Konten dari Pengguna

Surat Cinta untuk Bu Mega: Ini Manfaat yang Didapat Ibu-Ibu Saat Ikut Pengajian

Rivan Efendi
Rivan Efendi ialah Penulis dan Jurnalis Muda asal Aceh. Ia memiliki ketertarikan khusus pada kajian self-improvement, sejarah, dan politik. Ia juga rutin mengirimkan tulisannya di beberapa media seperti Kumparan, IBTimes, Indozone.
24 Februari 2023 6:41 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Rivan Efendi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memberikan pidato di HUT ke-50 PDIP di JIExpo Kemayoran, Jakarta pada Selasa (10/1/2023). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memberikan pidato di HUT ke-50 PDIP di JIExpo Kemayoran, Jakarta pada Selasa (10/1/2023). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Pada suatu seminar nasional yang diselenggarakan oleh Badan Pengarah Ideologi Pancasila (BPIP) di Jakarta, Megawati Soekarnoputri atau yang sering disapa Bu Mega menjadi pembicara dan membuat pernyataan yang menarik perhatian publik. Bu Mega memperkenalkan dirinya sebagai manusia yang unik di Indonesia dan sebagai anak dari Presiden pertama Indonesia, Ir. Sukarno.
ADVERTISEMENT
Meskipun perkenalan tersebut agak mengejutkan, Bu Mega tidak salah dalam mengatakannya. Siapa yang tidak kenal dengan Presiden kelima Indonesia ini? Megawati Soekarnoputri, satu-satunya Presiden perempuan dalam sejarah Indonesia. Selain itu, Bu Mega juga menyebutkan sejumlah gelar yang diraih dan pencapaiannya yang luar biasa selama berkarier di dunia politik.
“Saya itu pernah panglima tertinggi lo. Saya aja bisa beli pesawat. Cewek lo. La mbuk tiru saya dong, ya. Aduh gimana sih ibu-ibu supaya menyemangati gitu loh,” ujar Bu Mega dalam pidatonya saat itu.
Sebagai seorang wanita, Bu Mega ingin agar ibu-ibu lainnya juga mampu mandiri seperti dirinya. Ia mengamati bahwa saat ini banyak ibu-ibu yang lebih memilih menghadiri pengajian daripada merawat anak-anak mereka dengan baik.
Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri saat berikan arahan di Pendidikan Kaderisasi Perempuan. Foto: PDIP
“Saya melihat ibu-ibu itu ya, maaf ya. Sekarang kan budayanya, beribu maaf jangan lagi nanti saya di-bully. Kenapa to seneng banget ngikut pengajian ya. Iya loh, maaf beribu maaf. Saya sampai mikir, iki pengajian ki sampai kapan to yo? Anak e arep dikapake? Boleh, bukan berarti nggak boleh. Saya pernah pengajian kok,” ucap Bu Mega.
ADVERTISEMENT
Meski ia telah meminta maaf beberapa kali atas pernyataannya, sebagian netizen tetap saja mempermasalahkannya. Beberapa orang merasa bahwa tidak ada yang salah dengan ibu-ibu menghadiri pengajian. Pengajian biasanya hanya berlangsung sebentar dan dilakukan setelah aktivitas rumah tangga selesai.
Sebelum kita merespons pernyataan dari Bu Mega, sebaiknya kita bersabar terlebih dahulu. Pernyataan Bu Mega sebenarnya benar. Dalam seminar yang membahas stunting, ibu sebagai orang tua memiliki peran penting dalam memperhatikan anak-anak mereka. Bu Mega hanya mengimbau agar lebih baik memprioritaskan anak dengan baik terlebih dahulu baru kemudian menghadiri pengajian yang memakan waktu lama.
Namun, tidak jelas apakah Bu Mega merujuk pada ibu-ibu di lingkungan kita atau bukan. Jika ibu-ibu pengajian di lingkungan kita tidak seperti itu, maka tidak perlu dipermasalahkan. Mungkin Bu Mega hanya menyoroti ibu-ibu pengajian yang ada di lingkungan tempat tinggalnya.
Megawati memberikan sambutan saat meninjau Kawasan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur, Bali, Senin (16/1/2023). Foto: Dok. Istimewa
Namun jangan khawatir, melalui tulisan ini saya akan sedikit menyampaikan beberapa manfaat dari pengajian ibu-ibu yang mungkin belum diketahui oleh Ibu Megawati Soekarno putri.
ADVERTISEMENT

1. Wadah Bersosial

Ibu-ibu yang ikut ke pengajian juga memiliki manfaat sebagai sarana sosial. Mereka yang sehari-hari sibuk mengurus rumah dan keluarga akhirnya memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain di luar rumah. Selain itu, sebagai individu yang normal, ibu-ibu pasti merasakan kebosanan jika terus berada di rumah saja.
Oleh karena itu, untuk menjaga kesehatan mental, mereka perlu untuk melepas kepenatan tugas rumah tangga dan berbaur dengan ibu-ibu lain. Meskipun topik pembicaraan seringkali masih seputar urusan rumah. Kehadiran mereka di pengajian dapat membantu menjaga kesehatan mental dan kebahagiaan ibu-ibu dalam mengurus anak-anak mereka.

2. Media Belajar

Ibu-ibu ingin tetap belajar meskipun memiliki kewajiban mengurus anak, seperti halnya Bu Mega yang telah sukses berkarier di dunia politik hingga usia senja. Sehingga demi mendapatkan sarana untuk mendapatkan ilmu baru, ibu-ibu antusias untuk menghadiri pengajian.
ADVERTISEMENT
Melihat semangat ibu-ibu yang seperti ini, sebaiknya Bu Mega mempertimbangkan untuk mengajukan program atau kebijakan agar ustaz/ustazah pengajian mengambil tema kajian yang lebih variatif seperti manajemen keluarga, kesetaraan gender, parenting, pelecehan seksual, kesehatan atau berbagai tema lainnya yang mungkin butuh untuk di pahami oleh ibu-ibu.
Sebagai tokoh dengan kekuatan dan akses yang besar, Bu Mega mungkin bisa berperan dalam hal ini untuk memberikan pengaruh positif dalam kalangan ibu-ibu.

3. Menambah Pemasukan

Ibu-ibu memiliki kreativitas yang tinggi dan pengajian dapat dijadikan sebagai sumber penghasilan tambahan. Terdapat berbagai model bisnis yang dapat dijalankan dalam pengajian, seperti pengajian yang dibarengi dengan arisan atau pengajian yang diikuti dengan promosi dagangan. Dalam hal ini, pengajian dapat menjadi sumber pendapatan bagi ibu-ibu.
ADVERTISEMENT
Tentu saja, penghasilan tambahan yang diperoleh dari pengajian tersebut akan digunakan untuk keperluan keluarga. Walaupun ibu-ibu harus meninggalkan anak dan rumah beberapa jam untuk menghadiri pengajian, namun penghasilan yang diperoleh akan kembali digunakan untuk kepentingan keluarga. Hal ini menunjukkan betapa mulianya peran ibu dalam keluarga.

4. Berbagi Bingkisan

Ibu-ibu sering dihubungkan dengan makanan dalam berbagai acara, termasuk pengajian. Pada setiap pengajian, hadirnya bingkisan telah menjadi bagian dari budaya masyarakat kita. Jenis bingkisan yang diberikan pun beragam, mulai dari nasi dengan lauk-pauk, makanan ringan yang bisa langsung disantap di tempat, hingga hadiah yang bisa dibawa pulang.
Seringkali, ibu-ibu menyisihkan bingkisan tersebut untuk dibawa pulang dan diberikan kepada anak-anak mereka. Hal ini menunjukkan bahwa ibu-ibu selalu memikirkan kebutuhan keluarga mereka, termasuk anak-anak mereka.
ADVERTISEMENT
Dalam hal ini, pengajian rutin dapat memberikan kegiatan baru bagi ibu-ibu selain mengurus rumah tangga. Dengan menghadiri pengajian, selain mendapatkan kesempatan untuk bertemu orang baru, memperoleh bingkisan, dan pengetahuan baru, ibu-ibu dapat memiliki aktivitas baru yang bermanfaat. Ini tentu saja lebih baik daripada hanya melakukan tugas-tugas rumah tangga sehari-hari seperti menggoreng tempe.