Kesehatan Mental Anak dalam Kajian Psikologi Anak: Interaksi Pola Asuh

jurusan ilmu komunikasi S1, di universitas andalas sumatra barat
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rival AlkhofiZ tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Orang tua merupakan figur utama dalam kehidupan anak, tidak hanya sebagai tempat berlindung, tetapi juga sebagai lingkungan pertama dalam proses pembelajaran dan tempat anak kembali secara emosional. Dalam konteks ideal, keluarga menjadi ruang aman yang memberikan rasa nyaman dan penerimaan. Namun demikian, dalam realitas sosial, relasi keluarga tidak selalu berjalan ideal. Sejumlah kasus menunjukkan bahwa tekanan dalam keluarga justru menjadi sumber stres bagi anak, seperti meningkatnya laporan kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak di Indonesia. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (2023) mencatat ribuan kasus pengaduan terkait perlakuan tidak layak terhadap anak, termasuk kekerasan verbal dan emosional di lingkungan keluarga.
Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan tidak hanya diartikan sebagai ketiadaan penyakit atau kelemahan, melainkan sebagai kondisi kesejahteraan fisik, mental, dan sosial secara menyeluruh.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2018) mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan sehat fisik, mental, dan sosial yang memungkinkan individu hidup produktif. Dalam konteks global, WHO (2022) melaporkan bahwa sekitar 1 dari 7 remaja di dunia mengalami gangguan mental. Kasus ini juga tercermin dalam berbagai pemberitaan, seperti meningkatnya isu kesehatan mental remaja pasca pandemi COVID-19 yang dilaporkan oleh berbagai media nasional, menunjukkan lonjakan kecemasan dan depresi pada usia sekolah.
Kesehatan jiwa anak ditandai dengan kemampuan untuk merasa bahagia, mampu menyesuaikan diri dalam kehidupan sehari-hari baik di rumah maupun di sekolah, serta mampu menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri maupun orang lain. Anak yang sehat secara mental juga mampu menjalin hubungan sosial yang positif. Namun, fenomena di lapangan menunjukkan adanya penurunan kualitas kesehatan mental anak. Studi oleh UNICEF (2021) menyebutkan bahwa pandemi memperburuk kondisi kesehatan mental anak, dengan banyak anak mengalami kesepian, stres akademik, dan tekanan sosial. Kasus nyata terlihat dari meningkatnya laporan siswa yang mengalami burnout dan tekanan belajar di berbagai jenjang pendidikan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas kesehatan mental emosional anak dipengaruhi oleh sikap orang tua, pola asuh, dan lingkungan sosial. Pola asuh yang kurang suportif dapat meningkatkan risiko gangguan emosional. Dalam beberapa kasus yang diberitakan, anak-anak yang mengalami tekanan dari orang tua terkait prestasi akademik menunjukkan gejala kecemasan berlebihan hingga depresi. Misalnya, kasus siswa yang mengalami tekanan belajar ekstrem hingga mengalami gangguan psikologis menjadi sorotan media dalam beberapa tahun terakhir, yang menegaskan pentingnya pola asuh yang seimbang antara tuntutan dan dukungan emosional.
Fenomena lain yang cukup mengkhawatirkan adalah menurunnya kepercayaan anak terhadap orang tua sebagai tempat berbagi cerita. Banyak anak lebih memilih teman sebaya sebagai tempat mencurahkan perasaan. Hal ini disebabkan oleh komunikasi yang kurang empatik, seperti sikap orang tua yang cenderung menghakimi atau meremehkan. Survei oleh UNICEF menunjukkan bahwa sebagian besar remaja merasa lebih nyaman berbicara dengan teman dibandingkan keluarga. Hal ini juga diperkuat oleh fenomena di media sosial, di mana banyak remaja mengekspresikan masalah pribadi mereka secara daring dibandingkan secara langsung kepada orang tua.
Selain itu, anak yang berasal dari keluarga dengan konflik tinggi atau kondisi broken home memiliki kerentanan lebih besar terhadap gangguan mental. Kurangnya perhatian dan dukungan emosional dapat berdampak pada perkembangan sosial dan emosional anak. Data menunjukkan bahwa anak dari keluarga dengan konflik tinggi memiliki risiko lebih besar mengalami depresi dan perilaku menyimpang. Beberapa kasus di Indonesia juga menyoroti remaja yang terlibat dalam perilaku berisiko, seperti kenakalan remaja atau percobaan bunuh diri, yang dipicu oleh masalah keluarga dan kurangnya dukungan emosional.
WHO juga mencatat bahwa bunuh diri merupakan salah satu penyebab kematian utama pada kelompok usia remaja secara global. Fenomena ini menjadi peringatan serius bahwa kesehatan mental anak dan remaja perlu mendapatkan perhatian yang lebih besar, terutama dari lingkungan keluarga sebagai sistem pendukung utama.
Oleh karena itu, peran orang tua menjadi sangat krusial dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan mental anak sejak usia dini. Upaya ini tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga mencakup aspek psikologis dan sosial. Orang tua perlu menciptakan suasana yang hangat, aman, dan suportif. Studi menunjukkan bahwa keterlibatan aktif orang tua dalam kehidupan anak dapat menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kesejahteraan emosional anak secara signifikan.
Beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan antara lain meluangkan waktu khusus setiap hari, sekitar 30 hingga 60 menit, untuk mendengarkan cerita anak secara aktif dan tanpa menghakimi. Pendekatan ini dikenal sebagai active listening dalam psikologi komunikasi, yang terbukti efektif dalam membangun kepercayaan anak. Selain itu, orang tua dianjurkan memberikan informasi secara jujur namun sesuai dengan usia anak, serta membantu anak dalam mengambil keputusan dengan pendekatan yang suportif. Dalam berbagai praktik parenting modern, pendekatan ini dikenal sebagai authoritative parenting, yang terbukti paling efektif dalam mendukung perkembangan mental anak.
Penting pula bagi orang tua untuk menumbuhkan emosi positif, pola pikir optimis, serta hubungan sosial yang sehat dalam kehidupan anak. Nilai-nilai spiritual seperti beribadah dan berdoa juga dapat menjadi faktor protektif dalam menjaga kesehatan mental. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa anak yang memiliki keseimbangan antara aspek emosional, sosial, dan spiritual cenderung memiliki ketahanan mental yang lebih baik dalam menghadapi tekanan hidup.
Sebagai penutup, menjaga kesehatan mental anak merupakan tanggung jawab utama orang tua sebagai lingkungan terdekat anak. Dengan pola asuh yang tepat, komunikasi yang efektif, serta dukungan emosional yang konsisten, anak diharapkan dapat tumbuh menjadi individu yang sehat secara fisik, mental, dan sosial. Fenomena meningkatnya kasus gangguan mental pada anak dan remaja menjadi pengingat bahwa perhatian terhadap kesehatan mental bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang mendesak dalam kehidupan modern saat ini.
