Konten dari Pengguna

Komunikasi dalam Pertemanan

Rival AlkhofiZ

Rival AlkhofiZ

jurusan ilmu komunikasi S1, di universitas andalas sumatra barat

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rival AlkhofiZ tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi komunikasi. Foto: Generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi komunikasi. Foto: Generated by AI

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat dipisahkan dari komunikasi. Komunikasi bukan sekadar aktivitas bertukar pesan, melainkan proses fundamental yang membentuk relasi, identitas, dan keberlangsungan kehidupan sosial. Dalam konteks pertemanan, komunikasi berfungsi sebagai jembatan utama yang menghubungkan individu satu dengan lainnya. Tanpa komunikasi, hubungan pertemanan akan kehilangan makna, arah, dan keberlanjutan. Oleh karena itu, memahami komunikasi sebagai proses yang dinamis dan kompleks menjadi hal yang krusial dalam membangun hubungan interpersonal yang sehat.

Secara konseptual, komunikasi terjadi karena adanya kebutuhan dan kepentingan yang dimiliki oleh individu. Setiap individu membawa latar belakang, pengalaman, dan tujuan yang berbeda, sehingga komunikasi menjadi sarana untuk menyelaraskan perbedaan tersebut. Hal ini sejalan dengan pandangan Joseph A. DeVito yang menyatakan bahwa komunikasi interpersonal merupakan proses yang memungkinkan individu membangun, memelihara, dan bahkan mengakhiri hubungan. Dalam konteks pertemanan, komunikasi tidak hanya berfungsi untuk bertukar informasi, tetapi juga untuk membangun kedekatan emosional, kepercayaan, dan rasa saling memiliki.

Agar komunikasi dalam pertemanan berjalan efektif, diperlukan pemahaman terhadap proses komunikasi itu sendiri. Komunikasi yang ideal bersifat dua arah, di mana pesan yang disampaikan oleh komunikator dapat dipahami dengan baik oleh komunikan. Namun, dalam praktiknya, sering terjadi hambatan komunikasi seperti kesalahpahaman, perbedaan persepsi, atau bahkan bias emosional. Kesalahpahaman ini dapat memicu konflik jika tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, keterampilan komunikasi seperti empati, kejelasan pesan, dan kemampuan mendengarkan menjadi sangat penting.

Dalam perkembangan hubungan pertemanan, terdapat tahapan-tahapan yang dilalui oleh individu. Menurut Joseph A. DeVito, hubungan interpersonal dimulai dari tahap perkenalan, kemudian berkembang menjadi persahabatan yang lebih mendalam. Dalam tahap ini, individu mulai berbagi pengalaman, perasaan, dan nilai-nilai pribadi. DeVito juga mengidentifikasi beberapa nilai penting dalam persahabatan, seperti utility (manfaat), affirmation (dukungan), ego support (penguatan diri), stimulation (rangsangan intelektual), dan security (rasa aman). Nilai-nilai ini menjadi fondasi yang memperkuat hubungan pertemanan.

Selain itu, terdapat aturan tidak tertulis dalam persahabatan yang membantu menjaga hubungan tetap harmonis. Misalnya, membela teman dalam kondisi sulit, menghargai privasi, serta saling berbagi kebahagiaan dan kesedihan. Prinsip-prinsip ini menunjukkan bahwa pertemanan bukan hanya tentang kebersamaan, tetapi juga tentang tanggung jawab emosional. Dalam hal ini, komunikasi berperan sebagai alat untuk mengekspresikan perhatian, dukungan, dan komitmen terhadap hubungan tersebut.

Lebih lanjut, DeVito juga menekankan pentingnya perilaku prososial dalam komunikasi interpersonal. Konsep seperti be nice, communicate, be open, dan give assurances menjadi strategi penting dalam mempertahankan hubungan. Bersikap ramah dan sopan (be nice) menciptakan suasana yang nyaman dalam interaksi. Komunikasi yang konsisten, meskipun hanya melalui percakapan ringan (small talk), membantu menjaga kedekatan emosional. Keterbukaan (be open) memungkinkan individu untuk saling memahami secara lebih mendalam, sementara pemberian jaminan (give assurances) memperkuat rasa aman dalam hubungan.

Dalam perspektif teori lain, Charles R. Berger melalui Uncertainty Reduction Theory menjelaskan bahwa individu cenderung mencari informasi tentang orang lain untuk mengurangi ketidakpastian dalam hubungan. Dalam tahap awal pertemanan, individu akan berusaha menemukan kesamaan, baik dalam minat, nilai, maupun pengalaman. Kesamaan ini menjadi dasar untuk membangun kedekatan. Namun, Berger juga mengakui bahwa dalam proses ini terdapat unsur manipulatif, di mana individu mungkin menampilkan versi terbaik dari dirinya untuk menarik perhatian. Meskipun demikian, proses ini merupakan bagian alami dari dinamika hubungan interpersonal.

Seiring berkembangnya hubungan, individu memasuki tahap involvement dan kemudian intimacy. Pada tahap involvement, komunikasi menjadi lebih intens dan personal. Individu mulai mengenal satu sama lain secara lebih dalam, termasuk aspek-aspek yang lebih sensitif. Sementara itu, tahap intimacy ditandai dengan keterbukaan penuh, di mana individu merasa nyaman untuk berbagi masalah pribadi seperti keluarga, pendidikan, hingga hubungan asmara. Pada tahap ini, komunikasi tidak hanya berfungsi sebagai alat pertukaran informasi, tetapi juga sebagai sarana dukungan emosional.

Dalam konteks kekinian, dinamika komunikasi dalam pertemanan mengalami perubahan signifikan akibat perkembangan teknologi digital. Kehadiran media sosial dan aplikasi pesan instan telah mengubah cara individu berinteraksi. Platform seperti WhatsApp, Instagram, dan TikTok memungkinkan komunikasi berlangsung secara cepat dan tanpa batas ruang. Namun, kemudahan ini juga membawa tantangan baru, seperti komunikasi yang dangkal, misinterpretasi pesan teks, dan berkurangnya interaksi tatap muka.

Salah satu fenomena yang sering terjadi saat ini adalah ghosting, yaitu ketika seseorang tiba-tiba menghentikan komunikasi tanpa penjelasan. Fenomena ini mencerminkan lemahnya komitmen dalam hubungan pertemanan serta kurangnya keterampilan komunikasi interpersonal. Dari sudut pandang psikologis, ghosting dapat menimbulkan perasaan ditolak dan menurunkan kepercayaan diri. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi mempermudah komunikasi, kualitas komunikasi tetap menjadi faktor utama dalam menjaga hubungan.

Selain itu, fenomena fear of missing out (FOMO) juga memengaruhi dinamika pertemanan. Individu sering kali merasa tertekan untuk selalu terhubung dan mengikuti aktivitas sosial teman-temannya. Dalam beberapa kasus, hal ini justru menciptakan hubungan yang tidak autentik, di mana komunikasi dilakukan bukan karena kebutuhan emosional, tetapi karena tekanan sosial. Dari perspektif sosiologis, fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran nilai dalam hubungan pertemanan di era digital.

Di sisi lain, teknologi juga memberikan peluang untuk memperluas jaringan pertemanan. Banyak individu yang berhasil membangun hubungan yang bermakna melalui komunitas online, seperti forum diskusi atau grup hobi. Dalam konteks ini, komunikasi tetap menjadi kunci utama dalam membangun kepercayaan dan kedekatan, meskipun dilakukan secara virtual.

Dari berbagai sudut pandang—psikologis, sosiologis, hingga teknologi—dapat disimpulkan bahwa komunikasi memiliki peran yang sangat vital dalam membangun dan mempertahankan pertemanan. Komunikasi yang efektif tidak hanya ditentukan oleh kemampuan berbicara, tetapi juga oleh kemampuan mendengarkan, memahami, dan merespons dengan empati. Di tengah kompleksitas kehidupan modern, kemampuan komunikasi interpersonal menjadi salah satu keterampilan yang paling penting untuk dimiliki.

Dengan demikian, pertemanan yang sehat dan berkelanjutan tidak dapat dilepaskan dari kualitas komunikasi yang dibangun di dalamnya. Baik dalam interaksi langsung maupun melalui media digital, komunikasi yang jujur, terbuka, dan penuh empati akan menjadi fondasi yang kuat bagi hubungan pertemanan yang bermakna.