ISEF 2026: Saatnya Ekonomi Syariah Indonesia Naik Kelas

Asisten Analis - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Prov. Kaltara
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Riza Abditya Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bayangkan sebuah pameran yang dipenuhi produk makanan halal, busana Muslim, dan berbagai layanan keuangan syariah. Pengunjung datang, transaksi terjadi, lalu acara berakhir. Namun, bagaimana jika setelah pameran ditutup, produk-produk tersebut justru mulai memasuki pasar luar negeri, memperoleh investor baru, dan menjadi bagian dari rantai pasok global? Di situlah sebuah keberhasilan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026.

ISEF 2026, yang berlangsung pada 14 - 18 Oktober di Jakarta International Convention Center (JICC), memiliki peluang untuk membawa ekonomi syariah Indonesia melangkah lebih jauh. Bukan hanya menjadi ajang promosi produk halal, ISEF dapat menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan, modal, teknologi, dan pasar internasional.
Peluang tersebut terlihat dari perluasan agenda forum internasional ISEF 2026. Mulai dari International Halal Startup Summit, International Hajj Fund Forum, Global Conference on Waqf Development, hingga International Zakat Leader Summit. Rangkaian ini mempertemukan berbagai isu yang selama ini berkembang dalam ekosistem ekonomi syariah, dari industri halal hingga keuangan sosial Islam.
Dari transaksi menuju transformasi
Penyelenggaraan ISEF 2025 memberikan pijakan yang menjanjikan. Bank Indonesia mencatat nilai transaksi business matching pembiayaan, perdagangan, dan penjualan mencapai Rp3,1 triliun, meningkat dari Rp2 triliun pada tahun sebelumnya. Acara tersebut juga melibatkan lebih dari 700 pelaku usaha syariah dan menjangkau 89 ribu pengunjung, baik secara langsung maupun daring.
Pencapaian itu menunjukkan besarnya antusiasme terhadap ekonomi syariah. Namun, besarnya transaksi yang tercatat selama festival belum otomatis mencerminkan peningkatan kapasitas industri dalam jangka panjang. Kesepakatan bisnis perlu diwujudkan, pembiayaan harus menghasilkan kegiatan produktif, dan produk yang dipromosikan perlu memperoleh pembeli berulang.
Di sinilah forum internasional pada kegiatan ISEF 2026 menjadi relevan. Jika pameran berfungsi sebagai etalase, forum internasional seharusnya menjadi ruang untuk merancang jalan keluar dari persoalan yang menghambat pelaku usaha. Pertemuan dengan investor, lembaga keuangan, regulator, dan mitra dagang dapat membuka akses terhadap pembiayaan, standar produk, teknologi, serta jaringan distribusi antar negara.
Bagi Indonesia, peluang ini penting. Keunggulan sebagai negara dengan populasi Muslim besar dan beragam produk halal tidak serta-merta menjadikan kita pemimpin industri halal dunia. Besarnya pasar domestik harus diimbangi kemampuan menghasilkan produk bernilai tambah, menjaga konsistensi mutu, dan memenuhi persyaratan pasar tujuan ekspor.
Menjadikan Indonesia mitra, bukan sekadar pasar
Arah ISEF 2026 yang mendorong dampak transformatif dan berkolaborasi dengan Trade Expo Indonesia dapat menjadi momentum untuk menghubungkan promosi ekonomi syariah dengan perdagangan yang lebih luas. Namun, momentum tersebut perlu diterjemahkan menjadi agenda kerja setelah festival, dengan penanggung jawab, target, dan evaluasi yang terukur.
Pada akhirnya, ekonomi syariah bukan hanya tentang produk yang memenuhi ketentuan halal atau layanan keuangan yang berlandaskan prinsip-prinsip syariah. Ia juga menyangkut bagaimana kegiatan ekonomi menciptakan nilai tambah, memperluas kesempatan usaha, dan menghasilkan manfaat yang berkelanjutan.
ISEF 2026 memiliki kesempatan untuk mengubah cara dunia memandang Indonesia, bukan semata-mata sebagai pasar konsumen Muslim yang besar, melainkan sebagai mitra yang mampu memasok produk berkualitas, mengembangkan inovasi, dan menawarkan solusi bagi ekonomi syariah global.
Festival mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Namun, keberhasilan sesungguhnya justru dimulai ketika panggung dibongkar dan para peserta kembali menjalankan bisnisnya. Jika jejaring internasional yang terbentuk selama pelaksanaan kegiatan mampu melahirkan kemitraan nyata, ISEF tidak sekadar merayakan potensi ekonomi syariah Indonesia. Ia turut membuka jalan agar potensi itu benar-benar naik kelas.
