Konten dari Pengguna

ISEF: Etalase Pengembangan Ekonomi Syariah di Indonesia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riza Abditya Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan sebuah toko besar dengan etalase yang dipenuhi berbagai produk menarik. Orang yang melewatinya dapat melihat apa yang dijual, siapa yang membuatnya, bahkan membayangkan pasar yang bisa dituju. Namun, sebuah etalase yang baik bukan hanya membuat orang berhenti untuk melihat. Ia harus membuat orang tertarik masuk untuk membeli, bertransaksi, lalu kembali lagi serta menyebarluaskannya kepada orang lain.

Poster ISEF 2026 (Sumber: https://isef.co.id/)
zoom-in-whitePerbesar
Poster ISEF 2026 (Sumber: https://isef.co.id/)

Gambaran serupa dapat digunakan untuk melihat Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF). Digelar pada 14–18 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) Senayan, ISEF telah berkembang jauh sejak pertama kali diselenggarakan pada 2014. Tahun ini, ISEF mengusung tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital”, dengan lebih dari 1.000 pelaku industri halal dan 1.200 mitra strategis.

Yang menarik, tampilan ISEF 2026 tidak lagi berhenti pada pembicaraan mengenai keuangan syariah. Pada kegiatan tersebut terdapat forum bisnis pesantren, wakaf, kewirausahaan muda, pariwisata ramah muslim, halal food, modest fashion, kosmetik halal, fintech, hingga business matching perdagangan. Bahkan, ISEF menghadirkan ruang virtual melalui Roblox. Artinya, ekonomi syariah sedang diperkenalkan bukan sebagai satu sektor yang berdiri sendiri, melainkan sebagai ekosistem yang menyentuh produksi, konsumsi, pembiayaan, gaya hidup, teknologi, dan perdagangan.

Di sinilah posisi ISEF sebagai etalase sangat penting. Indonesia memiliki modal pasar yang besar. Namun, memiliki pasar tidak otomatis berarti menjadi pemain utama. Jika hanya menjadi konsumen produk halal dari negara lain, besarnya populasi Muslim justru menjadi peluang bagi produsen luar negeri. Tantangannya adalah bagaimana Indonesia bergerak dari pasar menjadi produsen, dari pembeli menjadi pencipta nilai.

Data terbaru menunjukkan peluang itu bukan sekadar wacana. Bank Indonesia mencatat rantai nilai halal nasional pada 2025 tumbuh 6,2% secara tahunan dan berkontribusi sekitar 27% terhadap PDB. Indonesia juga berada di peringkat keempat dunia dalam State of the Global Islamic Economy Report, dengan kekuatan antara lain pada modest fashion, pariwisata, dan makanan halal.

Namun, saat ini kita perlu berhati-hati. Besarnya transaksi dalam sebuah festival tidak serta-merta berarti ekonomi syariah telah berkembang kuat. Pameran dapat mempertemukan penjual dan pembeli, tetapi keberhasilan sesungguhnya baru terlihat setelah lampu pameran dimatikan: apakah pesanan berlanjut, apakah usaha tumbuh, apakah pembiayaan benar-benar tersalurkan, apakah produk mampu menembus pasar ekspor, dan apakah masyarakat memperoleh manfaat ekonomi yang lebih luas.

Karena itu, keberadaan business matching dan berbagai forum dalam ISEF seharusnya dilihat sebagai pintu masuk, bukan tujuan akhir. Pengalaman FESyar Regional Jawa 2026 memberikan gambaran menarik. Sebanyak 270 UMKM syariah mencatat penjualan Rp8,21 miliar, sementara 242 sesi business matching menghasilkan komitmen pembiayaan Rp37,60 miliar dan komitmen transaksi perdagangan Rp43,26 miliar. Angka tersebut menunjukkan bahwa forum semacam ini dapat menjadi jembatan antara pelaku usaha, pembiayaan dan pasar. Tantangannya adalah memastikan jembatan tersebut benar-benar dilalui setelah acara selesai.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan ISEF tidak semestinya hanya dilihat dari ramainya pengunjung atau besarnya transaksi selama kegiatan. Ukuran yang lebih penting adalah jejak yang ditinggalkan setelahnya. Apakah UMKM naik kelas? Apakah pesantren menjadi bagian dari rantai produksi? Apakah dana sosial seperti zakat dan wakaf semakin produktif? Apakah produk halal Indonesia semakin kompetitif di pasar dunia?

ISEF 2026 sebenarnya menawarkan arah ke sana. Indonesia Halal Showcase, misalnya, menghadirkan 12 island yang mencakup kelembagaan, keuangan syariah, industri halal, e-commerce, hingga pesantren. Ini menunjukkan bahwa ekonomi syariah tidak lagi ditempatkan hanya di ruang perbankan atau forum keagamaan, tetapi semakin dekat dengan aktivitas ekonomi sehari-hari.

Pada akhirnya, etalase yang baik bukan yang membuat kita kagum pada apa yang dipajang, melainkan yang menunjukkan bahwa produk di balik kaca tersebut benar-benar mampu bersaing. ISEF memiliki kesempatan untuk menjadi etalase semacam itu untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa ekonomi syariah Indonesia bukan sekadar potensi, melainkan ekosistem yang terus tumbuh, menghasilkan nilai tambah, membuka lapangan usaha, dan menciptakan kesejahteraan.

Tetapi etalase tetaplah etalase. Pekerjaan terbesarnya justru terjadi di belakangnya. Di sanalah produk dibuat, modal bergerak, inovasi lahir, pasar dibangun, dan manfaat ekonomi dirasakan. Jika proses tersebut terus diperkuat, ISEF tidak hanya menjadi panggung untuk menunjukkan apa yang telah Indonesia capai, tetapi juga jendela untuk melihat ke mana ekonomi syariah Indonesia akan melangkah dan berkembang.