Flex Gender di Story Poll: Gen Z

jurusan ilmu komunikasi S1, di universitas andalas sumatra barat
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rival AlkhofiZ tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena story poll di media sosial kini tidak lagi sekadar fitur interaktif, tetapi telah berkembang menjadi ruang ekspresi identitas, terutama bagi generasi muda. Generasi Z—yang dikenal sebagai digital native—memanfaatkan platform seperti Instagram dan TikTok untuk menampilkan, menguji, bahkan “memilih” identitas diri mereka secara publik. Dalam konteks ini, muncul fenomena yang dapat disebut sebagai flex gender, yakni praktik menampilkan identitas gender secara fleksibel melalui fitur interaktif seperti polling, Q&A, atau sticker pilihan.
Secara konseptual, identitas gender dalam generasi Z tidak lagi dipahami secara kaku. Data global menunjukkan bahwa generasi ini merupakan kelompok yang paling terbuka terhadap keberagaman identitas. Survei Ipsos menemukan bahwa sekitar 17% Gen Z di berbagai negara mengidentifikasi diri sebagai bagian dari spektrum LGBTQ+, jauh lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran besar dalam cara generasi muda memahami diri mereka sendiri, termasuk dalam hal gender.
Namun, fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari konteks komunikasi digital. Dalam perspektif komunikasi, identitas bukanlah sesuatu yang statis, melainkan hasil konstruksi sosial yang terus dinegosiasikan. Studi tentang perilaku Gen Z di media sosial menunjukkan bahwa mereka secara aktif menggunakan platform digital untuk membangun dan menampilkan identitas diri. Mereka tidak hanya berkomunikasi, tetapi juga “mengkurasi” siapa diri mereka di hadapan publik. Dalam konteks story poll, pilihan-pilihan seperti “masculine/feminine”, “soft/hard”, atau bahkan “he/him vs she/her” menjadi simbol representasi diri yang dapat berubah-ubah.
Dari sudut pandang psikologi sosial, fenomena ini dapat dikaitkan dengan teori identitas diri yang dikemukakan oleh Erik Erikson, yang menyatakan bahwa masa remaja dan dewasa awal merupakan fase pencarian identitas (identity vs role confusion). Dalam era digital, proses ini tidak lagi terjadi secara privat, melainkan berlangsung secara terbuka di ruang publik virtual. Story poll menjadi semacam “alat eksperimen sosial” di mana individu dapat mencoba berbagai identitas dan melihat respons sosial terhadapnya.
Namun, fenomena flex gender tidak hanya mencerminkan kebebasan ekspresi, tetapi juga kompleksitas sosial yang lebih luas. Di satu sisi, terdapat peningkatan penerimaan terhadap keberagaman gender. Di sisi lain, muncul pula dinamika yang lebih kontradiktif. Misalnya, data terbaru menunjukkan adanya penurunan jumlah individu yang mengidentifikasi diri sebagai non-biner atau transgender di beberapa konteks, dari sekitar 6–9% menjadi sekitar 3% dalam beberapa survei kampus. Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah identitas gender pada Gen Z bersifat stabil, atau justru cair dan kontekstual?
Dari perspektif sosiologi, fenomena ini dapat dilihat sebagai bagian dari budaya performatif. Identitas tidak hanya “dimiliki”, tetapi juga “ditampilkan”. Dalam konteks media sosial, setiap pilihan dalam story poll dapat menjadi bentuk performa diri. Individu tidak hanya memilih identitas berdasarkan siapa mereka, tetapi juga berdasarkan bagaimana mereka ingin dilihat oleh orang lain. Hal ini sejalan dengan konsep dramaturgi oleh Erving Goffman, yang melihat interaksi sosial sebagai panggung di mana individu memainkan peran tertentu.
Kasus-kasus nyata di media sosial menunjukkan bagaimana fenomena ini terjadi. Banyak pengguna Gen Z yang secara rutin membuat polling seperti “aku lebih kelihatan maskulin atau feminin?”, atau “vibe aku apa?”. Jawaban dari teman-teman mereka kemudian menjadi validasi sosial yang memengaruhi cara mereka melihat diri sendiri. Dalam beberapa kasus, individu bahkan mengubah gaya berpakaian, cara berbicara, atau preferensi sosial berdasarkan hasil polling tersebut. Dari sudut pandang psikologis, ini menunjukkan adanya ketergantungan pada validasi eksternal.
Namun, tidak semua perspektif melihat fenomena ini secara positif. Dari sudut pandang kritis, flex gender dapat dianggap sebagai bentuk superficialitas identitas—di mana identitas menjadi sekadar tren atau estetika, bukan refleksi mendalam dari diri. Beberapa pengamat juga menyoroti adanya tekanan sosial untuk “ikut fleksibel”, terutama di lingkungan digital yang sangat terbuka. Hal ini dapat menciptakan kebingungan identitas, terutama bagi individu yang masih dalam tahap pencarian jati diri.
Di sisi lain, dari perspektif inklusivitas, fenomena ini justru membuka ruang bagi individu yang sebelumnya terpinggirkan. Data menunjukkan bahwa sebagian besar individu LGBTQ+ dari Gen Z masih menghadapi diskriminasi, dengan sekitar 81% melaporkan pengalaman diskriminatif. Dalam konteks ini, media sosial menjadi ruang aman untuk mengekspresikan diri tanpa tekanan langsung dari lingkungan sosial offline.
Fenomena ini juga dipengaruhi oleh dinamika gender yang semakin kompleks. Studi menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan dalam memandang isu gender. Misalnya, sekitar 31% laki-laki Gen Z masih memiliki pandangan tradisional tentang peran gender, sementara perempuan Gen Z cenderung lebih progresif. Perbedaan ini menciptakan “gap” dalam cara generasi ini memahami identitas, yang kemudian tercermin dalam interaksi mereka di media sosial.
Dari perspektif komunikasi digital, story poll menjadi simbol demokratisasi identitas. Setiap individu memiliki kesempatan untuk “bersuara” dan menentukan bagaimana mereka ingin dilihat. Namun, kebebasan ini juga membawa konsekuensi: identitas menjadi semakin cair, tidak stabil, dan sangat dipengaruhi oleh konteks sosial.
Kesimpulannya, fenomena flex gender di story poll mencerminkan transformasi besar dalam cara Gen Z memahami dan mengekspresikan identitas diri. Ia bukan sekadar tren, tetapi bagian dari dinamika sosial yang lebih luas, yang melibatkan aspek psikologis, sosiologis, dan teknologi. Dari berbagai sudut pandang, fenomena ini dapat dilihat sebagai bentuk kebebasan, eksperimen, sekaligus tantangan dalam memahami diri di era digital. Gen Z tidak lagi hanya “menemukan” identitas mereka, tetapi juga “memilih” dan “menampilkan” identitas tersebut secara aktif di ruang publik digital.
