Konten dari Pengguna

Aspal, Persahabatan, dan Tawa: Kisah Bapak-Bapak di Atas Motor

Rizal Bahara

Rizal Bahara

Halal Supply Chain, HLARG, Pejuang Halal Nusantara, Pemburu Ilmu, Pengumpul Amal, Pendamping Halal, Green Productivity , Lean Manufacturing

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizal Bahara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di banyak sudut kota hingga pelosok desa, pemandangan sekelompok bapak-bapak riding motor bersama sudah menjadi hal yang akrab, termasuk bapak bapak komplek di daerah Bogor. Dengan jaket sederhana, helm yang mulai kusam, dan motor yang mungkin tidak lagi baru, mereka melaju beriringan menembus pagi, sore, bahkan malam.

Bapak bapak taman soka siap beraksi diatas aspal, foto dokumen pribadi jokosegara
zoom-in-whitePerbesar
Bapak bapak taman soka siap beraksi diatas aspal, foto dokumen pribadi jokosegara

Namun perjalanan itu bukan sekadar tentang kendaraan atau tujuan. Di balik suara knalpot dan deru mesin, ada cerita tentang persaudaraan, pelepas penat, dan cara sederhana menikmati hidup serta teman curhat melepas kepenatan kerja di kantor.

Bagi sebagian orang, riding mungkin hanya dianggap hobi. Tetapi bagi para bapak-bapak, touring bersama sering kali menjadi ruang untuk bernapas sejenak dari rutinitas yang padat. Setelah hari-hari dipenuhi pekerjaan, tanggung jawab keluarga, dan berbagai tuntutan kehidupan, perjalanan bersama teman-teman menjadi momen untuk kembali merasa ringan. Di atas motor, mereka bukan sekadar pekerja, kepala keluarga, atau pencari nafkah. Mereka kembali menjadi sahabat yang bisa tertawa bebas di pinggir jalan sambil menikmati kopi hitam dan gorengan hangat.

Menariknya, kebersamaan dalam riding tidak selalu membutuhkan motor mahal. Ada yang menggunakan motor sport, motor klasik, motor listrik bahkan motor harian yang setia menemani bertahun-tahun. Yang terpenting bukan gengsi kendaraan, melainkan kebersamaan selama perjalanan. Kadang justru motor tua yang mogok di tengah jalan menjadi sumber cerita paling lucu dan paling diingat saat berkumpul kembali.

Riding bersama juga mengajarkan solidaritas. Ketika satu motor mengalami kendala, semuanya berhenti membantu. Ketika hujan turun deras, mereka berteduh bersama tanpa meninggalkan siapa pun. Nilai sederhana seperti saling menjaga dan menghargai satu sama lain tumbuh alami di jalanan. Tidak ada yang merasa paling hebat, karena semua sadar bahwa perjalanan akan terasa lebih menyenangkan jika dilakukan bersama.

Bapak bapak Kompleks dengan motornya, foto dokumen pribadi jokosegara

Selain menjadi sarana hiburan, touring motor sering menghadirkan pengalaman baru. Banyak bapak-bapak yang akhirnya mengenal tempat-tempat indah di daerah sendiri yang sebelumnya belum pernah dikunjungi. Dari pegunungan yang sejuk, pantai yang tenang, hingga warung kecil dengan kopi terbaik di pinggir jalan, semuanya menjadi bagian dari kenangan perjalanan. Tidak jarang pula kegiatan riding diselingi aksi sosial seperti berbagi makanan, membantu masyarakat sekitar, atau mengunjungi panti asuhan.

Ada satu hal yang khas dari rombongan bapak-bapak riding: obrolannya. Topiknya bisa sangat beragam, mulai dari keluarga, pekerjaan, harga kebutuhan pokok, hingga nostalgia masa muda. Terkadang pembicaraan sederhana itu justru menjadi penguat mental. Sebab di usia dewasa, memiliki teman yang mau mendengar dan tertawa bersama adalah hal yang sangat berharga.

Pada akhirnya, riding motor bersama bukan hanya tentang perjalanan fisik, melainkan perjalanan emosional. Aspal menjadi saksi bahwa persahabatan tidak mengenal usia. Di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan individualis, sekelompok bapak-bapak yang melaju bersama di jalan raya mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sering kali hadir dari hal-hal sederhana: teman seperjalanan, suara tawa, secangkir kopi, dan perjalanan pulang dengan hati yang lebih tenang.

Semoga sehat terus bapak bapak baik jiwa dan raga. Touring bisa menjadi solusi hobby bapak bapak komplek dan terus menjaga kekompakan.