki cenderung tetap “di-stan” atau dibela. Fenomena ini sering dirangkum dalam istilah populer: “cancel her vs stanned him.”Fenomena fandom K-Pop di era digital tidak lagi sekadar tentang mengagumi idola, tetapi telah berkembang menjadi ruang sosial yang kompleks, penuh dinamika emosi, identitas, dan kekuasaan kolektif. Salah satu fenomena yang semakin mencolok di platform seperti TikTok adalah munculnya pola double standard.

Dalam perspektif komunikasi dan budaya digital, fenomena ini tidak terjadi secara kebetulan. Ia merupakan hasil konstruksi sosial yang terbentuk dari interaksi antar penggemar, algoritma media sosial, serta nilai-nilai budaya yang masih bias gender. Penelitian tentang fandom K-Pop menunjukkan bahwa komunitas penggemar memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini publik, termasuk dalam menentukan apakah seorang idol layak didukung atau diboikot.

Secara teoritis, fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep cancel culture, yaitu praktik kolektif untuk “menghukum” individu yang dianggap melakukan kesalahan melalui boikot sosial. Dalam konteks K-Pop, cancel culture sering terjadi di media sosial dan dapat berkembang menjadi cyberbullying. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penggemar K-Pop memandang cancel culture sebagai fenomena yang cenderung negatif, meskipun memiliki sisi positif sebagai bentuk kontrol sosial.

Namun, yang menjadi perhatian adalah bagaimana cancel culture ini tidak selalu diterapkan secara adil. Studi tentang komentar kebencian terhadap idol K-Pop menemukan adanya double standard yang signifikan, terutama berdasarkan gender. Idol perempuan lebih sering menerima kritik keras terkait penampilan, kehidupan pribadi, dan skandal, sementara idol laki-laki cenderung mendapatkan toleransi yang lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa fandom tidak hanya menjadi ruang dukungan, tetapi juga reproduksi bias sosial yang sudah ada di masyarakat.

Dari sudut pandang sosiologi, fenomena ini dapat dikaitkan dengan teori reception analysis oleh Stuart Hall, yang menyatakan bahwa audiens tidak pasif, melainkan aktif dalam menafsirkan pesan media. Dalam kasus K-Pop, penggemar menafsirkan tindakan idol berdasarkan nilai, pengalaman, dan identitas mereka masing-masing. Akibatnya, satu skandal yang sama bisa menghasilkan respons yang sangat berbeda tergantung pada siapa idol tersebut—perempuan atau laki-laki.

TikTok sebagai platform juga memainkan peran penting dalam memperkuat fenomena ini. Algoritma TikTok cenderung menampilkan konten yang memiliki engagement tinggi, sehingga konten kontroversial seperti “exposing idol” atau “defending idol” lebih mudah viral. Penelitian menunjukkan bahwa sistem rekomendasi TikTok sangat dipengaruhi oleh interaksi pengguna, seperti like, komentar, dan durasi menonton, yang pada akhirnya menciptakan filter bubble. Dalam konteks ini, narasi tertentu—misalnya membela idol laki-laki—dapat terus diperkuat jika mendapatkan dukungan besar.

Fenomena fan war di TikTok juga memperparah situasi. Penelitian menunjukkan bahwa konflik antar fandom sering terjadi melalui komentar dan konten simbolik yang menjadi identitas kelompok. Dalam situasi ini, membela idol bukan lagi soal objektivitas, tetapi loyalitas kelompok. Ketika idol laki-laki terlibat skandal, fandom akan berusaha mempertahankan citra idol tersebut demi menjaga identitas kolektif mereka. Sebaliknya, idol perempuan sering kali tidak mendapatkan perlindungan yang sama, bahkan dari fandom mereka sendiri.

Dari perspektif psikologis, fenomena ini juga berkaitan dengan parasocial relationship, yaitu hubungan emosional sepihak antara penggemar dan idol. Penggemar sering merasa memiliki kedekatan personal dengan idol, sehingga mereka cenderung membela idol yang mereka sukai, meskipun terdapat bukti kesalahan. Dalam banyak kasus, loyalitas emosional ini lebih kuat terhadap idol laki-laki, terutama di kalangan penggemar perempuan.

Contoh nyata dapat dilihat dalam berbagai kasus skandal K-Pop yang viral di TikTok. Ketika idol perempuan terlibat isu seperti dating atau sikap dianggap “tidak sopan”, mereka sering langsung menjadi target cancel culture. Sebaliknya, ketika idol laki-laki terlibat skandal yang lebih serius, seperti kontroversi perilaku atau pernyataan publik, fandom sering kali justru membuat konten pembelaan, seperti “he didn’t mean it” atau “protect him at all cost.” Fenomena ini mencerminkan adanya standar ganda yang tidak hanya berasal dari individu, tetapi juga dari budaya fandom secara keseluruhan.

Selain itu, terdapat juga dilema moral dalam fandom. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa penggemar sering berada dalam posisi konflik antara kecintaan mereka terhadap idol dan nilai pribadi yang mereka anut. Beberapa memilih tetap mendukung idol, sementara yang lain memilih melakukan cancel atau bahkan keluar dari fandom. Hal ini menunjukkan bahwa fandom bukanlah ruang yang homogen, melainkan penuh dengan negosiasi identitas dan nilai.

Dari sudut pandang budaya, fenomena ini juga mencerminkan patriarki yang masih kuat dalam industri hiburan. Idol perempuan sering dituntut untuk memenuhi standar yang lebih tinggi, baik dalam hal perilaku maupun citra. Sementara itu, idol laki-laki sering diberikan ruang lebih besar untuk melakukan kesalahan tanpa kehilangan dukungan secara signifikan. Double standard ini tidak hanya terjadi di Korea Selatan, tetapi juga diadaptasi oleh fandom global, termasuk di Indonesia.

Namun, penting juga untuk melihat fenomena ini dari perspektif yang lebih luas. Cancel culture tidak selalu negatif. Dalam beberapa kasus, ia dapat menjadi alat untuk menuntut akuntabilitas dan keadilan. Misalnya, dalam kasus tertentu, penggemar menggunakan kekuatan kolektif mereka untuk mendukung korban atau menekan agensi agar bertanggung jawab. Dengan kata lain, cancel culture bisa menjadi bentuk aktivisme digital.

Kesimpulannya, fenomena “cancel her vs stanned him” di fandom K-Pop TikTok mencerminkan kompleksitas hubungan antara media, budaya, dan identitas. Ia bukan hanya soal siapa yang salah atau benar, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat—melalui fandom—membangun dan mereproduksi nilai-nilai tertentu. Dalam era digital, di mana setiap opini dapat menjadi viral, penting bagi penggemar untuk lebih kritis dan reflektif dalam berpartisipasi dalam budaya fandom. Tanpa kesadaran tersebut, fandom berisiko menjadi ruang yang tidak adil, di mana standar ganda terus dilanggengkan.