Weekend, tapi Notifikasi Grup Kantor Tak Pernah Libur
Tulisan dari Riza Abditya Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jumat sore seharusnya menjadi awal dari jeda. Laptop ditutup, perjalanan pulang dimulai, dan pikiran perlahan beralih dari target pekerjaan menuju hal-hal sederhana seperti makan malam bersama keluarga, menemani anak bermain, atau sekadar berbincang dengan pasangan tanpa terburu-buru.

Namun, bagi sebagian pekerja, akhir pekan tidak selalu benar-benar dimulai ketika jam kerja berakhir. Sebuah notifikasi di WhatsApp dapat mengubah suasana santai menjadi perpanjangan kantor yang tak kasatmata.
Pesan dari pimpinan atau rekan kerja mungkin hanya berbunyi, “Bisa dibantu cek sebentar?” atau “Ada data yang perlu dikonfirmasi.” Kalimatnya pendek, tetapi cukup untuk membuat pikiran kembali bekerja. Kita mulai membuka dokumen, memeriksa angka, membalas pesan, lalu tanpa sadar menghabiskan waktu yang semula disiapkan untuk beristirahat.
Di sinilah dilema profesionalitas dan kehidupan pribadi muncul. Apakah membalas pesan pekerjaan saat akhir pekan merupakan bentuk tanggung jawab, atau justru tanda bahwa batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur?
Menurut saya, jawabannya tidak harus hitam putih.
Ketika pesan pekerjaan datang pada Sabtu atau Minggu, meresponsnya secara wajar merupakan bagian dari profesionalitas. Terlebih jika pesan tersebut berasal dari pimpinan, berkaitan dengan kebutuhan mendesak, atau menyangkut pekerjaan yang tidak dapat ditunda. Dunia kerja memiliki dinamika yang tidak selalu mengikuti kalender. Ada tenggat yang harus dipenuhi, persoalan yang membutuhkan keputusan cepat, dan situasi tertentu yang menuntut koordinasi di luar jam kerja.
Profesionalitas bukan sekadar menyelesaikan tugas ketika berada di kantor. Profesionalitas juga berarti memiliki kepedulian terhadap pekerjaan dan orang-orang yang bergantung pada hasilnya. Karena itu, mengabaikan setiap pesan hanya karena akhir pekan bukanlah sikap yang selalu tepat.
Namun, ada perbedaan penting antara merespons pesan dan menjadikan seluruh akhir pekan sebagai waktu kerja.
Membalas pertanyaan singkat, mengonfirmasi informasi, atau menyampaikan kapan suatu pekerjaan dapat diselesaikan tentu berbeda dengan menghabiskan berjam-jam menyusun laporan yang sebenarnya bisa dikerjakan pada hari kerja berikutnya. Tidak semua pesan membutuhkan tindakan seketika. Tidak semua persoalan yang muncul pada Sabtu pagi otomatis menjadi keadaan darurat.
Lalu, jika dihadapkan pada pilihan antara bekerja sepanjang akhir pekan atau menghabiskan waktu bersama keluarga, mana yang sebaiknya dipilih?
Jika pekerjaan tersebut benar-benar mendesak dan tidak dapat diwakilkan atau ditunda, tentu ada kalanya tanggung jawab harus didahulukan. Namun, jika pekerjaan dapat diselesaikan pada Senin pagi tanpa menimbulkan konsekuensi berarti, saya memilih menghabiskan waktu bersama keluarga.
Alasannya sederhana. Pekerjaan memang penting, tetapi kehidupan tidak hanya terdiri atas pekerjaan. Anak-anak bertumbuh, orang tua bertambah usia, dan pasangan juga membutuhkan kehadiran kita. Ada momen yang tidak bisa dijadwalkan ulang, seperti menemani anak bermain, mendengarkan cerita pasangan, atau sekedar minum kopi sambil liat postingan teman di Instagram ataupun Tiktok.
Laporan yang belum selesai mungkin masih bisa dikerjakan esok hari. Namun, waktu ketika anak mengajak bermain atau keluarga berkumpul belum tentu datang dengan kesempatan yang sama. Dalam hal ini, akhir pekan bukan sekadar waktu kosong di kalender, melainkan ruang untuk memulihkan tenaga dan menjaga hubungan yang memberi makna pada kehidupan kita.
Tentu, tidak semua orang memiliki keleluasaan yang sama. Sebagian profesi memang menuntut kesiapsiagaan di luar jam kerja. Ada pula pekerja yang menghadapi tenggat ketat atau tanggung jawab operasional yang tidak bisa dihentikan. Karena itu, gagasan menjaga akhir pekan tidak seharusnya diterapkan secara kaku. Yang dibutuhkan adalah proporsionalitas: membedakan kebutuhan mendesak dari pekerjaan rutin dan membangun kesepahaman tentang kapan seseorang perlu tersedia.
Pada akhirnya, profesionalitas tidak semestinya diukur dari seberapa cepat seseorang membalas pesan pada hari Minggu. Ukurannya lebih luas seperti kualitas pekerjaan, keandalan, tanggung jawab, serta kemampuan menjaga komitmen secara berkelanjutan.
Kita tetap harus menghormati pimpinan, membantu rekan kerja, dan merespons pesan dengan baik tanpa harus menyerahkan seluruh waktu pribadi kepada pekerjaan. Sebuah jawaban singkat, penjelasan yang jelas, atau komitmen untuk menindaklanjuti pada hari kerja dapat menjadi bentuk tanggung jawab yang sehat, selama sesuai dengan urgensi dan kesepakatan kerja.
Sebab, bekerja dengan baik bukan berarti harus bekerja setiap saat. Ada waktunya kita memberikan yang terbaik bagi pekerjaan, dan ada waktunya kita hadir sepenuhnya bagi keluarga. Keduanya bukan musuh yang harus saling mengalahkan.
Jika akhir pekan ini ponsel kembali bergetar karena urusan kantor, responslah dengan bijak, apalagi jika mendesak, selesaikan sesuai dengan kebutuhan. Namun usahakan untuk tetap bisa menikmati waktu bersama orang-orang terdekat.
Bagaimanapun, kita bekerja untuk membangun kehidupan yang lebih baik, bukan membiarkan kehidupan habis hanya untuk bekerja.

