Konten dari Pengguna

Menghafal Lagu "Ratu Sejagad" Adalah Jalur Manifestasi Paling Halu Buat Jadi Nasabah BCA Prioritas

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizal Aditya Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai nasabah BCA dengan kartu ATM warna biru yang saldonya lebih sering bikin mesin ATM ikut mengheningkan cipta, saya selalu menganggap dunia perbankan itu terbagi menjadi dua alam: alam nasabah reguler yang sibuk nyari ATM tanpa antrean, dan alam nasabah BCA Prioritas yang hidupnya diiringi musik simfoni anggun bak kerajaan Inggris.

Trauma kultural ini makin menjadi-jadi ketika algoritma media sosial saya belakangan ini dipenuhi oleh tren lagu "Ratu Sejagad" versi paduan suara (choir) BCA Prioritas. Musik latar bergenre seriosa yang megah dan kolosal itu sering dipakai warganet sebagai lagu latar saat mereka berpura-pura jalan dengan gaya ala "Ratu Sejagad" di tempat-tempat mewah. Bagi masyarakat luar atau kaum jetset yang punya tabungan bertumpuk-tumpuk, lagu itu mungkin cuma backsound estetis buat konten hiburan. Tapi bagi nasabah reguler seperti saya, menghafal dan memutar lagu tersebut adalah bentuk penyiksaan mental secara halus sekaligus jalur manifestasi paling halusinasi tingkat tinggi untuk merespons kesenjangan kelas ekonomi.

Secara konsep ideal yang diajarkan di brosur perbankan, BCA Prioritas adalah bentuk penghargaan eksklusif bagi nasabah yang memiliki portofolio finansial bernilai fantastis. Sebuah layanan karpet merah tanpa antrean, ruang tunggu ber-AC dingin lengkap dengan sofa empuk, hingga sajian kopi gratis dari flavour pilihan. Namun, sebagai insider nasabah reguler yang kalau mau tarik tunai lima puluh ribu rupiah saja masih harus berpikir dua kali, saya tahu betul ada realitas kocak di balik fenomena ini: menghafal lagu "Ratu Sejagad" adalah "paspor mental" instan bagi kami yang kepengin merasakan hidup megah tanpa perlu memegang saldo 500 juta rupiah.

Fenomena "halu berjamaah" ini makin ugal-ugalan saat kita melangkah ke dalam kantor cabang bank. Ketika nasabah biasa harus berdiri pegal di antrean teller sambil memegang nomor urut yang kusam, di sudut lain ruangan ada pintu kaca buram dengan tulisan "Layanan Prioritas". Dari balik pintu itu, terbayang nasabah kelas atas yang disambut dengan senyuman hangat, dipanggil dengan sebutan "Bapak/Ibu yang terhormat", dan dilayani tanpa perlu merasakan pahitnya diserobot nomor antrean lain.

Di sinilah benturan kelas sosial itu terasa begitu nyata sekaligus menggelitik. Jika kemewahan nasabah Prioritas diukur dari saldo minimal di rekening, maka nasabah reguler mengukur kebahagiaannya pakai Skala Keningratan Halu:

Level 1: Pakai kartu biru tapi pura-pura teleponan gaya pebisnis sibuk di depan teller.

Level 5: Sengaja lewat di depan pintu ruang Prioritas sambil mencium aroma kopi gratisan yang tercium sampai luar.

Level 9,9: Jalan melenggang di lorong kampus atau jalanan pasar sambil memutar lagu "Ratu Sejagad" di earphone, merasa seolah-olah seluruh warga setempat adalah rakyat jelata yang sedang menyambut kedatangan sang Ratu Sejagad.

Bagi peneliti gaya hidup atau pengamat perilaku konsumen, tren ini mungkin dinilai sebagai bentuk aspirational marketing atau sindrom Fear of Missing Out (FOMO) anak muda zaman sekarang. Tapi bagi warga lokal dengan dompet tipis seperti saya, fenomena ini adalah bentuk perlawanan komedis paling jujur. Bayangkan saja, di tengah teriknya siang hari dan dompet yang isinya cuma sisa iuran kas harian, seseorang bisa merasa menjadi nasabah sultan hanya dengan bermodalkan audio berdurasi 15 detik di ponsel pintar.

Pada akhirnya, kita tentu tidak sedang membenci atau iri pada mereka yang benar-benar memiliki kartu BCA Prioritas di dalam dompet tebalnya. Layanan eksklusif itu memang hak mereka yang sudah bekerja keras mengumpulkan kepingan modal. Namun, kita juga tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa musik tersebut telah menjadi hiburan murah meriah yang menyatukan nasabah reguler dari berbagai pelosok. Menjadi nasabah Prioritas asli itu memang butuh modal besar, tapi berpura-pura jadi "Ratu Sejagad" lewat audio viral jelas bonus hiburan gratis yang terlalu sayang untuk dilewatkan!

Logo Layanan BCA Prioritas. (Sumber: Bank Central Asia).