Menapaki Titik Tertinggi Ilmu, Menemukan Jalan yang Lebih Dekat kepada Allah

Halal Supply Chain, HLARG, Pejuang Halal Nusantara, Pemburu Ilmu, Pengumpul Amal, Pendamping Halal, Green Productivity , Lean Manufacturing
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rizal Bahara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dalam kehidupan seorang Muslim, mencari ilmu bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah kewajiban. Sejak kecil hingga akhir hayat, Islam mengajarkan umatnya untuk terus belajar, memahami, dan menggali pengetahuan sebagai bekal menjalani kehidupan serta mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Banyak orang memandang pendidikan hingga jenjang doktoral (S3) sebagai puncak pencapaian akademik. Namun bagi seorang Muslim, gelar bukanlah tujuan utama. S3 hanyalah salah satu titik perjalanan dalam menuntut ilmu. Tujuan yang sesungguhnya adalah semakin mengenal kebesaran Allah SWT melalui ilmu yang dipelajari.

Mencari Ilmu Adalah Ibadah
Setiap langkah menuju ruang kuliah, setiap lembar jurnal yang dibaca, setiap malam yang dihabiskan untuk menyusun proposal, tesis, atau disertasi, sejatinya adalah bagian dari ibadah apabila diniatkan karena Allah SWT.
Seorang pemburu ilmu tidak hanya sedang mengumpulkan pengetahuan. Ia sedang membangun peradaban, memberi manfaat bagi sesama, dan menjalankan amanah yang telah diperintahkan oleh agama.
Karena itu, belajar tidak pernah sia-sia. Bahkan ketika hasil belum terlihat, setiap usaha yang dilakukan akan bernilai di hadapan Allah SWT.
Belajar Itu Tidak Mudah
Jalan menuju ilmu tidak selalu mulus. Ada saat-saat lelah ketika tubuh meminta istirahat tetapi tugas masih menumpuk. Ada masa ketika pikiran terasa buntu, data penelitian tidak sesuai harapan, atau revisi datang bertubi-tubi.
Banyak mahasiswa yang memulai perjalanan dengan semangat tinggi, tetapi tidak sedikit yang berhenti di tengah jalan karena merasa perjalanan terlalu berat.
Padahal sejak dahulu, para ulama besar mengajarkan bahwa ilmu adalah sesuatu yang mahal. Ia tidak dapat diraih hanya dengan keinginan, tetapi harus diperjuangkan dengan kesungguhan.
Kuliah Itu Perlu Perjuangan
Setiap mahasiswa memiliki cerita perjuangannya sendiri.
Ada yang harus membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan kuliah. Ada yang rela menempuh perjalanan jauh untuk menghadiri perkuliahan. Ada yang harus menyisihkan sebagian besar penghasilannya untuk biaya pendidikan.
Perjuangan itu sering kali tidak terlihat oleh orang lain. Namun justru di sanalah letak kemuliaannya.
Tidak ada gelar yang lahir dari kenyamanan. Setiap pencapaian akademik selalu dibangun di atas kerja keras, kedisiplinan, dan keteguhan hati.
Lulus Itu Perlu Pengorbanan
Kelulusan bukanlah hadiah yang datang begitu saja. Ia adalah buah dari pengorbanan.
Ada waktu bersama keluarga yang harus dikurangi. Ada hobi yang harus ditunda. Ada kenyamanan yang harus dilepaskan demi menyelesaikan tugas dan penelitian.
Namun pengorbanan yang dilakukan untuk ilmu tidak akan pernah menjadi kerugian. Sebab ilmu yang bermanfaat akan terus mengalirkan kebaikan bahkan setelah seseorang tidak lagi berada di dunia ini.
Musuh Nyata Adalah Kemalasan
Dalam perjalanan akademik, musuh terbesar sering kali bukan keterbatasan fasilitas, bukan sulitnya penelitian, bahkan bukan ketatnya persaingan. Musuh yang paling nyata adalah kemalasan.
Kemalasan membuat tugas yang seharusnya selesai hari ini tertunda hingga esok. Kemalasan mengikis semangat sedikit demi sedikit sampai akhirnya seseorang kehilangan arah.
Karena itu, melawan rasa malas adalah bagian penting dari perjuangan menuntut ilmu.
Musuh Terdekat Adalah Ketidakpercayaan Diri
Selain kemalasan, ada musuh lain yang sering bersembunyi di dalam diri, yaitu ketidakpercayaan diri.
Banyak mahasiswa yang sebenarnya memiliki kemampuan luar biasa, tetapi gagal berkembang karena terus meragukan dirinya sendiri.
"Mampukah saya menyelesaikan S2?"
"Bisakah saya menembus S3?"
"Apakah saya pantas menjadi doktor?"
Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul dan melemahkan langkah.
Padahal Allah SWT telah menciptakan manusia dengan potensi yang luar biasa. Ketika seseorang berusaha dan bertawakal, maka Allah akan membukakan jalan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Kunci Utamanya Adalah Mendekat kepada Yang Maha Mengetahui
Di atas semua strategi belajar, metode penelitian, dan manajemen waktu, terdapat satu kunci yang sering dilupakan, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ketika hati dekat dengan Allah, ilmu menjadi lebih mudah dipahami. Ketika hati dekat dengan Allah, kesabaran dalam menghadapi ujian menjadi lebih kuat. Ketika hati dekat dengan Allah, kegagalan tidak membuat putus asa dan keberhasilan tidak membuat sombong.
Shalat, doa, dzikir, sedekah, dan membaca Al-Qur'an bukanlah penghambat kesuksesan akademik. Justru itulah sumber kekuatan yang menjaga seseorang tetap istiqamah dalam perjalanan panjang menuntut ilmu.
Semakin Tinggi Ilmu, Semakin Dekat kepada Allah SWT
Hakikat ilmu bukanlah membuat seseorang merasa paling pintar. Hakikat ilmu adalah membuat seseorang semakin menyadari betapa luasnya pengetahuan Allah SWT dan betapa terbatasnya kemampuan manusia.
Semakin tinggi seseorang mendaki gunung ilmu, semakin ia menyadari bahwa masih banyak hal yang belum diketahuinya.
Gelar S1, S2, bahkan S3 bukanlah alasan untuk meninggikan diri. Sebaliknya, gelar tersebut seharusnya menjadikan seseorang semakin rendah hati, semakin bersyukur, dan semakin dekat kepada Allah SWT.
Karena pada akhirnya, puncak tertinggi pendidikan bukanlah saat nama seseorang ditambahkan gelar doktor di depan atau belakang namanya. Puncak tertinggi ilmu adalah ketika ilmu tersebut mampu mengantarkan pemiliknya semakin mengenal Allah SWT, semakin bermanfaat bagi sesama, dan semakin siap mempertanggungjawabkan ilmunya di hadapan Sang Maha Mengetahui.
Maka teruslah belajar, teruslah berjuang, dan teruslah mendekat kepada Allah SWT. Sebab perjalanan menuju gelar doktor mungkin memiliki garis akhir, tetapi perjalanan mencari ilmu dan mendekat kepada Allah tidak akan pernah berakhir hingga akhir hayat.
