Konten dari Pengguna

SDIT atau SD Umum? Jangan Salah Pilih!

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riyanta Mitra Zulfa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kegiatan murid memasuki salah satu SDIT. Foto : Dokumentasi pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan murid memasuki salah satu SDIT. Foto : Dokumentasi pribadi.

Memasuki musim pendaftaran sekolah dasar, banyak orang tua mengalami dilema yang sama, apakah anak lebih tepat bersekolah di SD Umum atau Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT)? Kebingungan ini semakin terasa pada orang tua yang anaknya saat ini sedang berada di jenjang TK, baik TK umum maupun TKIT.

Berdasarkan penelitian tentang preferensi orang tua saat memilih sekolah, ada beberapa alasan utama yang sering muncul, yaitu kualitas pendidikan agama, prestasi akademik, kualitas guru, keamanan sekolah, karakter anak, biaya pendidikan, serta lokasi sekolah.

Berikut beberapa opini umum yang ditemukan dari kalangan orang tua:

  1. "Kalau di SDIT, agama anak lebih terjaga"

Kebanyakan orang tua memilih SDIT karena berharap anak memiliki fondasi agama yang kuat, terbiasa mengaji, menghafal Al-Quran, menjalankan ibadah harian, dan memiliki akhlak yang baik. Faktor pendidikan agama dan pembentukan karakter memang menjadi alasan dominan dalam pemilihan sekolah islam.

Dalam perspektif psikologi pendidikan, mengakui bahwa pembiasaan religius sejak usia dini dapat membantu perkembangan moral dan kontrol diri anak. Namun, karakter tidak hanya dibentuk oleh sekolah. Lingkungan keluarga tetap menjadi faktor penting dalam internalisasi nilai dan kebiasaan sehari-hari. Artinya, memasukkan anak ke SDIT tidak otomatis menjamin karakter anak menjadi baik jika tidak didukung oleh pola asuh yang konsisten di rumah.

  1. "SD umum membuat anak lebih siap menghadapi dunia nyata"

Sebagian orang tua beranggapan bahasa SD Umum memiliki lingkungan sosial yang lebih beragam dari segi latar belakang ekonomi, budaya, maupun pola pikir keluarga. Faktor pendidikan dan ekonomi juga, karena secara umum sekolah IT juga membutuhkan biaya lebih dibanding sekolah umum.

Dalam perspektif psikologi pendidikan dan perkembangan sosial, keragaman lingkungan memang dapat memperkaya kemampuan anak untuk beradaptasi, memahami perbedaan, serta mengembangkan keterampilan sosial. Interaksi dengan berbagai tipe teman dapat meningkatkan fleksibilitas berpikir dan kemampuan pemecahan masalah sosial. Namun keberagaman bukan satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan sosial anak. Yang lebih penting adalah kualitas interaksi, iklim sekolah yang positif, serta kemampuan guru dalam mengelola hubungan antar siswa.

  1. "Saya lebih percaya kualitas guru daripada nama sekolah"

Saat ini semakin banyak orang tua yang tidak lagi hanya melihat label SDIT atau SD umum. Mereka lebih memperhatikan kualitas guru, metode pembelajaran, dan pendekatan sekolah terhadap anak. Penelitian menunjukkan bahwa kualitas guru merupakan salah satu faktor terkuat yang memengaruhi keputusan orang tua dalam memilih sekolah.

Jika dari perspektif Psikologi Pendidikan, pandangan ini sangat sesuai dengan temuan psikologi pendidikan modern. Guru merupakan figur signifikan dalam perkembangan akademik maupun sosial-emosional anak. Anak yang belajar dengan guru yang kompeten, suportif, dan mampu membangun hubungan positif cenderung memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya bertanya "SDIT atau SD umum?", tetapi juga "siapa guru yang akan mendampingi anak saya?"

  1. "SDIT mahal, tapi saya merasa lebih tenang"

Biaya menjadi pertimbangan penting. Banyak orang tua mengakui bahwa SDIT sering kali memiliki biaya yang lebih tinggi dibandingkan sekolah negeri atau SD umum tertentu. Namun mereka merasa biaya tersebut sebanding dengan program pendidikan agama, pengawasan, dan aktivitas pembentukan karakter yang ditawarkan.

Menariknya, psikologi pendidikan tidak memandang biaya sebagai penentu utama keberhasilan anak. Yang jauh lebih penting adalah kesesuaian antara kebutuhan anak, kualitas sekolah, dan keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan. Sekolah yang mahal tidak selalu menghasilkan perkembangan anak yang lebih baik dibanding sekolah yang lebih sederhana.

Bagaimana dari sudut pandang Psikologi Pendidikan?

Jika dirangkum, psikologi pendidikan sebenarnya tidak menempatkan SD umum ataupun SDIT sebagai pilihan yang mutlak lebih baik. Yang paling menentukan perkembangan anak adalah:

  1. Kualitas hubungan guru dan siswa.

  2. Keterlibatan orang tua dalam pendidikan.

  3. Lingkungan sekolah yang aman dan suportif.

  4. Kesesuaian kurikulum dengan kebutuhan anak.

  5. Konsistensi pendidikan antara rumah dan sekolah.

Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan akademik maupun sosial-emosional anak. Bahkan sekolah terbaik sekalipun tidak dapat bekerja optimal tanpa dukungan keluarga.

Jadi, Mana yang Lebih Baik?

Jawaban psikologi pendidikan mungkin tidak sepopuler yang diharapkan: tidak ada sekolah yang sempurna untuk semua anak.

Bagi keluarga yang mengutamakan penguatan nilai agama dan pembiasaan ibadah terstruktur, SDIT dapat menjadi pilihan yang sesuai. Namun bagi keluarga yang mempertimbangkan akses, biaya, serta keberagaman lingkungan belajar, SD umum juga dapat menjadi tempat tumbuh yang sangat baik.

Pada akhirnya, pertanyaan yang seharusnya diajukan bukanlah "mana sekolah yang paling hebat?", melainkan:

"Sekolah mana yang paling sesuai dengan kebutuhan, karakter, dan potensi anak saya?"

Sebab dalam perspektif psikologi pendidikan, keberhasilan pendidikan dasar tidak ditentukan oleh nama sekolahnya, tetapi oleh kolaborasi yang sehat antara sekolah, guru, anak, dan orang tua.