Konten dari Pengguna

ISEF 2026: Mengejar capaian ISEF 2025 atau Memperbesar Dampak?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riza Abditya Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu pertanyaan yang mungkin muncul ketika Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 digelar, mampukah ISEF tahun ini melampaui capaian tahun sebelumnya?

Foto Booth KPwBI Prov. Kaltara dalam kegiatan FESYAR Road To ISEF (Sumber: Dian Lestisiya P. - Konsultan UMKM KPwBI Kaltara)
zoom-in-whitePerbesar
Foto Booth KPwBI Prov. Kaltara dalam kegiatan FESYAR Road To ISEF (Sumber: Dian Lestisiya P. - Konsultan UMKM KPwBI Kaltara)

Pertanyaan tersebut wajar. ISEF 2025 meninggalkan angka yang tidak kecil. Nilai transaksi business matching pembiayaan, perdagangan, dan omzet penjualan mencapai Rp3,1 triliun, meningkat sebesar Rp2 triliun dibandingkan tahun 2024. Lebih dari 700 pelaku usaha syariah terlibat dan 89 ribu pengunjung hadir secara luring maupun daring.

Angka itu tentu menjadi standar baru bagi ISEF 2026. Namun, menjadikan nilai transaksi sebagai ukuran keberhasilan justru terlalu menyederhanakan dampak kegiatan ISEF yang bertujuan menjadi salah satu penggerak ekonomi Sharia di Indonesia.

Sebab, transaksi adalah titik awal, bukan garis akhir.

Bayangkan ISEF seperti sebuah pasar besar. Selama lima hari, penjual dan pembeli bertemu, investor berkenalan dengan pelaku usaha, lembaga keuangan membuka akses pembiayaan, dan produk halal diperkenalkan kepada pasar yang lebih luas. Pasar tersebut tentu dinilai berhasil ketika transaksi terjadi. Tetapi ukuran yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah pasar ditutup. Apakah pembeli kembali, apakah usaha berkembang, apakah investasi benar-benar masuk, apakah ekspor bertambah, dan apakah lebih banyak masyarakat memperoleh manfaat serta apakah ekonomi Sharia di Indonesia tumbuh.

Di situlah ukuran keberhasilan ISEF semestinya diperluas.

Sebab, perkembangan ekonomi syariah Indonesia setelah ISEF 2025 menunjukkan arah yang semakin positif. Pada 2025, sektor Halal Value Chain (HVC) tumbuh 6,2% secara tahunan, sementara kontribusinya terhadap PDB meningkat dari 25,45% pada 2024 menjadi sekitar 27% pada 2025. Pertumbuhan tersebut ditopang antara lain oleh sektor makanan dan minuman halal, pariwisata ramah muslim, serta fesyen muslim.

Apa yang berbeda dari ISEF 2026?

ISEF 2026 hadir dengan skala yang jauh lebih besar. Pada website resmi ISEF mencatat lebih dari 1.000 pelaku industri halal, 100 rangkaian kegiatan, dan 1.200 mitra strategis. Tahun ini ISEF juga mengusung tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital”.

Namun, yang menarik bukan hanya skalanya. ISEF 2026 membawa pendekatan yang secara eksplisit diarahkan pada transformative impact, integrasi teknologi digital secara lebih imersif, serta melibatkan lintas generasi dan komunitas Sharia.

Perubahan ini penting. Jika ISEF 2025 banyak menunjukkan kekuatan ekosistem melalui forum, pameran, business linkage, kompetisi, dan kolaborasi lintas lembaga, maka ISEF 2026 memiliki peluang untuk mendorong ekosistem tersebut lebih jauh, dari sekadar mempertemukan pelaku menjadi memperpanjang hubungan ekonomi setelah pertemuan berakhir. Hal ini merupakan pembelajaran dari tahun sebelumnya untuk meningkatkan ekonomi Sharia di Indonesia.

Selain itu ISEF 2026 juga memperkuat konsep Indonesia Halal Showcase yang menampilkan capaian, kebijakan, produk, dan peta jalan pengembangan ekonomi serta keuangan syariah melalui 12 island pameran. Business linkage pun dirancang untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan potential buyer, investor, dan lembaga keuangan syariah.

Dengan semakin besar skala acara, semakin besar pula peluang transaksi. Karena lebih banyak pelaku usaha, mitra strategis, dan ruang pertemuan memang membuka lebih banyak kesempatan bisnis.

Hal ini membuat optimisme terhadap ISEF 2026 menjadi semakin besar. Skala yang semakin besar membuka peluang bagi semakin banyak pelaku usaha untuk bertemu dengan pasar, memperoleh pembiayaan, membangun jejaring, dan menemukan mitra baru. Jika dikelola dengan baik, transaksi yang tercipta selama ISEF dapat menjadi pintu masuk bagi pertumbuhan usaha khususnya ekonomi sharia yang lebih panjang.

Karena itu, setelah pelaksanaan ISEF 2026 selesai, pertanyaan yang menarik bukan hanya “berapa triliun transaksinya?”, tetapi juga “sejauh mana momentum tersebut terus bergerak?”

Harapannya, semakin banyak UMKM yang naik kelas, semakin banyak produk halal Indonesia yang menemukan pasar baru dan perluasan pasar, semakin luas akses pembiayaan, dan semakin banyak kerja sama yang terus berjalan setelah rangkaian acara berakhir. Dengan ekosistem yang semakin terhubung, ISEF memiliki peluang untuk menjadi salah satu pengungkit penting bagi pertumbuhan ekonomi syariah Indonesia.

Di sinilah ISEF 2026 memiliki peluang untuk melangkah lebih jauh. ISEF tidak hanya menjadi tempat bertemunya pelaku ekonomi syariah, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat ekosistemnya mulai dari pembiayaan, produksi, perdagangan, digitalisasi, hingga pasar internasional.

Dengan demikian, ISEF 2026 tidak berhenti sebagai festival lima hari. Ia dapat menjadi momentum yang meninggalkan energi baru bagi ekonomi syariah Indonesia, lebih banyak usaha yang tumbuh, lebih luas pasar yang dijangkau, lebih kuat industri halal yang dibangun, dan semakin banyak manfaat yang dirasakan masyarakat.

Maka, tantangan ISEF 2026 bukan sekadar melampaui rekor ISEF 2025, tetapi melanjutkan dan memperbesar dampaknya.

Sebab festival yang hebat bukan hanya yang mampu mencatat angka besar ketika panggung masih menyala, melainkan yang mampu membuat ekonomi terus bergerak bahkan setelah panggung dibongkar