Konten dari Pengguna

Halal Passport: Ketika Sertifikat Halal Bersiap Melintasi Batas Negara

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizal Bahara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan sebuah produk makanan dari Indonesia hendak masuk ke Malaysia, kemudian dipasarkan ke Singapura, Uni Emirat Arab, atau negara lain. Saat ini, salah satu persoalan yang muncul dalam perdagangan halal internasional adalah bagaimana memastikan sertifikasi halal dari satu negara dapat dipercaya dan dikenali oleh negara lain.

Konsep Halal passport untuk meningkatkan kerja sama global. Gambar : dokumen Joko segara
zoom-in-whitePerbesar
Konsep Halal passport untuk meningkatkan kerja sama global. Gambar : dokumen Joko segara

Setiap negara dapat memiliki regulator, lembaga sertifikasi, prosedur audit, standar, dan mekanisme pengakuan yang berbeda. Di sinilah sebuah konsep baru mulai mendapatkan perhatian: Halal Passport.

Bukan paspor seperti yang digunakan manusia ketika bepergian, tentu saja. Halal Passport adalah gagasan mengenai sebuah mekanisme yang memungkinkan status dan bukti kehalalan suatu produk dapat dikenali, diverifikasi, dan diterima lintas negara melalui sistem pengakuan dan interoperabilitas yang lebih terintegrasi.

Menariknya, konsep ini menjadi salah satu agenda yang dibahas dalam The 5th Summit of Halal 20 (H20) 2026 di Jakarta pada 18–20 September 2026.

Dari “certificate” menjadi “passport”

Selama ini, sertifikat halal pada dasarnya berfungsi sebagai bukti bahwa suatu produk telah melalui proses sertifikasi berdasarkan ketentuan yang berlaku pada yurisdiksi tertentu.

Masalahnya muncul ketika produk tersebut bergerak melewati batas negara. Sertifikat yang diterbitkan di satu negara belum tentu otomatis diperlakukan sama oleh negara tujuan. Karena itu, perdagangan halal membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar sertifikat.

Yang dibutuhkan adalah trust architecture.

H20 2026 secara khusus menyelenggarakan sesi “Roundtable — Towards Halal Passports”. Dalam agenda tersebut, para pemangku kepentingan membahas pengakuan bersama sertifikasi halal, kelayakan konsep Halal Passport, tata kelola, serta potensinya untuk mempermudah perdagangan dan investasi lintas negara.

Dengan kata lain, Halal Passport saat ini lebih tepat dipahami sebagai gagasan menuju mekanisme interoperabilitas halal global, bukan sebagai satu sertifikat global yang sudah berlaku untuk seluruh dunia.

Mengapa diperlukan? Bayangkan rantai perjalanan sebuah produk. Bahan baku berasal dari negara A. Produk diproses di negara B. Sertifikasi dilakukan oleh lembaga C. Produk kemudian diekspor ke negara D. Di negara tujuan, produk diperiksa kembali oleh otoritas yang berbeda. Semakin panjang rantai tersebut, semakin banyak titik yang membutuhkan kepercayaan. Tanpa sistem pengakuan yang jelas, proses verifikasi dapat berulang. Bagi perusahaan, hal tersebut dapat berarti tambahan waktu, biaya administratif, dan proses dokumentasi.

Bagi regulator, tantangannya adalah memastikan bahwa sertifikat yang diterbitkan lembaga luar negeri benar-benar memiliki integritas, kompetensi, dan kredibilitas yang dapat diterima. Bagi konsumen, pertanyaannya jauh lebih sederhana: “Apakah saya dapat mempercayai klaim halal produk ini?”

Halal Passport mencoba menjawab persoalan tersebut dari sisi sistem. Bukan berarti semua negara harus menggunakan standar yang sama. Ini bagian yang sangat penting.

Halal Passport tidak harus berarti seluruh dunia menggunakan satu standar halal yang identik.

H20 2026 justru membicarakan pentingnya mutual recognition, kerja sama, dan penyelarasan.

Dalam praktik perdagangan internasional, masing-masing negara tetap dapat mempertahankan regulator dan kerangka hukumnya. Yang perlu dibangun adalah jembatan agar sistem tersebut dapat saling berkomunikasi dan saling mengenali.

Bayangkan seperti bahasa. Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan negara lainnya dapat memiliki “bahasa regulasi” masing-masing. Halal Passport membutuhkan semacam bahasa bersama untuk membaca dan memverifikasi bukti halal. Karena itu, isu yang muncul bukan hanya sertifikasi, tetapi juga:

- siapa yang menerbitkan sertifikat;

- siapa yang mengakui;

- ruang lingkup sertifikasinya;

- bagaimana audit dilakukan;

- bagaimana data diverifikasi;

- bagaimana sertifikat dicabut;

- bagaimana perubahan status produk dicatat;

- dan bagaimana informasi tersebut dapat diakses oleh negara tujuan.

Ekosistem halal menjadi penting untuk menjalankan industri halal, gambar : dokumen Joko Segara

Teknologi dapat menjadi jembatan

Konsep Halal Passport juga bertemu dengan perkembangan teknologi digital. Sebuah penelitian yang terbit pada 2025 mengusulkan kerangka blockchain-integrated halal traceability lintas negara. Penelitian tersebut mengidentifikasi fragmentasi standar halal nasional, lemahnya traceability, serta keterbatasan interoperabilitas antarotoritas sertifikasi sebagai tantangan dalam membangun rantai pasok halal global.

Penelitian itu mengusulkan konsep “Single Digital Halal Passport”, yang dapat menghubungkan informasi asal produk, proses produksi, sertifikasi, dan verifikasi melalui sistem digital.

Teknologi blockchain dalam konsep tersebut bukan berarti blockchain menggantikan regulator. Justru sebaliknya Teknologi dapat menjadi lapisan pencatatan dan verifikasi, sedangkan otoritas halal tetap memegang kewenangan sertifikasi dan pengawasan.

Dengan pendekatan seperti ini, sebuah QR code pada produk berpotensi menjadi pintu masuk untuk melihat informasi yang lebih lengkap mengenai status halal produk.

Bagaimana jika QR code menjadi “paspor” produk?

Bayangkan konsumen membeli sebuah produk impor. Di kemasan terdapat QR code. Ketika dipindai, konsumen tidak hanya melihat tulisan “halal”. Sistem dapat menampilkan informasi seperti:

Produk: nama produk

Asal: negara produksi

Produsen: perusahaan

Lembaga sertifikasi: lembaga yang menerbitkan sertifikat

Status: aktif/tidak aktif

Tanggal berlaku: periode sertifikasi

Ruang lingkup: produk/fasilitas

Pemeriksaan: informasi verifikasi

Negara pengakuan: negara yang menerima sertifikasi

Dengan demikian, konsep halal bergerak dari label statis menuju digital verification. Tentu saja, implementasi seperti ini membutuhkan standar data, tata kelola, keamanan informasi, perlindungan data, dan kesepakatan antarotoritas. Jadi, teknologinya bukan bagian yang paling sulit. Membangun kepercayaan antarotoritas justru bisa menjadi tantangan yang lebih besar.

Indonesia memiliki kepentingan besar

Bagi Indonesia, pembahasan Halal Passport memiliki relevansi strategis. Indonesia bukan hanya pasar halal yang besar. Indonesia juga memiliki ambisi untuk memperkuat posisi sebagai salah satu pusat ekonomi halal global. Artinya, Indonesia menghadapi dua arah arus perdagangan.

Pertama, produk halal dari luar negeri masuk ke Indonesia. Kedua, produk halal Indonesia masuk ke pasar internasional. Pada sisi impor, Indonesia perlu memastikan produk luar negeri memenuhi persyaratan yang berlaku. Pada sisi ekspor, pelaku usaha Indonesia membutuhkan akses pasar yang tidak dibebani proses verifikasi berulang ketika memasuki negara tujuan. Karena itu, sistem pengakuan lintas negara dapat menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan efisiensi perdagangan halal.

Tantangannya bukan sedikit

Namun, jangan membayangkan Halal Passport sebagai solusi yang bisa selesai hanya dengan membuat sebuah aplikasi. Ada beberapa pertanyaan fundamental yang harus dijawab. Pertama, siapa yang menjadi trusted authority?, Siapa yang memiliki kewenangan menerbitkan dan mencabut kredensial?, Kedua, bagaimana standar saling dikenali?, Apakah sertifikat dari satu negara otomatis diakui negara lain? Atau membutuhkan proses tambahan? Ketiga, bagaimana menangani perbedaan mazhab dan standar?

Perbedaan interpretasi dan persyaratan teknis harus dikelola melalui mekanisme yang transparan. Keempat, bagaimana menjaga data?Sistem digital harus mampu menjaga integritas data sekaligus melindungi informasi bisnis yang bersifat sensitif. Kelima, bagaimana menangani perubahan status? Sebuah produk dapat berubah pemasok, bahan, fasilitas produksi, atau status sertifikasinya. Maka, sistem harus mampu memperbarui status secara tepat waktu.

Inilah mengapa Halal Passport sebenarnya bukan sekadar proyek teknologi. Ia adalah proyek governance.

Halal Passport dan masa depan supply chain

Konsep ini juga mengubah cara kita melihat halal supply chain. Dalam sistem tradisional, perhatian banyak diberikan pada titik sertifikasi. Dalam sistem yang lebih terintegrasi, perhatian bergerak ke seluruh perjalanan produk, dari raw material, production, certification, inspection, logistic sampai ke konsumen. Setiap tahap menghasilkan informasi.

Jika informasi tersebut dapat terhubung secara aman dan dapat diverifikasi, maka integritas halal tidak lagi hanya berada pada dokumen, tetapi dapat menjadi bagian dari digital supply-chain assurance. Ini sekaligus menjelaskan mengapa penelitian mengenai halal supply chain semakin banyak bersinggungan dengan blockchain, traceability, artificial intelligence, IoT, dan digital transformation.

Dari halal certificate menuju halal trust

Pada akhirnya, Halal Passport bukan semata-mata tentang mengganti sertifikat kertas dengan sertifikat digital. Persoalan yang jauh lebih besar adalah trust. Ketika produk bergerak dari satu negara ke negara lain, konsumen tidak melihat proses audit yang dilakukan di negara asal.

Konsumen juga tidak mengetahui siapa auditor, laboratorium, atau lembaga sertifikasinya.Yang mereka miliki hanyalah informasi. Karena itu, semakin kompleks rantai perdagangan global, semakin penting sistem yang mampu menjadikan informasi tersebut mudah diverifikasi dan dipercaya.

H20 2026 menempatkan pembahasan Halal Passport dalam konteks mutual recognition, perdagangan, investasi, dan konektivitas ekosistem halal global.Ini menunjukkan bahwa diskusi halal mulai bergerak menuju pertanyaan yang lebih besar:

Bagaimana membangun satu ekosistem kepercayaan halal yang dapat bekerja lintas batas?

Apakah Halal Passport akan menjadi kenyataan? Belum ada alasan untuk mengatakan bahwa dunia sudah memiliki satu Halal Passport universal. H20 sendiri masih menggunakan bahasa “Towards Halal Passports” dan membahas aspek kepraktisan serta tata kelolanya. Namun justru di situlah menariknya.Sebuah gagasan besar biasanya dimulai dari pertanyaan:

“Bisakah kita membuatnya?” Kemudian berubah menjadi:

“Apa syarat agar sistem tersebut dipercaya?”

Dan akhirnya: “Bagaimana membuatnya bekerja lintas negara?”

Halal Passport berada di tahap penting tersebut. Jika pengakuan sertifikasi, harmonisasi data, digital traceability, dan kerja sama antarotoritas dapat berkembang, bukan tidak mungkin proses perdagangan produk halal di masa depan menjadi jauh lebih sederhana. Bukan karena semua negara memiliki satu sertifikat yang sama. Tetapi karena mereka memiliki jembatan kepercayaan yang memungkinkan sertifikat mereka saling dikenali. Dan mungkin, di situlah masa depan industri halal global sebenarnya sedang dibangun: bukan sekadar dari satu label ke label lainnya, tetapi dari satu sistem kepercayaan menuju sistem kepercayaan yang terhubung.

Semoga ide tentang halal passport ini bisa dikembangkan lebih jauh dan bisa implementasikan secara global.