Bahasa Gaul di Media Sosial dan Tantangannya dalam Dunia Akademik

Nama: Rivan athallan munzir mochamad said. saya mahasiswa universitas pamulang jurusan teknik informatika.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari rivan said tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bahasa Gaul di Media Sosial dan Tantangannya dalam Dunia Akademik
Pendahuluan
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan komunikasi, media sosial telah menjadi sarana utama interaksi masyarakat, terutama di kalangan generasi muda. Dalam lingkungan digital ini, muncul berbagai bentuk ekspresi bahasa yang unik dan khas, salah satunya adalah bahasa gaul. Bahasa gaul berkembang pesat di media sosial karena sifatnya yang ringkas, ekspresif, dan adaptif terhadap tren. Akan tetapi, ketika penggunaan bahasa gaul yang akrab dan informal mulai memasuki ruang-ruang akademik yang menuntut ketepatan, struktur, dan formalitas, timbul permasalahan yang perlu ditelaah lebih jauh.
Apa Itu Bahasa Gaul?
Bahasa gaul adalah bentuk variasi bahasa yang digunakan secara informal dalam komunitas tertentu, terutama oleh anak muda. Bahasa ini tidak mengikuti kaidah baku dalam tata bahasa Indonesia, melainkan lebih menekankan pada keakraban dan kecepatan berkomunikasi. Contoh kata-kata gaul yang populer antara lain:
Baper (bawa perasaan)
Mager (malas gerak)
Kepo (ingin tahu urusan orang lain)
Santuy (santai)
Cringe (memalukan dalam konteks sosial)
Gaskeun (ayo lakukan)
Bahasa ini mengalami perubahan dengan sangat cepat karena dipengaruhi oleh tren, budaya pop, meme, dan bahkan bahasa asing seperti Inggris, Korea, atau Jepang. Sifat fleksibel inilah yang membuat bahasa gaul sangat digemari dan mudah menyebar, terutama melalui media sosial.
Media Sosial sebagai Lahan Subur Bahasa Gaul
Media sosial seperti Instagram, TikTok, Twitter (X), dan YouTube mendorong gaya komunikasi yang serba cepat, ringkas, dan menarik. Dalam ruang ini, penggunaan bahasa baku terasa kaku dan tidak natural. Oleh karena itu, bahasa gaul menjadi pilihan utama untuk menjangkau audiens, membangun identitas digital, dan menunjukkan keterhubungan dengan budaya populer.
Contohnya, caption Instagram seperti:
“Lagi mager parah, tapi tugas numpuk #struggletime”
atau
“Skrng tuh harus bisa multitasking, ngonten iya, skripsian iya, baper jgn yaa”
Gaya bahasa seperti ini sangat umum dan dinilai ‘relatable’, tetapi menjadi tidak tepat bila dibawa ke dalam konteks akademik.
Tantangan Bahasa Gaul dalam Dunia Akademik
1. Penurunan Kualitas Tulisan Formal
Mahasiswa dan pelajar yang terbiasa menggunakan bahasa gaul di media sosial sering kali mengalami kesulitan saat diminta menulis teks akademik. Kata-kata informal tanpa struktur yang jelas terbawa dalam esai, laporan, atau skripsi. Misalnya, mereka menulis:
“Penelitian ini ngebahas tentang pengaruh medsos ke anak muda yang suka kepo urusan orang lain.”
Padahal, kalimat tersebut semestinya ditulis dalam bentuk formal seperti:
“Penelitian ini membahas pengaruh media sosial terhadap perilaku ingin tahu berlebihan di kalangan remaja.”
2. Kesulitan dalam Kode-Switching
Kode-switching adalah kemampuan untuk berpindah antara satu ragam bahasa ke ragam lainnya, sesuai dengan konteks. Banyak siswa belum terlatih untuk membedakan kapan harus menggunakan bahasa gaul dan kapan harus menggunakan bahasa formal. Akibatnya, mereka cenderung mencampuradukkan keduanya dalam konteks yang tidak sesuai, misalnya saat menulis email kepada dosen atau saat mempresentasikan makalah.
3. Menurunnya Kesadaran Berbahasa Baku
Penggunaan bahasa gaul secara terus-menerus dapat mengikis kesadaran berbahasa yang baik dan benar. Hal ini menyebabkan banyak pelajar tidak menyadari bahwa gaya bahasa mereka tidak sesuai dalam lingkungan akademik, bahkan menganggapnya ‘biasa saja’ karena sudah terbiasa di dunia digital.
4. Menurunnya Daya Tulis Akademik
Keterbatasan dalam kosa kata formal, struktur kalimat, dan kemampuan menyusun argumen yang logis bisa menjadi efek samping dari ketergantungan pada bahasa gaul. Ini menjadi hambatan besar dalam menulis tugas akhir, proposal penelitian, dan karya ilmiah lainnya.
Solusi: Membangun Keseimbangan antara Bahasa Gaul dan Bahasa Formal
Meski bahasa gaul menimbulkan tantangan, bukan berarti harus sepenuhnya dilarang. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan, yaitu kemampuan untuk menggunakan kedua ragam bahasa sesuai dengan konteks dan kebutuhan. Berikut beberapa pendekatan yang dapat diterapkan:
1. Pendidikan Bahasa yang Kontekstual
Pendidikan bahasa harus melampaui pembelajaran tata bahasa semata, dan mulai menekankan pada konteks komunikasi. Guru dan dosen dapat memberikan contoh penggunaan bahasa yang tepat dalam berbagai situasi: akademik, profesional, dan informal.
2. Latihan Kode-Switching
Melatih siswa berpindah dari bahasa gaul ke bahasa formal dan sebaliknya akan sangat membantu meningkatkan kesadaran linguistik. Latihan ini bisa dilakukan melalui penugasan kreatif, seperti membuat konten media sosial dengan versi formal dan versi gaul, atau membuat surat resmi dan surat tidak resmi.
3. Pemanfaatan Media Sosial untuk Edukasi
Alih-alih melarang bahasa gaul, institusi pendidikan dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi berbahasa. Misalnya, membuat konten edukatif dengan gaya bahasa santai namun tetap menjaga pesan formal di dalamnya, agar pelajar terbiasa melihat perbedaan keduanya.
4. Peningkatan Literasi Bahasa
Literasi bahasa tidak hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga memahami ragam bahasa dan penggunaannya. Pelatihan penulisan akademik, diskusi kelompok, dan pendampingan dalam menulis karya ilmiah bisa memperkuat keterampilan ini.
Penutup
Bahasa gaul adalah bagian tak terpisahkan dari dinamika bahasa modern, khususnya di era media sosial. Ia mencerminkan kreativitas, identitas, dan kebersamaan generasi muda. Namun, penting untuk menyadari bahwa tidak semua konteks cocok dengan bahasa gaul, terutama dunia akademik yang membutuhkan ketepatan, objektivitas, dan formalitas.
Maka, tantangan yang ada seharusnya menjadi peluang untuk membentuk generasi yang tidak hanya cakap bersosialisasi secara digital, tetapi juga unggul dalam berpikir kritis dan berkomunikasi secara ilmiah. Dengan membangun kesadaran dan keterampilan berbahasa yang baik, kita dapat menciptakan jembatan antara dunia gaul dan dunia akademik — dua dunia yang sesungguhnya bisa saling memperkaya.
